Putri Bong Mini 1 - Sepasang Pendekar dari Selatan

11  
 
Di  pesisir utara Pulau Bangka, berdiri sebuah ru-
mah kuno yang sudah tidak utuh lagi. Di beberapa ba-
gian temboknya sudah banyak yang runtuh. Namun 
tembok yang mengelilinginya masih kelihatan kokoh, 
mirip sebuah benteng pertahanan. 
Bangunan kuno itu dihuni oleh seorang pemimpin 
yang bernama Bong Kian Fu, seorang keturunan 
Tionghoa berkebangsaan Manchuria. Ia berbadan pen-
dek, tetapi besar dan berotot. Rambutnya yang pan-
jang selalu diikat ekor kuda. Begitu pula janggutnya 
yang tipis dibiarkan panjang sampai sebatas dada. Se-
dangkan mata hitamnya yang sipit serta tajam itu 
memberikan suatu kesan keangkeran, sehingga ba-
nyak orang tak mampu beradu pandang lebih lama. 
Sebenarnya bukan hanya Bong Kian Fu sendiri 
yang menghuni rumah itu, tetapi juga ditemani oleh 
puluhan anak buah yang masih kelihatan muda dan 
gagah. Juga oleh putri satu-satunya yang bernama 
Bong Mini, berumur kurang lebih enam belas tahun. Ia 
diberi nama Bong Mini karena perawakannya yang 
mungil. 
Bong Mini mempunyai wajah yang sangat cantik. 
Berkulit putih mulus seperti kebanyakan wanita Tiong-
hoa. Di atas matanya yang hitam dan sipit, terukir alis 
mata yang lebat dan panjang. Mirip dengan bentuk 
ujung pedang. Rambutnya yang hitam dan panjang, 
selalu dibiarkan lepas tergerai dengan bagian depan-
nya disisir poni sebatas alis. Sedangkan bibirnya yang 
merah dan segar tampak selalu basah, sehingga siapa 
pun yang melihatnya pasti tertarik. 
Sebagai  gadis yang beranjak remaja sudah tentu  
Bong Mini ingin tampil menarik. Khususnya dalam hal 
memilih pakaian. Menurutnya, walaupun cantiknya 
seseorang bila tak ditunjang dengan pakaian yang rapi 
dan cocok, maka kecantikan itu akan kehilangan daya 
tariknya. Sehingga dalam berpakaian Bong Mini selalu 
memilih warna-warna yang sesuai kulitnya. Biru serta 
merah merupakan warna yang sangat ia sukai. 
Kehadiran Bong Kian Fu bersama pengikutnya di si-
tu, sebenarnya hanya merupakan pelarian. Waktu itu, 
di negerinya ia mengadakan pembangkangan terhadap 
kaisar dengan menolak pemungutan pajak pada ra-
kyat. Dia menilai bahwa jumlah pajak yang diminta 
kaisar terlalu besar dan ia tidak sampai hati untuk 
memeras harta rakyat yang sudah demikian miskin. 
“Ampun, Baginda! Hamba tak dapat melaksanakan 
perintah yang mulia!” ucap Bong Kian Fu ketika itu, 
saat ia menghadap kaisar tanpa upeti. 
“Kenapa?” tanya kaisar penuh amarah. 
“Upeti yang Tuanku minta terlalu besar jumlahnya. 
Sedangkan mereka sendiri hidup serba kekurangan. 
Hamba tidak sampai hati melaksanakannya!” jawab 
Bong Kian Fu dengan sikap hormat. 
Mendengar jawaban itu, kaisar bukan berpikir, tapi 
malah murka kepada Bong Kian Fu. Dengan mata me-
rah menahan marah, sang Kaisar berkata dengan ke-
ras, “Bong Kian, kamu tahu tugasmu di sini?!” 
“Hamba mengerti, Yang Mulia!” sambut Bong Kian 
Fu seraya membungkukkan badannya sebagai tanda 
hormat. 
“Kalau kamu mengerti, laksanakan perintahku!” 
hardik kaisar sambil mengacungkan tangannya. 
“Tapi...” 
“Bong Kian Fu, masalah rakyat adalah urusanku. 
Aku adalah raja di negeri ini. Sedangkan urusanmu  
mengikuti segala perintahku!” potong kaisar dengan 
suara berapi-api. 
“Baik, Tuanku! Hamba akan laksanakan!” setelah 
berkata begitu, Bong Kian Fu segera meninggalkan is-
tana raja. 
Sepulangnya Bong Kian Fu dari istana, ia segera 
mengumpulkan beberapa wakil rakyat di rumahnya. 
Para wakil rakyat yang datang ke sana saling ber-
pandangan dan saling bertanya mengenai undangan 
Bong Kian Fu itu. Sebab tidak biasanya orang keper-
cayaan kaisar seperti Bong Kian Fu mengumpulkan 
banyak orang di rumahnya. Biasanya ia bertemu rak-
yat kalau memungut upeti saja. 
“Aku mengucapkan terima kasih kepada para wakil 
rakyat Manchuria yang telah memenuhi undangan ini,” 
ucap Bong Kian Fu, membuka pertemuan. 
Para wakil rakyat yang berjumlah kurang lebih dua 
puluh orang itu duduk bersila dengan tegak sambil 
memandang sungguh-sungguh wajah Bong Kian Fu. 
“Aku mengundang Saudara semua ke sini karena 
ada sesuatu yang ingin dimusyawarahkan,” lanjut 
Bong Kian Fu lagi seraya menatap wajah orang-orang 
yang hadir satu persatu, ingin mengetahui reaksi me-
reka. 
“Sebagai rakyat Manchuria, kalian tak akan bisa ke-
luar dari upeti yang telah ditentukan oleh kaisar kita. 
Sedangkan ketentuan upeti itu terasa benar mencekik 
leher kita. Susah-payah kita menanam  padi dan me-
nuainya, tapi hasilnya diserahkan kepada raja. Begitu 
seterusnya tanpa ada perubahan. Sedangkan aku sen-
diri yang langsung memungut upeti kepada kalian me-
rasa tidak tega melihat penderitaan rakyat. Oleh kare-
na itu, hari ini kita harus mencari jalan keluarnya,” 
kata Bong Kian Fu mengajak. 
 
Orang-orang yang hadir di situ saling berpandangan 
satu dengan yang lain. Lalu kembali memandang Bong 
Kian Fu dengan wajah berseri. 
“Untuk menghindari upeti yang demikian banyak, 
tidak ada jalan lain bagi kita kecuali pergi dari negeri 
ini. Bagaimana, apa kalian setuju?” 
Orang-orang yang hadir kembali berpandangan, 
seolah-olah minta pendapat satu sama lain. 
“Apakah mungkin kita bisa keluar dari negeri ini, 
Kapten Kang?” tanya salah seorang yang hadir di situ. 
“Kenapa tidak? Apabila rakyat setuju dan bersatu, 
kita pasti bisa lolos dengan selamat. Walaupun harus 
berhadapan dulu dengan para prajurit raja,” jawab 
Bong Kian Fu memberi semangat. 
Orang-orang yang hadir di situ masih diam. Mereka 
saling menunggu komentar dari yang lain. 
“Bagaimana, setuju?” tanya Bong Kian Fu menatap 
mereka satu persatu. 
Mata mereka kembali saling berpandangan. Tidak 
ada yang berani menyahut Masing-masing menanti ja-
waban dari temannya. 
“Saya setuju, Kapten Kang,” cetus salah seorang 
yang hadir sambil mengacungkan telunjuknya ke atas. 
“Namun kami juga harus menghubungi yang lain.” 
Bong Kian Fu mengangguk-angguk. 
“Yang lain?” 
“Kami setuju!” sahut mereka serempak, akhirnya. 
Bong Kian Fu tersenyum senang dengan jawaban 
itu. Berarti gagasannya diterima. Tinggal menunggu 
kesepakatan penduduk lain yang tidak hadir di situ. 
“Baiklah. Sekarang kalian tinggal menghubungi 
penduduk lain. Kalau mereka setuju, kita segera pin-
dah. Kita sudah tidak punya waktu lagi untuk berta-
han lebih lama di sini,” kata Bong Kian Fu, menutup  
pembicaraannya. 
Setelah acara ditutup, orang-orang yang hadir da-
lam musyawarah tadi segera keluar untuk mendatangi 
rumah penduduk satu persatu. Membujuk agar mere-
ka mau meninggalkan Kerajaan Manchuria dan men-
cari penghidupan yang baru. 
Usul Bong Kian Fu untuk mengadakan pemberon-
takan dan lari dari negeri itu ternyata mendapat du-
kungan dari rakyat Mereka yang dulu membenci Bong 
Kian Fu karena menjadi utusan raja dalam pemungu-
tan pajak, kini bergabung dengan Bong Kian Fu. 
Untuk melaksanakan rencananya itu memang tidak 
begitu mudah. Bong Kian Fu bersama pengikutnya ha-
rus menghadapi puluhan prajurit raja yang mengha-
dang di sekitar pesisir laut, tempat Bong Kian Fu dan 
pengikutnya akan melarikan diri. 
Melihat puluhan prajurit raja yang berjajar mem-
buat pagar betis di sekitar tepi laut, Bong Kian Fu bu-
kannya takut, malah menjadi berang. Kegagahannya 
sebagai panglima perang ketika masih mengabdi pada 
raja kembali mencuat. Matanya yang hitam dan tajam 
yang selama ini membuat lawan gemetar, kini terlihat 
berkobar. 
“Mau apa kalian!” bentak Bong Kian Fu dengan su-
ara menggelegar. Wajahnya terlihat tegang menahan 
marah. 
Seorang utusan raja yang menggantikan Bong Kian 
Fu sebagai panglima perang tertawa terbahak-bahak. 
“Kami hendak mengikuti perintah kaisar!” jawab 
panglima perang itu setelah menghentikan tawanya. 
“Kalau kalian hendak menghalangi kepergian rakyat 
Manchuria, aku akan menentangnya!” ujar Bong Kian 
Fu tanpa rasa gentar sedikit pun. 
Panglima perang itu kembali tertawa terbahak-bahak. 
“Kau jangan mimpi, Bong Kian Fu. Dulu kau dis-
ebut Kapten Kang karena kehebatanmu menumpas 
musuh sebagai panglima perang. Dan kemenangan itu 
pun karena bantuan para prajurit raja. Jadi, sekarang 
ini kau tidak lagi mendapat sebutan Kapten Kang ka-
rena sebentar lagi sebutan itu akan kurebut!” teriak 
panglima perang yang baru itu. 
“Boleh saja kau menyandang gelar Kapten Kang ka-
lau kau mampu melangkahi mayatku!” tantang Bong 
Kian Fu dengan sikap tenang. Namun kata-kata yang 
keluar dari mulutnya terdengar begitu panas di telinga 
panglima perang. 
“Bangsat! Serbu...!” panglima perang itu memberi-
kan aba-aba kepada prajuritnya dengan suara yang 
menggelegar. 
Puluhan prajurit kerajaan yang sejak tadi duduk di 
punggung kuda dengan tombak panjang di tangan, se-
rentak menyerang Bong Kian Fu dan pengikutnya. Te-
riakan riuh rendah mengiringi suara derap langkah 
kuda. 
Bong Kian Fu bersama pengikutnya tidak tinggal di-
am. Bersama pengawal kepercayaannya Ashiong, 
Achen, dan Sang Piao segera disambutnya serangan 
itu dengan gesit. 
Trangngng! 
Puluhan senjata dari arah yang berlawanan saling 
beradu dengan keras. Mereka menangkis serangan 
masing-masing dengan lihainya. Pedang dengan tom-
bak atau pedang dengan pedang saling memapaki, 
menjaga hantaman senjata yang siap menerkam jiwa 
lawan. 
Bong Kian Fu yang ketika jadi panglima perang du-
lu, memang tidak sia-sia mendapat sebutan Kapten  
Kang. Kelincahan dan keberaniannya di medan perang 
sudah tak diragukan lagi. Setiap ayunan pedang yang 
diarahkan ke tubuh lawan selalu berhasil mengenai 
sasaran. Itulah  Bong Kian Fu. Di rumah ia menjadi 
seorang suami dan bapak yang baik dan lembut. Se-
dangkan di tengah peperangan, ia akan berubah men-
jadi singa lapar yang siap menerkam mangsanya. 
Brettt! Blesss! 
Pedang Bong Kian Fu yang telah banyak menelan 
korban kembali bersarang pada leher dan dada dua 
orang prajurit kerajaan. Sehingga dalam waktu sing-
kat, tubuh kedua orang prajurit itu rebah di perut bu-
mi dengan tubuh bersimbah darah. 
“Hei, Panglima pengecut, majulah! Jangan diam se-
perti kambing congek begitu!” teriak Bong Kian Fu, 
sengaja memanasi panglima kerajaan yang sejak tadi 
hanya duduk di punggung kuda sambil menyaksikan 
prajuritnya yang mati-matian membela diri. 
Mendengar teriakan Bong Kian Fu yang mengan-
dung ejekan itu, panglima perang segera menerjang ke 
arah Bong Kian Fu dengan wajah beringas penuh ma-
rah. 
“Hiaaat!” 
Panglima perang mengarahkan pedangnya ke tubuh 
Bong Kian Fu. Tapi karena Bong Kian Fu telah berpe-
ngalaman dalam peperangan, serangan panglima itu 
dapat digagalkan dengan meloncat dari punggung ku-
da. Lalu segera berdiri tegak di atas tanah dengan ga-
gah, siap menghadapi serangan lawan. 
Menyadari dirinya dalam posisi yang menguntung-
kan, panglima segera menerjang Bong Kian Fu bersa-
ma kudanya. 
“Hiaaat!” 
Bong Kian Fu mengelak dengan bertiarap sambil  
mengarahkan pedangnya mendatar, hingga menggores 
kaki kuda. Membuat kuda tunggangan panglima me-
lompat-lompat sambil meringkik menahan sakit. 

*** 

Bong Mini yang sejak tadi menyaksikan pertempu-
ran itu menjadi terkagum-kagum melihat kepandaian 
papanya dalam memainkan pedang. Ingin ia turut ser-
ta ke medan pertempuran itu, tapi ia ingat mamanya 
harus ditemani. Sehingga ia tetap duduk di kereta ku-
da, di samping mamanya. 
Brettt! 
Tiba-tiba tirai penutup kereta kuda dirobek orang. 
Ternyata orang yang merobek tirai kereta kuda itu seo-
rang prajurit raja. Dia tampak duduk di atas kuda 
sambil menyeringai ke arah Bong Mini. 
“Benar-benar cantik putrinya Kapten Kang,” ucap 
prajurit itu sembari menjilat bibirnya. 
Bong Mini yang melihat kehadiran prajurit raja itu 
menjadi pucat Duduknya menggeser ke belakang. Bu-
kan karena takut, melainkan untuk menjaga kesela-
matan mamanya.. 
“Mari, kita bersembunyi di rumahku!” kata prajurit 
itu sambil terus menyeringai. “Tidak baik wanita cantik 
seperti kalian berada di medan pertempuran.” 
Bong Mini melotot geram. Wajahnya yang cantik 
dan putih itu berubah merah menahan marah. 
“Wah, gadis cantik sepertimu kalau marah pasti 
bertambah cantik,” rayu prajurit itu seraya mendekat. 
“Menjauhlah kamu. Aku akan bersikap keras kalau 
kau mengganggu kami!” bentak Bong Mini dengan me-
lototkan matanya. 
Prajurit itu tertawa berderai. Dan pada kesempatan 
itu, Bong Mini melancarkan serangan dengan menen- 
dang dada sang Prajurit. 
Bug! 
Prajurit yang tertawa tadi terpental dari punggung 
kuda sambil menahan sakit di dadanya. Sedangkan 
dari mulutnya menetes darah segar, akibat tendangan 
Bong Mini yang begitu keras. 
“Bocah perempuan sialan! Dibujuk halus malah ku-
rang ajar!” kata prajurit itu sambil mengusap darah 
yang ada di mulutnya. Kemudian dengan wajah tegang 
menahan marah, kakinya melangkah mendekati Bong 
Mini. 
“Mama, diamlah di sini. Saya akan membereskan 
prajurit yang genit ini,” kata Bong Mini kepada ma-
manya. Tubuhnya langsung meloncat keluar dari kere-
ta kuda, siap untuk bertempur. 
“Sebaiknya Nona menyerah saja. Sia-sia perlawanan 
Nona,” tiba-tiba terdengar suara lelaki dari arah bela-
kangnya. Dan ketika menoleh, wajahnya berubah me-
merah. Sebab lelaki itu seorang prajurit kerajaan. Be-
rarti ia menghadapi dua orang lawan sekaligus. 
Tanpa diduga oleh prajurit tadi, Bong Mini melan-
carkan serangan berupa tendangan, dan tepat bersa-
rang pada daerah larangan. Sehingga prajurit itu men-
gaduh sambil memegangi ‘burung’ kesayangannya. 
Melihat temannya meringis-ringis di tanah, prajurit 
yang mengeluarkan darah dari mulutnya menjadi naik 
pitam. Ia menyerang Bong Mini dengan beringas. 
Bong Mini yang memang sudah menguasai jurus-
jurus ilmu papanya, dengan mudah dapat menghindari 
serangan lawan itu. Lalu tubuhnya bersalto sambil me-
lancarkan serangan balik. Tapi kali ini serangannya 
sia-sia karena musuhnya dengan mudah dapat meng-
hindar dengan berkelit ke samping. Dan ketika ia ber-
diri tegak, di hadapannya telah berdiri tiga orang pra- 
jurit lain. Jadi, kini ia berhadapan dengan empat orang 
lawan. 
Hm, aku harus sungguh-sungguh melawan mereka, 
gumam Bong Mini dalam hati. Lalu dengan gerak yang 
tangkas ia mencabut pedang yang tersandang di pung-
gungnya. 
“Sebaiknya batalkan saja niatmu itu, Nona!” saran 
seorang prajurit yang baru datang itu. 
“Cih!” Bong Mini meludah geram. “Majulah kalau 
kalian memang laki-laki!” 
“Saya tidak ingin melukai tubuh Nona yang mulus 
itu. Saya hanya ingin membawa Nona dan melindungi,” 
kata prajurit tadi. . 
“Puih! Dasar banci. Maunya hanya berhadapan 
dengan perempuan,” kata Bong Mini sambil pura-pura 
meninggalkan arena pertempuran. Tapi ketika para 
prajurit itu hendak memburu dan merejangnya, satu 
tendangan yang begitu cepat mendarat pada tubuh 
seorang prajurit, disusul dengan sabetan pedangnya. 
Brettt! 
Ujung pedang Bong Mini menebas perut seorang la-
wan. Sehingga pada detik itu juga, prajurit yang ter-
kena sabetan pedangnya jatuh tersungkur dengan isi 
perut yang hampir keluar. 
Melihat temannya mati mengenaskan, ketiga praju-
rit lain menjadi naik pitam. 
“Aku tidak menyangka, perempuan secantikmu ber-
hati iblis!” geram salah seorang lawannya sambil terus 
menerjang ke arah Bong Mini. Kali ini serangan ketiga 
lawannya tidak main-main. Tapi sebagai orang yang 
sudah terlatih dengan jurus-jurus silat, Bong Mini da-
pat mengelakkan serangan-serangan itu dengan baik. 
Walaupun ia merasa cukup kewalahan. 

*** 
 
Bong Kian Fu terus menahan serangan-serangan 
lawan sambil sesekali melakukan serangan. Hal itu bu-
kan karena ketangguhan panglima, melainkan karena 
ia diserang oleh lima orang lawan yang mengelilinginya. 
“Umurmu hanya sampai di sini, Bong Kian!” kata 
panglima itu, siap mengayunkan pedangnya ke arah 
Bong Kian Fu yang semakin terdesak. Tapi ketika ma-
tanya melihat ada perempuan di dalam kereta kuda, 
niatnya segera diurungkan. 
“Istrimu cantik juga, Bong Kian,” ucap panglima itu 
sambil terus melesat ke arah kereta kuda. 
Wajah Bong Kian Fu menjadi merah mendengar 
ucapan panglima itu. Lalu ia berusaha keluar dari ke-
pungan para lawan untuk menyelamatkan istrinya. 
Tapi karena serangan empat lawannya begitu ketat 
membuat ia terhalang untuk mendekati kereta kuda 
yang dipakai istrinya. 
“Tolong! Bong Mini! Papa, tolooong!” 
Bong Mini yang tengah sibuk melawan tiga prajurit 
raja menoleh ke arah kereta kuda. Di sana ia melihat 
mamanya tengah dirangkul paksa oleh panglima. 
“Bangsat. Panglima bejat!” geram Bong Mini sambil 
meluruk ke arah mamanya yang sudah berada di atas 
pundak panglima. Siap untuk dibawa lari. 
Langkah Bong Mini terhalang oleh serangan ketiga 
lawannya. Sehingga ia terpaksa harus meladeni ketiga 
lawannya itu dengan ganas. Kilatan-kilatan pedangnya 
menari-nari di udara saat tertimpa cahaya matahari. 

*** 

Sinyin meronta-ronta dalam dekapan panglima. Te-
tapi semakin ia meronta, semakin kuat panglima me-
meluknya sambil terus berusaha untuk menciumi wa- 
jah Sinyin yang memang cantik dan menggiurkan. 
Ketika panglima kerajaan begitu bernafsu hendak 
mencumbui Sinyin, tiba-tiba mulutnya berteriak kesa-
kitan sambil melepaskan pelukannya. Ternyata Sinyin 
berhasil menggigit bibir panglima dengan keras. 
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Sinyin se-
gera melepaskan diri dari pelukan panglima. Ia berlari 
sekencang-kencangnya. Namun karena ia seorang pe-
rempuan yang tidak mempunyai kepandaian silat, ak-
hirnya ia tersusul oleh panglima. 
“Kau tidak akan dapat meloloskan diri dari deka-
panku, Perempuan Cantik,” kata panglima sambil ter-
kekeh-kekeh. 
“Jangan! Jangan sentuh aku!” Sinyin mundur keta-
kutan ketika panglima itu melangkah mendekatinya. 
Panglima kerajaan itu kembali terkekeh-kekeh. 
“Hanya lelaki bodoh yang melepaskan perempuan 
cantik begitu saja!” desis panglima itu sambil mende-
kap tubuh Sinyin dan merobek baju yang dikenakan-
nya. 
Brettt! 
Baju bagian depan Sinyin terbuka. Sehingga da-
danya yang membusung ke depan jelas terlihat oleh 
panglima. 
Panglima itu semakin tergetar hatinya melihat ke-
montokan dada Sinyin. Dengan jiwa yang sudah diku-
asai nafsu iblis ia segera menjarah tubuh Sinyin. Ia be-
rusaha untuk dapat menyentuh dua buah bukit yang 
putih dan montok itu. 
Sinyin terus meronta-ronta sambil berusaha melin-
dungi dua buah bukitnya. Tapi apa yang dilakukannya 
sia-sia. Karena setiap kali Sinyin berontak, saat itu pu-
la birahi panglima terangsang. 
Sinyin benar-benar tak berdaya. Tenaganya sudah  
habis terkuras. Panglima mempergunakan kesempatan 
itu sebaik-baiknya untuk melucuti pakaian Sinyin 
dengan tenang. Namun ketika ia hendak menggagahi, 
tiba-tiba pedang yang ditaruhnya di sisi Sinyin berge-
rak menembus perutnya. 
“Akh!” teriak panglima menahan rasa sakit. “Perem-
puan jahanam!” maki panglima itu sambil mengayun-
kan pukulan ke arah Sinyin dan tepat mengenai ulu 
hatinya. Sehingga darah tersembur dari mulut Sinyin 
disertai teriakan yang mengenaskan. Dan pada saat itu 
pula tubuh Sinyin ambruk tak berdaya. 
Bertepatan dengan ambruknya Sinyin, tiba-tiba se-
buah pukulan yang cukup keras mendarat di pung-
gung panglima. Tubuhnya langsung terhuyung lalu ja-
tuh. Tapi kemudian ia cepat bangkit dan memandang 
orang yang memukulnya. Ternyata seorang gadis can-
tik sedang berdiri menantang dengan gagahnya. 
“Lelaki biadab! Rasakanlah seranganku ini!” teriak 
Bong Mini sambil melancarkan serangan. Tapi tidak 
berhasil. Membuat ia semakin bernafsu, ia terus me-
lancarkan serangan dengan membabi buta. 
“Mundurlah anakku. Biar papa yang menghadapi 
tikus busuk ini!” tiba-tiba Bong Kian Fu berdiri di sam-
ping Bong Mini dan langsung menerjang panglima. 
Panglima prajurit yang sudah terkena tusukan pe-
dang oleh Sinyin menjadi gusar. Tapi karena tubuhnya 
sudah agak sempoyongan akibat banyak mengelua-
rkan darah, ia tidak dapat berbuat banyak. 
Brettt! 
Pedang Bong Kian Fu menebas leher panglima de-
ngan cepat dan keras. Seketika itu juga kepala pang-
lima terpisah dan badannya. 
Bong Kian Fu berdiri tegak menyaksikan kepala 
musuhnya dengan hati puas. Setelah itu melangkah  
menghampiri Bong Mini yang tengah menutup mu-
kanya. Gadis itu tidak kuasa melihat kematian pang-
lima yang mengerikan. 
“Di mana mamamu, Sayang?” Bong Kian Fu me-
nyentuh kedua bahu putrinya. 
Bong Mini tidak menjawab. Ia menyandarkan tu-
buhnya ke dalam pelukan papanya sambil melangkah 
lesu ke tempat tubuh ibunya terkapar bersama ayah-
nya tercinta. 
Bong Kian Fu menitikkan air matanya ketika meli-
hat istri yang dicintainya itu sudah tak bernyawa lagi. 
Begitu pula dengan Bong Mini. Dia menangis terisak-
isak sambil memeluki tubuh Sinyin. 
“Mama. Maafkan saya, Mama,” isak Bong Mini. Ia 
merasa menyesal karena terlambat menyelamatkan ji-
wa mamanya yang dicintainya itu. 
Beberapa saat suasana menjadi hening. Hanya isak 
tangis Bong Mini saja yang terdengar. 
“Sudahlah, Sayang. Kematian mamamu merupakan 
kematian yang terhormat Mama mati karena memper-
tahankan kehormatannya,” ucap papanya. Sesungguh-
nya ia sendiri tak tahan melihat kematian istrinya itu. 
“Mama tidak akan bersama-sama kita lagi, Papa,” 
ucap Bong Mini sendu. Air matanya begitu deras me-
ngalir. Meliuk-liuk di pipinya bagai sungai yang men-
cari lautan bebas. 
“Tapi cinta dan kasih sayangnya akan tetap melekat 
di hati kita, Sayang,” sahut papanya dengan suara ter-
sendat menahan tangis. 
Bong Mini tak tahan mendengar kata-kata papanya. 
Ia mengangkat wajahnya dan menjatuhkan kepalanya 
dalam pelukan papanya sambil menangis tersedu-
sedu. 
Setelah beberapa lama kedua bapak dan anak ini  
dicekam oleh keharuan, akhirnya mereka membawa 
mayat Sinyin menuju kapal kerajaan yang berhasil me-
reka rampas untuk dibawa ke pesisir Pulau Bangka. 
Sedangkan di pinggir pantai, mayat-mayat tampak ber-
gelimpangan bagai ikan laut yang terdampar. 
 
*** 
 
22  
 
“Di sini kita akan memulai hidup baru. Dan hari ini 
pula, gelar Kapten Kang akan kucabut dan kuganti 
dengan Bongkap. Karena di tempat ini, aku yang akan 
memimpin kalian!” seru Bong Kian Fu ketika mereka 
telah berada di pesisir Pulau Bangka. Ia menobatkan 
dirinya sebagai Bongkap yang berarti raja. 
“Hidup Bongkap! Hidup Bongkap!” teriak para peng-
ikutnya sambil mengacung-acungkan tangan. Sedang-
kan wajah mereka tampak begitu gembira karena telah 
terbebas dari upeti raja yang begitu mencekik leher 
mereka. 
Dengan resminya Bong Kian Fu menjadi raja, maka 
seluruh pengikutnya pun mulai membenahi diri. Se-
mak belukar yang rimbun di sekitar bangunan kuno 
itu dibersihkan dengan cara bergotong-royong. Rimbu-
nan ilalang yang tumbuh tinggi tak beraturan dipo-
tong. Sebagian pepohonan besar pun telah mereka 
pangkas, agar cahaya matahari bebas bersinar ke tem-
pat yang sekian lama tenggelam dalam bayangan ke-
lam dan lembab karena tak dihuni oleh seorang manu-
sia pun. Terkecuali satu kilo meter dari tempat me-
reka, banyak rumah penduduk berdiri dengan tanah 
halaman yang luas. 
 
Setelah tanah yang sebelumnya tak terurus itu di-
bersihkan, kemudian mereka sama-sama mengumpul-
kan batu bata, semen, pasir, balok-balok kayu, gen-
teng atau atap rumbia. Lalu mereka bahu-membahu 
mendirikan rumah-rumah sebagai tempat tinggal me-
reka nanti. Tua-muda, laki-perempuan, semua bekerja. 
Sehingga tak heran dalam waktu yang tak begitu lama, 
rumah-rumah itu telah berdiri rapi. Termasuk rumah 
kuno sebagai tempat tinggal Bongkap, Bong Mini, para 
dayang, dan beberapa orang pengawalnya. Malah re-
runtuhan benteng rumah itu dipugar, sehingga tembok 
benteng itu kembali berdiri dengan kokoh. 
Walaupun ia menjadi raja bagi para pengikutnya, 
Bong Kian Fu atau Bongkap hampir setiap hari mem-
pelajari kehidupan penduduk pribumi secara sem-
bunyi-sembunyi. Ia mencoba mempelajari dan me-
ngenal kebiasaan atau adat-istiadat mereka, serta be-
rusaha mengerti pikiran mereka. 
Pada akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa 
penduduk negeri itu merupakan orang-orang yang se-
derhana. Tidak seperti mereka yang tinggal di negeri 
asalnya, Tiongkok. Di sana rakyatnya cerdik dan pe-
nuh dengan sikap curiga. Hal ini disebabkan karena 
kelaparan yang terus melanda dan perjuangan yang 
tanpa ampun untuk hidup mereka. 
Berbeda dengan di sini, di sekitar pesisir Pulau 
Bangka ini rakyatnya terlihat kuat dan perkasa, walau-
pun agak polos. Hal yang mereka tahu hanyalah ten-
tang perkebunan lada. Mereka hanya paham pada ke-
perluan perutnya saja. Di luar itu mereka sama sekali 
tidak tahu. Apalagi tentang ilmu bela diri, mereka be-
nar-benar buta. Ini disebabkan karena mereka hidup 
serba kecukupan. 

Ketika pagi hari Bongkap berkeliling kampung dan  
melihat perkebunan lada mereka, ia nampak terlihat 
mengangguk-angguk dan tersenyum melihat kesung-
guhan penduduk kampung dalam bekerja. Dengan te-
rengah-engah dan tubuh bercururan keringat, mereka 
terus bekerja sampai waktu matahari tenggelam di 
ufuk timur. 
Pada suatu hari, ketika musim kemarau panjang te-
lah tiba, para penduduk tampak begitu ketakutan. Ka-
rena bibit lada yang mereka tanam tidak menghasilkan 
apa-apa. Bibit-bibit lada yang tumbuh mulai berubah 
warnanya. Lalu perlahan-lahan kering dan mati. 
Dalam keadaan seperti itu, penduduk mulai dilanda 
kegelisahan. Hampir tiap hari di antara mereka terjadi 
perkelahian memperebutkan air untuk mengairi sa-
wahnya dari sebuah sungai yang juga tengah dilanda 
kekeringan. Bahkan tidak sedikit para penduduk yang 
kehilangan ternak atau hasil ladangnya. 
Kemiskinan dan kelaparan itu bukan saja melanda 
penduduk asli Pulau Bangka, tetapi juga melanda ra-
kyat yang berasal dari negeri Manchuria. Hampir se-
tiap hari mereka mengeluh dan menangis karena tidak 
mendapatkan makanan. Sedangkan harta kerajaan 
yang berhasil dirampas Bongkap telah habis untuk ke-
butuhan mereka sehari-hari. 
Mendapat kenyataan itu, Bongkap tidak sampai ha-
ti. Ia tidak ingin rakyatnya menderita. Ia juga tidak in-
gin mereka saling baku hantam karena rasa lapar yang 
mencekam. Ia harus bertanggung jawab untuk menye-
jahterakan rakyat yang dipimpinnya. Karena dialah 
yang telah mengajak mereka untuk berpindah tempat. 
Maka pada suatu malam, ketika Bong Mini telah 
tertidur lelap, diam-diam ia bersama pengawal keper-
cayaannya pergi mengarungi Selat Malaka. Di sana 
mereka melakukan aksi perampokan terhadap kapal- 
kapal saudagar yang membawa barang-barang berhar-
ga. 
“Serbuuu!” Bongkap memberikan aba-aba kepada 
para prajuritnya untuk menyerbu setelah berhasil me-
rapatkan kapalnya ke kapal saudagar itu. 
Dengan serta-merta, para prajurit kepercayaan 
Bongkap keluar dari kapalnya dan berloncatan ke kap-
al saudagar bersama Bongkap sendiri. 
Mendapat serbuan yang tidak diduga ini para pe-
ngawal kapal barang milik saudagar menjadi terkejut. 
Mereka berdiri serentak sambil mencabut pedang dan 
golok masing-masing, siap mengadakan perlawanan. 
“Siapa kalian?” tanya salah seorang pengawal kapal 
yang ternyata pemimpinnya. 
Bongkap tersenyum sinis mendengar pertanyaan 
itu. 
“Namaku Bongkap. Penguasa Pantai Selat Malaka 
ini!” jawab Bongkap dengan suara berwibawa. 
“Lalu  apa maumu menyerbu kapal kami?!” bentak 
pemimpin pengawal kapal itu. 
Bongkap tertawa terbahak. Lalu kembali terdiam 
mengamati wajah lawannya. 
“Tidak ada penyerbuan bila tidak ada maksud!” ja-
wab Bongkap dengan sikap tenang. 
“Kalian ingin menghalangi perjalanan kami?” 
“Tidak!” jawab Bongkap cepat. 
“Lalu?” 
“Kami hanya menginginkan barang-barang yang ada 
dalam kapal ini. Setelah itu kalian boleh melanjutkan 
perjalanan kembali!” kata Bongkap dengan sikap yang 
tetap tenang dan penuh wibawa. 
“Sudah aku duga bahwa kalian adalah para peram-
pok!” 
“Mungkin. Tapi saudagar kalian juga seorang pe- 
rampok!” jawab Bongkap, masih dalam keadaan te-
nang. 
“Kamu lancang!” geram pemimpin pengawal kapal 
itu. 
Bongkap tersenyum mengejek. 
“Membeli hasil perkebunan rakyat dengan harga 
murah dan secara paksa, bukankah itu perampokan?” 
sindirnya. 
Telinga lelaki di hadapannya terasa panas seperti 
dibakar ketika mendengar kata-kata Bongkap. Ma-
tanya mendadak merah menahan marah. 
“Bangsat! Kalian telah menghina saudagar kami. 
Serang mereka!” perintah pemimpin pengawal kapal 
itu. 
“Berhenti!” sergah Bongkap pada para pengawal ba-
rang yang hendak menyerangnya. “Kalau kalian me-
nyerang kami, itu berarti telah lebih dahulu melaku-
kan perampokan terhadap diri kami!” 
“Jangan dengarkan omongannya yang busuk itu. 
Cepat serang!” perintah pemimpin pengawal itu. 
Para pengawal kapal barang saudagar yang berjum-
lah dua puluh orang itu segera menyerbu para prajurit 
Bongkap yang berjumlah sepuluh orang. Mereka berte-
riak-teriak sambil mengayun-ayunkan golok dan pe-
dang ke arah lawan. 
Prajurit Bongkap tidak tinggal diam. Mereka me-
nyambut serangan-serangan itu dengan pedang yang 
tergenggam di tangan mereka masing-masing . 
“Lawan mereka! Tapi jangan sampai mematikan!” 
teriak Bongkap kepada anak buahnya yang sedang si-
buk  memberikan perlawanan. Tapi karena para pe-
ngawal kapal begitu bernafsu hendak menjatuhkan la-
wannya, terpaksa anak buah Bongkap pun melakukan 
kekerasan untuk melindungi diri dari serangan lawan  
yang mematikan itu. 
Brettt! 
Pedang milik seorang anak buah Bongkap merobek 
pakaian lawan sampai tembus ke tubuhnya. Seketika 
itu juga, pengawal kapal yang terkena sabetan ujung 
pedang anak buah Bongkap terhuyung jatuh sambil 
memegangi perutnya yang tersayat mengeluarkan da-
rah. Lalu diam tak berkutik lagi. 
Melihat kematian seorang lawannya, Bongkap men-
jadi gusar. Sebab ia tidak menginginkan pertumpahan 
darah. Ia hanya menginginkan barang-barang yang 
ada dalam kapal itu, bukan jiwa. Maka untuk mengu-
rangi jatuhnya korban, Bongkap segera menerjang pe-
mimpin pengawal itu dan mengajaknya bertanding. 
Pemimpin pengawal kapal barang itu segera menca-
but pedang ketika Bongkap berdiri di hadapannya. La-
lu segera menerjang Bongkap dengan bengis. 
Trangngng! 
Pedang Bongkap dengan pedang lawannya saling 
beradu. Mereka saling menangkis dan melakukan se-
rangan, sama-sama ingin menjatuhkan lawan. 
“Kau punya keahlian bermain pedang rupanya,” ka-
ta Bongkap sambil terus berkelit menghindari se-
rangan-serangan yang dilancarkan lawan. 
“Kamu kira hanya kau saja yang pandai!” sahut la-
wannya sambil terus melakukan serangan dengan gen-
car. Darahnya semakin menggelegak mendengar uca-
pan Bongkap yang setengah mengejek itu. 
“Tapi kau harus banyak latihan lagi agar tidak me-
ngurus tenaga seperti itu!” kata Bongkap lagi, me-
mancing emosi lawannya. 
Mendengar ejekan Bongkap, wajah pemimpin pe-
ngawal kapal barang itu menjadi merah. Baru kali ini 
ada orang yang berani mengejekku, pikirnya.  
Wettt! 
Pedang pemimpin pengawal kapal barang itu me-
nyerang ke arah kaki Bongkap. Tapi Bongkap dapat 
melihat serangan lawannya dengan cermat. Tubuhnya 
bersalto dan kembali berdiri tegak menghadap lawan. 
“Kita cepat selesaikan saja pertandingan ini. Aku ti-
dak sampai hati melihat anak buahmu terkapar ber-
simbah darah,” ucap Bongkap. 
“Bangsat!” hardik lawannya geram. Ia menyerang 
dengan gigihnya. Ia begitu bernafsu hendak memati-
kan Bongkap. Tapi Bongkap sebagai orang yang ber-
pengalaman di medan perang dan berjaya sebagai  
panglima kerajaan ketika di Manchuria, tentu saja ti-
dak mudah untuk ditaklukkan. Apalagi oleh seorang 
lawan yang kepandaiannya sudah terbaca. Maka un-
tuk mempersingkat waktu dan tidak membuang-buang 
tenaga, Bongkap segera menyerang lawannya dengan 
sungguh-sungguh. 
Brettt! 
Dengan cepat pedang Bongkap menyambar bahu 
lawannya hingga putus. 
Pemimpin pengawal kapal barang itu meringis ke-
sakitan, seraya memegangi bahu kanannya yang ba-
nyak mengeluarkan darah. Sedangkan pedangnya ter-
lepas bersama tangannya. 
“Sudah kukatakan, kau harus banyak berlatih agar 
permainan pedangmu lebih mahir lagi,” kata Bongkap 
sambil mendekati lawannya yang sedang terduduk di 
sudut kapal sambil menahan rasa nyeri. 
“Cukup!” Bongkap segera rnemberi aba-aba kepada 
anak buahnya yang masih gigih bertarung. 
Seketika itu juga, dentingan senjata tidak terdengar 
lagi. Baik anak buah Bongkap maupun lawannya ber-
henti melakukan serangan. Mereka serentak meman- 
dang ke arah Bongkap. 
“Aku tidak ingin menambah banyak korban. Kalian 
tinggal pilih; menyerahkan barang-barang yang ada 
dalam kapal ini atau nasib kalian seperti pemimpinmu 
ini!” kata Bongkap sambil mengangkat tangan kiri pe-
mimpin pengawal kapal barang dan memperlihatkan 
luka lelaki itu kepada para anak buahnya. 
Melihat pimpinan mereka sudah tidak berdaya de-
ngan tangan yang terputus, para pengawal itu menja-
tuhkan diri dan bersujud mengakui kekalahannya di 
hadapan Bongkap. 
Bongkap tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia se-
gera mendudukkan kembali pemimpin pengawal kapal 
dan menyuruh para pengawal kapal saudagar untuk 
memindahkan barang-barang yang ada dalam kapal 
itu ke kapalnya. 
Dengan penuh rasa takut, para pengawal barang 
segera mengikuti perintah Bongkap untuk mengangkut 
barang-barang milik saudagarnya ke kapal Bongkap. 
Sedangkan Bongkap dan anak buah hanya memperha-
tikan kerja mereka saja sambil sesekali meneliti ruan-
gan kapal, khawatir masih ada barang-barang  yang 
tersembunyi. 
Setelah seluruh barang yang ada dalam kapal sau-
dagar itu dipindahkan ke kapal Bongkap, hingga tidak 
tersisa lagi, anak buah Bongkap pun segera berlonca-
tan ke kapalnya dengan gerakan yang gesit dan ringan. 
“Terima kasih atas bantuan kalian. Dan sampaikan 
salamku kepada saudagarmu!” seru Bongkap kepada 
para pengawal kapal barang itu. Setelah berkata begi-
tu, lalu tubuhnya segera melesat menuju kapalnya. 
Disaksikan oleh para pengawal kapal barang dengan 
pandangan mata yang takjub. 

*** 
 
Sementara itu, Bong Mini masih tergolek di atas 
ranjang. Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Ia ter-
bangun karena mendapat mimpi bertemu dengan Si-
nyin, mamanya. Dalam mimpi itu Bong Mini melihat 
mamanya tersenyum manis padanya. Lalu perlahan 
mamanya melangkah menghampirinya dan berkata, 
“Jaga dirimu dan papamu baik-baik, anakku! Tegurlah 
papa jika melakukan kesalahan. Engkaulah satu-
satunya pengganti mama yang menyayangi papa!” usai 
berkata begitu, mamanya kembali melangkah menjau-
hi Bong Mini kemudian lenyap. Bersamaan dengan le-
nyapnya mamanya, Bong Mini terjaga dari tidur. 
“Mama?” keluh Bong Mini sambil menyebarkan 
pandangannya ke seluruh ruangan kamar. Tetapi ia 
tidak mendapatkan wanita yang dicarinya. Kemudian 
ia mengeluh sambil membaringkan tubuhnya di atas 
ranjang. Matanya menatap sayu langit-langit kamar. 
“Mama. Kenapa mama pergi lagi?” desah Bong Mini. 
Matanya mulai mengeluarkan telaga bening. Lalu me-
ngalir membasahi kedua pipinya, meliuk-liuk bagai 
anak sungai yang mengalir menuju muara. 
Perlahan-lahan Bong  Mini bangkit dari ranjangnya 
dan melangkah menuju jendela kamar. Dikuakkannya 
jendela kamar itu. Di sana hanya terlihat kegelapan 
malam yang menyelimuti bumi. Pepohonan yang tum-
buh di sekitar tempat itu pun menjadi suram. Tak jelas 
bentuknya karena diselimuti kepekatan. 
Bong Mini berdiri tercenung di muka jendela itu. 
Membiarkan anak rambutnya menghalangi pandangan 
karena terhela hembusan angin malam yang terasa 
dingin sampai ke tulang sum-sum. 
Tatapan mata Bong Mini terus tertuju pada kegela-
pan malam. Begitu sendu dan kosong. Karena piki-
rannya masih mengawang pada pertemuan dengan  
mamanya di alam mimpi. Ingin rasanya ia bertemu lagi 
dengan mamanya lebih lama. Tapi tidak mungkin. Dan 
kehadiran mamanya di alam mimpi itu pun hanya se-
cara kebetulan saja, tanpa ia sengaja. 
Dalam lamunannya malam itu, tiba-tiba ia teringat 
pesan mamanya dalam mimpi tadi bahwa ia disuruh 
menjaga papanya dengan kasih sayang dan menegur-
nya bila berbuat kesalahan. 
Pantaskah itu? Beranikah ia menegur papanya jika 
berbuat salah? Sedangkan ia sendiri masih berada da-
lam asuhan dan didikan papanya. 
Bong Mini menghela napas dalam. Ditutupnya kem-
bali daun jendela itu. Kemudian kakinya melangkah 
keluar kamar. Berjalan perlahan ke ruangan depan, 
khawatir membangunkan papanya. 
Sampai di ruang depan, Bong Mini kembali terce-
nung. Ia merasa ada satu kejanggalan dalam rumah 
itu. Matanya tidak melihat orang-orang kepercayaan 
papanya. 
Mungkin di luar, pikir Bong Mini sambil membuka 
pintu. Namun ketika ia melongok keluar, di sana pun 
ia tidak mendapatkan pengawal papanya seorang pun 
juga. Ke mana perginya mereka? 
Tiba-tiba Bong Mini mempunyai firasat yang tidak 
enak dengan tidak adanya pengawal rumah itu. Lalu ia 
menutup kembali pintu rumah dan melangkah menuju 
kamar papanya. 
Pelan-pelan Bong Mini membuka pintu kamar pa-
panya. Lalu ia tercenung di muka pintu kamar itu 
sambil menatap ke arah ranjang papanya. Dan di da-
lam keremangan kamar itu, Bong Mini tidak menda-
patkan papanya di sana. Ranjang itu kosong. Hanya 
ada guling dan beberapa buah bantal yang berserakan. 
Ke mana perginya papa? Tanya batin Bong Mini. 
 
Wajahnya mulai menampakkan gelisah. Lalu ia buru-
buru ke kamar belakang untuk menemui para dayang. 
Sesampainya di kamar belakang, dilihatnya ketiga 
dayang sedang tertidur pulas. 
“Bi.... Bibi!” panggil Bong Mini, membangunkan seo-
rang dayangnya. 
Dayang yang dibangunkan tadi segera terbangun 
dan langsung duduk ketika melihat kehadiran Bong 
Mini. 
“Ada apa, Nona?” tanya dayang itu tersentak. Tidak 
biasanya Bong Mini masuk ke kamarnya. 
“Bibi tahu ke mana papa pergi?” tanya Bong Mini. 
“Tidak tahu, Nona. Bibi sudah tertidur,” jawab 
dayang itu. 
Bong Mini menghela napas. Pikirannya masih dili-
puti oleh tanda tanya. 
Ke mana papa pergi malam-malam begini? Bersama 
para pengawal lagi. Apa memang setiap malam papa 
keluar? Kalau memang benar, apa yang dilakukan pa-
pa bersama pengikutnya? Batin Bong Mini. 
Melihat anak majikannya termangu dengan wajah 
sedih, dayang yang terbangun itu segera mendekati. 
“Apakah Tuan sebelumnya memberitahukan kepada 
Nona ke mana dia pergi?” 
Bong Mini menggeleng pelan. 
“Kalau papa memberitahukan sebelumnya, mana 
mungkin saya mencari dan bertanya pada Bibi?” 
Dayang itu menundukkan kepala. Ia malu sendiri 
terhadap pertanyaannya yang bodoh. 
“Kalau saja mama masih ada, tentu keadaannya ti-
dak begini,” gumam Bong Mini lirih. Sedangkan kedua 
matanya yang sendu sudah nampak berkaca-kaca se-
perti ada telaga bening yang menggenanginya. 
Dayang tadi mengangkat wajahnya dan memandang  
Bong Mini dengan tatapan mata kasihan. 
“Sudahlah, Non. Jangan terlalu diingat. Biarkan 
nyonya besar tenang di tempatnya yang kekal!” hibur 
dayang itu lembut Dia tidak ingin melihat anak maji-
kannya yang cantik, periang serta manja itu berubah 
sedih hanya karena mengingat kematian mamanya. 
Bong Mini hanya diam mendengar ucapan wanita 
setengah baya yang mencoba menghiburnya. Ia masih 
sulit untuk dapat melupakan kematian mamanya. 
Apalagi kehadiran mamanya dalam mimpi tadi, mem-
buat ia teringat pada semua kenangannya waktu kecil. 
Sikap Bong Mini yang tidak bisa melupakan keper-
gian mamanya memang bisa dimengerti. Sebab sebagai 
anak tunggal, ia selalu disayang oleh kedua orangtua-
nya. Terlebih lagi oleh mamanya. Bila ia hendak tidur, 
beliau selalu menemani di sampingnya sambil meme-
luk dan mengusap-usap punggungnya. Kalau sudah 
tertidur, barulah beliau pergi menuju kamarnya. Begi-
tu pula jika bermain, beliau selalu menjaga dan me-
nemani Bong Mini. 
Pernah Bong Mini menjerit dan menangis ketika ia 
sedang bermain di halaman rumahnya saat masih 
tinggal di Tiongkok. Sebabnya, ketika ia sedang asyik 
bermain-main dengan boneka, tiba-tiba seekor cacing 
merayap di ujung kakinya. Melihat binatang yang men-
jijikkan itu berjalan di kakinya, Bong Mini langsung 
menjerit dan menangis. 
Melihat Bong Mini seperti itu, mamanya yang meng-
awasinya agak jauh dari tempatnya bermain segera 
menghampiri dan menggendongnya. Kemudian ketika 
mengetahui penyebabnya, beliau langsung membuang 
cacing itu. 
“Kenapa tidak dimatikan saja, Ma?” tanya Bong 
Mini ketika itu, saat ia berumur delapan tahun.  
Mamanya menggeleng sambil tersenyum. 
“Kita tidak boleh membunuhnya. Dia juga ciptaan 
Tuhan. Lagi pula dia tidak jahat, kan?” 
“Tapi dia merayap di kaki Mini, Ma,” rajuknya. 
“Tak menggigit, kan? Hanya kamu saja yang takut!” 
kata mamanya mencubit hidung Bong Mini. 
Mengingat masa kanak-kanaknya itu, Bong Mini ja-
di tersenyum sendiri. 
“Ada apa, Non? Kok senyum sendirian?” usik da-
yangnya. Sebab wajah Bong Mini yang sejak tadi me-
nunjukkan kesedihan berubah berseri tanpa dia sada-
ri. 
“Tidak apa-apa, Bi,” desah Bong Mini dengan bibir 
tersenyum malu. Ia sadar kalau sikapnya mendapat 
perhatian dayangnya sejak tadi. Kemudian ia bangkit 
dari tepi ranjang dayangnya dan berkata, “Lanjutkan-
lah tidur Bibi. Saya mau kembali ke kamar.” 
“Perlu ditemani, Non?” 
Bong Mini menggeleng. Kakinya melangkah mening-
galkan dayangnya menuju kamarnya kembali. Di sana, 
ia langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. 
Malam semakin larut. 
Keheningan mencekam dalam rayapan waktu. 
Hanya suara-suara jangkrik yang terdengar mengerik, 
mengantarkan Bong Mini kembali dalam kelenaan ti-
durnya. 
 
*** 
 
33  
 
Yang Seng adalah seorang keturunan Cina Tiongkok 
yang beberapa tahun lalu datang ke Pulau Bangka dan  
tinggal di kawasan Sungai Liat. Di sana ia mendirikan 
sebuah perguruan yang bernama Partai Persatuan Ular 
Hitam dengan anggota mencapai puluhan orang. 
Sebagai orang keturunan Tiongkok, tentu saja Yang 
Seng mempunyai ilmu bela diri atau ilmu kesaktian 
yang amat tangguh. Semacam jurus-jurus kungfu. Dan 
ilmu itu sebagian ia turunkan kepada para anak buah-
nya, termasuk ilmu kepandaian bermain pedang. 
Kehadiran Yang Seng di sekitar Sungai Liat itu tidak 
lain ingin menguasai daerah tersebut. Dan untuk me-
nguasai kawasan itu, tentu saja tidak begitu semudah 
yang dibayangkan. Di sana ia harus berhadapan de-
ngan tokoh-tokoh silat yang sangat tangguh. Terutama 
sekali ia harus mengalahkan penguasa bernama Kho 
Sue Cheng. 
Dengan modal ilmu kesaktian yang diperolehnya 
dari negeri Tiongkok, akhirnya Yang Seng berhasil juga 
menjatuhkan Kho Sue Cheng dengan jurus-jurus maut 
yang mematikan. Sehingga Kho Sue Cheng terbunuh 
dengan tubuh terkoyak bersimbah darah. 
Keberhasilan Yang Seng dalam pertempuran mela-
wan Kho Sue Cheng tentu saja sangat mengejutkan 
anak buah Kho Sue Cheng. Mereka tidak menyangka 
kalau pemimpin mereka yang selama ini dianggap jago, 
dapat dijatuhkan oleh seorang anak muda kemarin. 
Setelah Kho Sue Cheng terbunuh, maka yang meng-
ambil alih kekuatan adalah Yang Seng. Segala harta 
kekayaan Kho Sue Cheng yang menjadi saudagar itu 
direbut oleh Yang Seng. Begitu pula dengan para anak 
buah yang harus tunduk dan patuh terhadap perin-
tahnya. Bila ada seorang dari mereka yang membantah 
peraturan yang dibuatnya, maka Yang Seng tidak se-
gan-segan memberikan hukuman mati. Membuat anak 
buah lainnya ketakutan. 
 
Anggota Partai Persatuan Ular Hitam selain berang-
gotakan  kaum lelaki, juga ada sekitar sepuluh orang 
kaum perempuan. Dan para perempuan itu ia peroleh 
dari para penduduk yang tidak bisa membayar hutang 
kepadanya. Karena selain pembelian hasil kebun pen-
duduk dengan harga murah, ia memang suka membe-
rikan pinjaman uang dengan bunga dua kali lipat 
Kalau orang yang memimjam itu tidak bisa men-
gembalikan hutangnya, maka Yang Seng akan menyita 
tanah atau sawah yang dimiliki. Tapi kalau kebetulan 
mempunyai seorang istri atau perempuan yang cantik, 
maka Yang Seng akan mengambil mereka dengan 
membebaskan-pembayaran hutang. 
Perempuan yang dijadikan sebagai alat bayar hu-
tang itu dibawa ke markas dan dijadikan sebagai te-
man bercengkerama. Apabila perempuan itu sudah ti-
dak lagi menarik perhatian Yang Seng, maka ia pun 
menyerahkannya kepada anak buahnya. Tak peduli 
mau dijadikan apa perempuan itu, yang penting ia ha-
rus mendapatkan perempuan baru sebagai penggan-
tinya. 
Semua perilaku dan kebejatan moral orang-orang 
Partai Persatuan Ular Hitam ini sudah bukan menjadi 
rahasia umum lagi. Semua orang telah mengetahuinya. 
Namun mereka sendiri tidak punya daya dan kebera-
nian untuk menentang atau menghentikannya. Takut 
nyawa mereka sendiri yang akhirnya melayang. 
Pernah ada beberapa orang penduduk yang mem-
punyai kepandaian silat mencoba untuk mengakhiri 
sepak-terjang mereka. Tapi belum sempat bertemu 
dengan Yang Seng, mereka sudah kewalahan mengha-
dapi anak buahnya. Sehingga dalam beberapa gebra-
kan saja nyawa mereka langsung lenyap dengan tubuh 
yang koyak-moyak. 
 
Sejak itu, tiada lagi para penduduk yang mencoba 
menentang kehendak orang-orang Ular Hitam. Mereka 
pasrah terhadap kenyataan yang ada. Mereka hanya 
dapat menangis dan mengurut dada jika istri atau 
anak perawan mereka dibawa oleh orang-orang Ular 
Hitam, tanpa melakukan perlawanan sedikit juga. 
“Mudah-mudahan Yang Kuasa menurunkan seo-
rang juru selamat untuk menentang kelaliman mere-
ka!” demikian doa para penduduk jika orang-orang 
Ular Hitam mulai turun ke perkampungan untuk men-
cari mangsa. 
Melihat penduduk kampung Sungai Liat yang tidak 
berdaya dan takut terhadap orang-orang Ular Hitam, 
maka mereka pun semakin senang. Malah tingkah-
polah mereka semakin menjadi. Kalau dulu mereka 
mengambil keuntungan dengan cara meminjamkan 
uang, maka sekarang pinjaman itu dihilangkan. Hanya 
pada orang-orang tertentu saja mereka meminjamkan 
uang. Seperti warung-warung nasi atau beberapa pen-
duduk lain yang mempunyai anak gadis. Selain itu me-
reka langsung mengambil harta para penduduk. Baik 
berupa hasil tani maupun perkebunan. Bila mereka 
mempertahankan barang-barang yang dimintanya, 
maka secepat kilat orang-orang Ular Hitam menghabisi 
nyawa mereka dengan keji. 

Siang itu, Yang Seng kelihatan sedang duduk di se-
buah dipan di depan rumahnya. Sambil mengisap ro-
kok cerutu, ia terus bermain-main dengan pikirannya. 
Sesekali menyungging senyuman puas dari wajahnya 
yang cerah. 
Apa lagi yang harus aku lakukan? Kewibawaanku di 
sini telah terlihat dengan jelas. Semua penduduk akan 
pucat dan bergetar bila melihatku, bagai orang kehi-
langan darah. Kalau aku keluar, semua orang  akan  
berhenti berjalan. Lalu berdiri dan membungkuk hor-
mat padaku. Apa saja yang aku minta mereka selalu 
memberi dengan cepat. Ikhlas atau tidak pemberian 
itu, aku tidak peduli. Yang penting bagiku, mereka 
tunduk dan taat kepadaku. Serta memberikan apa saja 
yang aku minta! Yang Seng berkata sendiri pada ha-
tinya. Lalu ia pun tersenyum puas karena keinginan-
nya selama ini untuk menguasai penduduk kampung 
Sungai Liat telah terlaksana. 
Sedang asyiknya ia bercakap-cakap dengan batin 
dan pikirannya, tiba-tiba muncul lima belas anak 
buahnya. Dengan gerakan reflek, ia meloncat dari du-
duknya. Lalu berdiri tegang memandang anak buah-
nya yang melangkah takut-takut. Terutama pada dua 
orang yang sedang membimbing tubuh Aloy, pemimpin 
pasukan kapal barang miliknya. 
“Kenapa dia?” tanya Yang Seng sambil melihat ta-
ngan kanan Aloy yang putus terkena sabetan pedang 
Bongkap. 
Beberapa anak buahnya menggigil ketakutan. Apa-
lagi ketika melihat mata Yang Seng yang tajam dan be-
ringas memandang mereka satu persatu. 
Melihat anak buahnya diam saja, Yang Seng sema-
kin marah. Lalu ia mendekati anak buahnya dengan 
wajah tegang. 
“Kenapa kalian diam?!” bentak Yang Seng dengan 
mata melotot dan suara yang menggelegar. 
“Ada bajak laut yang menghadang kami, Tuanku,” 
lapor seorang anak buahnya yang sedang memegangi 
tubuh Aloy yang tak berdaya. 
“Hm...,” Yang Seng geram. 
“Setelah kapal kami dirapatkan oleh kapal pemba-
jak itu, mereka segera berloncatan ke dalam kapal dan 
meminta barang-barang Tuanku,” lanjut anak buah- 
nya itu. 
“Terus?” 
“Kami mempertahankannya, Tuanku. Lalu kami 
melakukan serangan terhadap mereka. Tapi serangan 
kami tiba-tiba terhenti melihat tangan Aloy yang putus 
dari badannya. Ia dibacok oleh pemimpin bajak laut 
itu. Sedangkan sepuluh orang dari kami mati bersim-
bah darah tertebas oleh pedang para pembajak,” kata 
anak buahnya menjelaskan. 
“Bodoh! Kalian bodoh semuanya!” bentak Yang Seng 
dengan mata merah menahan marah. Sedangkan urat-
urat di keningnya tampak menonjol keluar karena be-
rang. Ia benar-benar marah karena orang yang menja-
di andalannya dibuat tak berdaya. 
“Siapa nama pemimpin perampok itu?” tanya Yang 
Seng dengan suara menghardik. 
“Kalau tidak salah namanya Bongkap,” jawab seo-
rang anak buahnya. 
“Bongkap?” tanya Yang Seng sambil mengingat-
ingat. Sedangkan anak buahnya terdiam  dengan hati 
cemas. 
“Berapa orang jumlah mereka?” tanya Yang Seng. 
Suaranya agak rendah, namun tekanannya masih me-
ngandung kemarahan. 
“Sepuluh orang, Tuanku,” sahut seorang anak 
buahnya yang lain. 
“Sepuluh orang?” tanya Yang Seng membelalakkan 
matanya lantaran kaget. “Kalian yang berjumlah dua 
puluh orang kalah dengan lawan yang hanya sepuluh 
orang?” 
“Mereka tangguh-tangguh, Tuanku.” 
“Itu bukan alasan!” bentak Yang Seng marah. Ma-
tanya menatap pada anak buahnya dengan tajam se-
perti meneliti. “Kalian tahu bahwa dengan kalahnya  
Aloy, berarti telah mencoreng arang di mukaku!” ben-
tak Yang Seng lagi. 
Kesembilan anak buahnya yang masih selamat 
tampak menunduk, tak berani menatap mata Yang 
Seng. 
“Baru kali ini ada orang yang berani melawan Partai 
Persatuan Ular Hitam. Bahkan sempat menjatuhkan 
orang kepercayaanku,” gerutu Yang Seng dengan wa-
jah menegak angkuh. 
“Besok kalian harus berangkat mencari para peram-
pok itu. Tebus kekalahan kalian!” tegas Yang Seng. 
Kembali ditatapnya anak buahnya satu persatu. 
Kesembilan anak buahnya terdongak kaget. Lalu 
saling menatap satu sama lain. 
“Kenapa? Takut?” tanya Yang Seng dengan wajah 
serius. 
“Bagaimana mungkin kami mampu, Tuanku. Ke-
cuali jumlah pasukan ditambah lagi,” jawab seorang 
anak buahnya. 
Mendengar ucapan anak buahnya,  Yang Seng ter-
tawa terbahak-bahak. 
“Apa kalian pikir aku tega membiarkan kalian me-
nyerang sendiri tanpa pengawalanku?” 
“Jadi, Tuanku ikut serta?” 
“Ya. Akan kuhadapi pemimpin perampok yang ber-
nama Bongkap itu. Aku ingin melihat batang hidung-
nya,” kata Yang Seng, membuat anak buahnya agak 
lega. 

*** 

Bongkap bersama para pengawalnya baru pulang 
berlayar. Mereka satu persatu sibuk menurunkan ba-
rang-barang hasil rampokannya. Kemudian barang-
barang rampokan yang masih terbungkus peti itu se- 
gera diangkut ke markas Bongkap. 
“Letakkan barang-barang itu di sini!” perintah 
Bongkap setelah membuka gudang yang selama ini tak 
pernah disentuhnya. Karena selain banyak debu juga 
disebabkan letaknya agak menyudut di belakang. Se-
hingga tidak begitu terlihat. 
Anak buahnya memasukkan peti-peti barang itu 
dengan segera. 
“Ayo, cepat. Jangan sampai nanti putriku tahu!” se-
ru Bongkap lagi. Sementara matanya mengawasi cara 
kerja anak buahnya. Setelah peti-peti barang itu tersu-
sun rapi di dalam gudang, Bongkap segera me-
nguncinya kembali dan mengajak anak buahnya ke-
luar. 
“Aku akan ingatkan sekali lagi pada kalian agar ja-
ngan membocorkan perbuatan kita semalam. Apalagi 
sampai terdengar ke telinga putriku. Kalau ini terjadi, 
pedangku yang akan berbicara!” ancam Bongkap, 
memperingatkan anak buahnya. 
“Segala kehendak Bongkap akan kami laksanakan!” 
sahut anak buahnya sambil menunduk hormat 
“Sekarang, laksanakan tugas kalian seperti biasa!” 
perintah Bongkap lagi. 
“Siap. Kami laksanakan!” sahut anak buahnya yang 
berdiri hormat. Lalu mereka berpencar menuju tempat 
kerja mereka masing-masing. 
Setelah anak buahnya tidak terlihat dari panda-
ngannya, Bongkap masuk ke dalam untuk menemui 
putrinya. Dibuka pintu kamar putrinya perlahan-
lahan. Di pembaringan, Bongkap melihat putrinya se-
dang menelungkupkan tubuh di kasur. Bahunya ber-
guncang naik-turun menahan tangis. 
Bongkap segera menghampiri. Ia terkejut ketika 
mendengar isak tangis putrinya. Kemudian, perlahan- 
lahan Bongkap menyentuhkan telapak tangannya pada 
kepala Bong Mini dengan lembut lalu mengusap-
usapnya. 
Bong Mini merasakan usapan tangan Bongkap yang 
lembut itu. Lalu kepalanya mendongak untuk meman-
dang siapa yang mengusap-usap kepalanya dengan 
lembut itu. 
“Papa?” keluh Bong Mini dengan air mata berderai. 
Ia menjatuhkan kepalanya dalam pangkuan papanya. 
Ia menangis tersedu-sedu. 
“Ada apa, Sayang?” tanya Bongkap sambil memeluk 
kepala putrinya dan terus membelai-belainya dengan 
penuh kasih sayang. 
Bong Mini tidak segera menjawab. Ia masih asyik 
dengan tangisnya. 
“Apa yang terjadi, Sayang?” ulang Bongkap lagi 
dengan suara berbisik di telinga Bong Mini. 
“Saya teringat mama,” sahut Bong Mini di sela isak 
tangisnya. 
“Sudahlah. Jangan terus mengingatnya. Mamamu 
sudah tenang hidup di alam lain,” bujuk Bongkap de-
ngan suara yang lembut. 
“Saya belum bisa melupakannya, Papa,” desah Bong 
Mini mengangkat wajahnya serta memandang Bong-
kap. 
“Memang tidak mudah untuk melupakan orang 
yang kita cintai. Apalagi dia mamamu, istri papa juga. 
Tapi jangan sampai hal itu menghanyutkan perasaan 
kita. Sehingga kita terus terselubung dalam suasana 
duka dan tangis,” tutur Bongkap, menasihati putrinya. 
Bong Mini diam. Sedangkan punggung jari telun-
juknya mengusap sisa-sisa air mata yang masih sem-
pat mengalir di pipinya yang nampak merah merona. 

Sesungguhnya Bongkap sendiri mengakui bahwa  
dirinya pun masih mengingat-ingat Sinyin, istri yang 
dicintainya itu. Tetapi setiap kali bayangan istrinya 
muncul, Bongkap selalu berusaha menghilangkannya 
dengan cara menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia 
tidak ingin menitikkan air mata terlalu lama. Sebab 
menurutnya, air mata itu akan meluluhkan ketega-
rannya sebagai seorang lelaki. Namun kala ia rindu 
sendiri terhadap istrinya, Bongkap selalu mengunjungi 
Bong Mini dan memandang wajah putrinya itu lama 
sekali. Wajah Bong Mini memang sangat mirip dengan 
wajah istrinya, Sinyin. 
“Kematian mamamu memang sangat meluluhkan 
hati kita. Tapi kita harus berusaha tegar menghada-
pinya. Apalagi kamu sebagai calon pendekar wanita 
yang akan menggegerkan seluruh penghuni jagat ini,” 
lanjut Bongkap mengangkat dagu putrinya. 
Bong Mini memandang papanya dengan tatapan 
mata sendu. Tapi kemudian ia tersenyum manis. 
Bongkap gembira melihat gadis cantik yang dis-
ayanginya itu dapat tersenyum. Kemudian ia meme-
luknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. 
“Papa,” desah Bong Mini dalam pelukan papanya. 
“Hm...? Ada apa?” 
“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan,” kata Bong 
Mini melepaskan pelukannya. 
Bongkap mengerutkan kening. Baru kali ini ia men-
dengar putrinya hendak bertanya. Padahal selama ini 
putrinya tak pernah menanyakan sesuatu. Bila sedang 
berlatih silat pun, Bong Mini tak pernah banyak ber-
tanya. Ia hanya diam dan mendengarkan nama-nama 
jurus silat yang diajarkan papanya. 
“Semalam saya terbangun,” lanjut Bong Mini. “Ke-
mudian saya keluar untuk menemui Papa. Tapi ketika 
sampai di kamar, saya tidak mendapatkan Papa,” Bong  
Mini menghentikan ucapannya sejenak. Mengulum bi-
birnya yang selalu basah itu dengan lembut 
“Setelah mengetahui Papa tidak ada di kamar, saya 
mencarimu lagi di luar. Namun di luar pun saya tidak 
melihat Papa berikut para pengawal. Lalu saya tanya-
kan kepada para dayang, tetapi mereka juga mengata-
kan tidak tahu ke mana Papa pergi,” Bong Mini meng-
hentikan ceritanya. 
Bongkap yang mendengar ucapan Bong Mini agak 
tersentak juga. Ia khawatir apa yang dilakukan bersa-
ma anak buahnya diketahui putrinya. 
“Ke mana sih, Papa semalam?” tanya Bong Mini 
dengan tatapan mata meneliti. 
Bongkap menghela napas sambil mencoba ter-
senyum pada putrinya. 
“Papa tidak ke mana-mana. Papa mengajak para 
pengawal untuk keliling kampung. Khawatir kalau ada 
penduduk kampung yang kurang aman,” jawab Bong-
kap berdusta. 
“Sampai pagi-pagi begini?” tanya Bong Mini sete-
ngah tidak percaya. 
“Ya. Karena sepulang dari keliling kampung, papa 
dan para pengawal pergi ke pantai. Di sana, selain pa-
pa menikmati  udara pantai, juga melihat-lihat kapal. 
Khawatir ada kerusakan-kerusakan yang harus digan-
ti,” jawab Bongkap berusaha meyakinkan putrinya 
agar percaya. Walaupun hati kecilnya merasa bersalah 
karena telah membohongi putrinya sendiri. 
Bong Mini mengangguk-angguk. Penjelasan papa-
nya bisa dimengerti. 
“Kamu sudah percaya dengan penjelasan papa?” 
tanya Bongkap sambil menatap wajah putrinya lekat-
lekat. Khawatir kalau ceritanya itu tidak dipercayai 
Bong Mini.  
“Saya percaya, Papa,” sahut Bong Mini cepat. “Ta-
pi....” 
“Tapi apa, Sayang?” potong Bongkap cepat. 
Bong Mini tersenyum manis sambil merebahkan 
kepalanya di pundak papanya dengan sikap manja. 
“Tapi apa, hm...?” tanya Bongkap seraya mengusap-
usap kepala putrinya. 
“Ng..., Papa percaya tidak sama mimpi?” Bong Mini 
balik bertanya, sementara tangannya memainkan tali 
baju pangsi papanya. 
“Kadang-kadang percaya, kadang tidak,” jawab 
Bongkap. 
“Lho, kok begitu?” 
Bongkap tersenyum. 
“Karena mimpi pun ada yang benar, ada juga yang 
tidak,” jawab papanya menjelaskan. 
Bong Mini mengangguk-angguk mengerti. 
“Kenapa tiba-tiba membicarakan soal mimpi?” tanya 
Bongkap. “Apa semalam kamu mimpi?” 
“Benar, Papa!” jawab Bong Mini cepat. 
“Hm..., mimpi apa?” 
“Mimpi bertemu dengan mama,” kata Bong Mini 
sembari mengangkat kepalanya dari sandaran pundak 
Bongkap. Lalu kakinya melangkah perlahan menuju 
jendela kamar. Dikuakkannya pintu jendela kamar itu 
lebar-lebar, sehingga semilir angin pun berhembus ke 
dalam ruangan kamar. 
“Hm..., terus?” tanya Bongkap ingin tahu. 
“Dalam mimpi itu, mama tersenyum kepada saya 
dan menghampiri. Kemudian mama berpesan kepada 
saya agar bisa menjaga diri dan menjaga Papa.” 
“Menjaga papa?” tanya Bongkap agak terkejut. Ia 
merasa aneh kenapa justru anaknya yang dipesan un-
tuk menjaga dirinya, bukan sebaliknya. 
 
“Ya, Papa,” sahut Bong Mini sambil membalikkan 
badan lalu memandang wajah papanya yang nampak 
masih keheranan. “Saya disuruh menegur Papa jika 
berbuat salah.” 
Bongkap benar-benar terkejut mendengar cerita 
Bong Mini. Mimpi putrinya semalam itu seperti petun-
juk buat Bong Mini. Sebab bertepatan dengan mim-
pinya itu, dia sedang melakukan perampokan terhadap 
sebuah kapal barang saudagar. 
“Kenapa, Papa?” tanya Bong Mini ketika melihat wa-
jah papanya berubah seperti keheranan. 
“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” sahut Bongkap cepat. 
Namun sikapnya agak gugup. Dan itu jelas terlihat 
oleh Bong Mini. 
Bong Mini menghampiri papanya. Lalu berjongkok 
dengan kedua tangan menyentuh lutut papanya. 
“Papa kelihatan gugup?” hati-hati Bong Mini berka-
ta. Khawatir kalau pertanyaannya itu mengundang 
kemarahan lelaki yang amat dicintainya. Tapi yang 
dikhawatirkan itu tidak terjadi. Malah dengan lunak 
papanya mengusap-usap kepala Bong Mini. 
“Papa gugup karena merasa heran,” jawab Bongkap. 
“Kenapa justru kamu yang disuruh menjaga papa?” 
Bong Mini tersenyum. Dan senyumnya kali ini begi-
tu lembut dan manis. Mirip senyum mamanya ketika 
masih hidup. 
“Ketika masih hidup mama pernah bilang pada saya 
bahwa lelaki itu setiap melakukan sesuatu selalu de-
ngan pikirannya. Sedangkan perempuan bertindak 
dengan perasaannya,” kata Bong Mini, menceritakan 
kembali apa yang pernah dikatakan mamanya ketika 
ia mulai beranjak remaja. Dan kata-kata mamanya itu 
selalu ia ingat sampai sekarang. 
Bongkap mengangguk-angguk. Ia mulai mengerti  
makna mimpi Bong Mini itu. Mungkin putrinya  dis-
uruh menjaga dirinya untuk mengimbangi tindakan-
nya yang selama ini selalu mengandalkan pikirannya, 
tanpa disaring dengan perasaan yang ada. 
“Tapi itu hanya mimpi kan, Pa?” desah Bong Mini. 
Bibirnya tersenyum, menghibur papanya. Ia tidak ingin 
kalau mimpi itu menjadi beban pikiran papanya berha-
ri-hari. 
Bongkap tersenyum cerah. Lalu kedua tangannya 
yang kekar itu kembali memeluk putrinya dengan pe-
nuh kasih sayang. 
 
*** 
 
44  
 
Pagi yang cerah. 
Matahari telah menampakkan dirinya di ufuk timur. 
Cahayanya yang kuning pucat memancar terang ke 
wajah bumi. Seakan memberi peringatan kepada selu-
ruh penghuni dunia untuk kembali melakukan tugas-
nya sehari-hari. 
Di pagi yang cerah itu, Bong Mini telah rapi berpa-
kaian. Baju dan stelan celana panjang yang berwarna 
biru cerah tampak melilit tubuhnya dengan ketat. Per-
paduan antara kulitnya yang langsat dengan warna 
pakaiannya yang merah cerah menjadikannya bertam-
bah cantik. Apalagi rambutnya yang sebatas bahu di-
biarkan bebas lepas, membuatnya semakin menarik 
dan terlihat dewasa. 
Bong Mini tersenyum-senyum melihat penampilan-
nya di muka cermin. Terkadang tubuhnya berputar ke 
kiri dan kanan untuk meneliti bagian-bagian pakai- 
annya yang kurang rapi. Setelah merasa yakin tidak 
ada kekurangan, ia pun segera mengambil pedang 
yang terpampang di sudut kamar dan menyelipkannya 
di punggung. Lalu ia pun segera keluar kamar untuk 
menemui papanya. 
Dengan wajah cerah berseri, putri Tiongkok yang 
berumur enam belas tahun itu melangkah menuju ka-
mar papanya. Namun ketika pintu kamar itu dikua-
kkan, tidak dilihatnya siapa pun di kamar itu. Dengan 
hati-hati ia kembali menutup kamar papanya dan me-
langkah ke ruang depan. Siapa tahu papanya ada di 
sana, begitu pikirnya. Tetapi sampai di ruang depan ia 
pun tidak melihat papanya. 
Ke mana, ya? Pikirnya berdiri tercenung. Mungkin 
di belakang! Lanjut Bong Mini sambil terus melangkah 
menuju belakang rumahnya. 
Sesampainya di pekarangan belakang, Bong Mini 
melihat papa dan beberapa orang pengawalnya sedang 
meneliti beberapa ekor kuda. 
“Papa!” seru Bong Mini sambil berlari kecil. Sedang-
kan bibirnya tampak tersenyum manis. 
Bongkap dan para pengawalnya segera menoleh ke 
arah Bong Mini. Mereka tercengang sambil berpanda-
ngan. Terlebih lagi dengan Bongkap. Ia seolah-olah ti-
dak percaya kalau gadis mungil yang berpakaian war-
na merah cerah dengan pedang di punggungnya itu 
adalah putrinya. Ini dikarenakan penampilannya yang 
berbeda dengan hari biasanya. Segar, cantik, dan lin-
cah. 
“Lho, kok pada termangu?” tanya Bong Mini setelah 
berada di dekat papanya. Sepasang matanya yang hi-
tam gemerlap, memandang papa dan para pengawal-
nya secara bergantian. 
Mendapat teguran putrinya itu, Bongkap tersentak  
sadar. Lalu ia merubah sikapnya dengan tersenyum 
lunak pada Bong Mini. 
“Sungguh luar biasa anak papa ini!” Bongkap ber-
decak kagum. Matanya terus memandang putrinya 
tanpa berkedip. 
“Memangnya kenapa, Pa?” tanya Bong Mini dengan 
suara yang manja. 
“Hari ini putri papa cantiknya bukan main. Mau ke 
mana, hm...?” puji Bongkap sambil bertanya. 
Bong Mini senyum tersipu-sipu mendapat pujian 
papanya yang langsung itu. Dengan wajah menunduk 
ia menjawab, “Saya mau jalan-jalan, Papa!” 
“Jalan-jalan ke mana?” tanya Bongkap. 
“Hanya sekitar sini, Papa. Bukankah selama tinggal 
di sini saya belum melihat keadaan di luar?” kata Bong 
Mini dengan sikap manja. 
“Hm...,” gumam Bongkap setengah berpikir. 
“Boleh ya, Papa?” Bong Mini mendesak. 
“Tapi jangan jauh-jauh, ya?” Bongkap akhirnya 
mengizinkan. 
“Ya, Papa,” sahut Bong Mini dengan wajah gembira. 
Lalu mendekati papanya dan mencium kedua pipinya. 
“Terima kasih,  Papa!” kata Bong Mini seraya melang-
kah. Tapi ketika baru dua langkah, papanya menahan 
dengan pertanyaan. 
“Tidak bawa pengawal?” 
“Idih, Papa. Memangnya saya anak kecil lagi,” sahut 
Bong Mini sembari mendelikkan mata sehingga terlihat 
lebih indah dan cantik. 
Bongkap tersenyum mendengar jawaban putrinya. 
“Bukan apa-apa. Gadis cantik sepertimu biasanya 
suka banyak yang ganggu.” 
“Jangan khawatir. Saya bisa melayaninya dengan 
jurus-jurus yang Papa ajarkan,” jawab Bong Mini se- 
raya tersenyum. 
Bongkap tertawa. Dia senang melihat sikap putrinya 
yang demikian berani. 
“Sudah ya, Pa. Saya pergi dulu,” ucap Bong Mini. 
Tubuh mungilnya melompat ke punggung kuda dan 
menghelanya sehingga keluar meninggalkan halaman 
rumah. Diiringi oleh tatapan Bongkap yang masih ter-
senyum-senyum kagum. 
Beberapa menit setelah Bong Mini hilang dari pan-
dangannya, Bongkap segera memanggil para penga-
walnya yang ikut merampok kemarin malam. 
Para pengawal yang dipanggilnya itu segera datang 
seraya memberi hormat. 
“Ada apa, Tuanku?” tanya salah seorang pengawal, 
mewakili teman-temannya. 
“Coba dua atau tiga orang di antara kalian pergi gu-
dang yang semalam dan bawa dua peti ke sini!” perin-
tah Bongkap. 
“Baik, Tuanku!” sahut pengawal tadi, lalu memberi-
kan isyarat kepada dua orang temannya untuk pergi 
ke gudang penyimpanan barang-barang. 
Mendapat isyarat itu, dua orang temannya segera 
melangkah ke dalam. Tidak lama kemudian mereka 
kembali lagi dengan membawa dua buah peti hasil 
rampokan semalam. 
“Coba langsung dibuka!” perintah Bongkap ketika 
kedua peti itu diletakkan di hadapannya. 
Kedua pengawal yang membawa peti tadi segera 
membukanya. Dan mereka sangat terkejut ketika peti 
itu telah terbuka. 
“Apa isinya?” tanya Bongkap ketika melihat keterke-
jutan anak buahnya. 
“Isinya emas, Tuanku!” sahut seorang pengawal 
yang membuka peti itu, memberitahukan. 
 
Para pengawal lainnya tersentak gembira ketika 
mendengar pemberitahuan temannya itu. Sedangkan 
Bongkap dengan langkah tenang menghampiri peti 
yang terletak beberapa meter di hadapannya. 
“Hm...,” gumam Bongkap kagum. Lalu ia membung-
kukkan badan dan mengambil seraup emas. Diperha-
tikannya emas yang tergenggam pada tangannya itu 
lebih dekat lagi. 
“Ambilkan kantong kain!” perintah Bongkap lagi. 
Dua orang pengawal tadi segera bergegas ke dalam 
untuk mengambil kantong kain yang dibutuhkan 
Bongkap. Kemudian mereka kembali lagi dan me-
nyerahkan setumpuk kantong kain kepada Bongkap. 
Bongkap mengambil kantong kain itu dan meng-
isinya satu persatu dengan emas yang ada dalam peti 
tadi. 
Setelah semua kantong kain itu terisi oleh emas, 
Bongkap melemparkannya satu persatu ke arah para 
pengawalnya. 
“Ini jatah kalian pada setiap satu peti emas,” ujar 
Bongkap memberitahukan. 
Para pengawal itu menerimanya dengan wajah gem-
bira. 
“Sedangkan sisa kantong-kantong ini akan kita ba-
gikan kepada para rakyat yang menderita kemiskinan,” 
lanjut Bongkap memberitahukan. “Dan tentunya isi 
kantong-kantong ini setengah dari isi kantong yang 
ada di tangan kalian!” 
Para pengawal itu memperhatikan isi kantongnya 
masing-masing. Kemudian membandingkan dengan 
kantong yang ada di tangan rajanya. Dan ternyata isi 
kantong yang ada di tangan para pengawal itu memang 
lebih banyak daripada isi kantong emas yang akan di-
bagikan kepada rakyat. Hal ini dilakukan Bongkap  
dengan pertimbangan bahwa para pengawalnya telah 
berjasa membantunya dalam melakukan perampokan. 
“Nah, selagi putriku sedang keluar, secepatnya kita 
bagikan hasil rampokan ini kepada rakyat,” kata 
Bongkap lagi. Lalu kakinya segera melangkah menuju 
kudanya, diikuti oleh para pengawalnya yang setia. 
“Ashiong  dan Achen saja yang ikut bersamaku. 
Yang lainnya tetap berjaga-jaga di sini,” sergah Bong-
kap dari atas punggung kudanya. 
Para pengawal lain yang sudah hendak menung-
gang kuda, mengurungkan niat dan kembali ke tempat 
tugas mereka. Hanya Ashiong dan Achen saja yang 
menyertai Bongkap. 

*** 

Di bawah terik matahari yang menyengat, seorang 
gadis berumur enam belas tahun berpakaian merah 
yang membungkus tubuhnya serta bertudung topi di 
kepalanya, tampak tengah menunggang kuda dengan 
tenang. Pandangan matanya menyebar pada rumah-
rumah penduduk yang sebagian berbentuk rumah 
panggung. 
Gadis cantik itu tidak lain putri Bong Mini. Dia baru 
saja mengadakan perjalanan untuk melihat keadaan 
kampung-kampung yang berada di bawah kekuasaan 
papanya. Sesekali ia pun mengadakan percakapan 
dengan para penduduknya. Dalam percakapan itu 
Bong Mini mendapat kesan bahwa penduduk yang be-
rada di bawah kekuasaan papanya tengah dilanda ke-
miskinan. Malah sebagian penduduk yang ditemuinya 
banyak menderita kelaparan, karena sawah dan la-
dangnya  mengalami kekeringan akibat musim kema-
rau. 
Melihat kenyataan itu, sebagai gadis yang mempu- 
nyai perasaan halus, Bong Mini merasa iba hatinya. 
Sehingga perbekalan uang yang ia bawa, sebagian te-
lah diberikan kepada para penduduk yang benar-benar 
sedang kelaparan. 

Di lain pihak, hatinya pun turut terhibur manakala 
melihat para penduduk bersikap sopan kepadanya. 
Malah tidak sedikit di antara mereka yang bersikap 
berlebihan. Misalnya, kalau ia berjalan banyak para 
penduduk di sekitarnya menyingkir memberi jalan 
sambil membungkukkan badan padanya sebagai tanda 
hormat. Karena sebagian dari mereka tahu bahwa ga-
dis asing bermata sipit dan berwajah cantik itu adalah 
seorang anak raja yang baru. Raja yang mempunyai 
banyak perhatian kepada rakyatnya. 
Sebagai gadis yang rendah hati, Bong Mini merasa 
keberatan dengan sikap hormat penduduk yang berle-
bihan itu. Ia tidak ingin penghormatan yang berlebihan 
itu hanya karena ia seorang putri raja. Justru hal itu 
yang ingin ia jauhi. Ia hanya ingin dihormati kalau 
penduduk itu kagum karena perilaku yang ditampil-
kannya sendiri. Bukan karena pengaruh papanya se-
bagai raja di negeri Selat Malaka ini. Oleh karena itu ia 
terkadang memberikan pengertian kepada penduduk 
untuk tidak menghormatinya secara berlebihan karena 
didatangi seorang putri raja. 
“Hormatilah aku sebagai manusia biasa tanpa di-
hubungkan dengan kebesaran nama papaku!” kata 
Bong Mini, memberikan pengertian pada para pendu-
duk pada suatu kali. 
Sedang santainya Bong Mini menunggang kuda, ti-
ba-tiba telinganya mendengar tangisan seorang anak 
kecil. Tangisan anak itu begitu menyayat hatinya. 
Dengan rasa ingin tahu, Bong Mini turun dari pung-
gung kuda dan menghampiri rumah, di mana terde- 
ngar tangisan anak itu. Di dalam rumah itu, Bong Mini 
melihat seorang perempuan tua sedang memeluk dan 
membujuk anak perempuannya yang menangis. 
Bong Mini terharu menyaksikan adegan kedua ibu 
beranak itu. Lalu dengan langkah perlahan ia men-
dekat lalu duduk di sebelah perempuan tua itu. 
“Kenapa dia, Bu?” tanya Bong Mini pelan. 
Perempuan tua yang tengah memeluk anak perem-
puan itu menoleh pada Bong Mini sekilas. Ternyata pe-
rempuan tua itu pun turut menangis. Terlihat dari ke-
dua pipinya yang keriput dibanjiri air mata. 
“Cucuku minta makan,” sahut perempuan tua itu 
dengan suara gemetar menahan tangis. 
“Memangnya tidak ada makanan?” tanya Bong Mini. 
Perempuan tua itu menggeleng lemah. 
“Sudah dua hari ini kami tidak makan nasi. Se-
dangkan jagung pun telah habis kami makan kema-
rin,” perempuan tua itu menjelaskan. 
Bong Mini benar-benar terharu mendengar penutu-
rannya. Tanpa disadarinya, dua bulir air mata bergulir 
membasahi kedua belah pipinya. Cepat-cepat Bong 
Mini mengambil perbekalan makanan yang sengaja ia 
bawa ketika berangkat dari rumahnya tadi. Kemudian 
diberikannya perbekalan itu kepada perempuan tua 
itu. 
Betapa gembiranya wajah perempuan tua itu mene-
rima pemberian Bong Mini. Walaupun makanan itu 
hanya cukup untuk dimakan cucunya. 
“Tenang. Berhentilah menangis, Cucuku. Ini ada 
makanan untuk mengganjal perutmu yang sakit,” bu-
juk perempuan tua itu sambil cepat-cepat membuka 
kain pembungkus makanan. Setelah itu diberikannya 
makanan pemberian Bong Mini itu kepada cucunya. 
Anak perempuan yang menangis itu, yang berumur  
sekitar empat belas tahun, segera mengambil makanan 
yang diberikan neneknya dengan tangan gemetar kare-
na sejak kemarin sore menahan lapar. Dinikmatinya 
makanan itu dengan lahap. Sehingga dalam waktu 
singkat, makanan yang ada dalam rantang itu habis 
tanpa sisa. 
Bong Mini tersenyum haru karena makanan yang 
dibawanya itu tidak sia-sia. 
“Terima kasih, Non....” 
“Mini. Nama saya Bong Mini,” potong Bong Mini 
memperkenalkan namanya. 
“Ya, terima kasih, Non Mini,” ucap perempuan tua 
itu sambil meneliti keadaan pakaian Bong Mini yang 
terlihat begitu bagus. Matanya berbinar kagum. Apa-
lagi ketika melihat sebilah pedang yang terselip di 
punggung Bong Mini. 
“Nona Mini seorang pendekar?” tanyanya, langsung 
menebak. 
Bong Mini tersenyum sambil menggelengkan kepala. 
“Saya perempuan biasa, Nek,” sahut Bong Mini. 
“Tapi biasanya kalau perempuan menyandang sebi-
lah pedang di punggungnya, itu berarti ia seorang pen-
dekar,” kata perempuan tua itu lagi. 
“Mungkin. Tapi saya bukan pendekar,” elak Bong 
Mini merendah. 
“Tapi pedang itu?” tanya perempuan tua itu sambil 
menunjuk ke arah pedang yang disandang Bong Mini. 
Bong Mini lagi-lagi tersenyum padanya. 
“Pedang ini hanya untuk membela diri. Khawatir 
ada orang jahat yang mengganggu,” jawab Bong Mini. 
Perempuan tua itu mengangguk-angguk. Namun 
hatinya tetap mengatakan kalau wanita muda dan 
cantik di sisinya adalah seorang pendekar. 
“Benar, Non Mini. Sekarang ini kalau kita keluar  
mesti hati-hati!” ujar perempuan tua itu setengah 
memperingatkan. 
“Memangnya kenapa, Nek?” Bong Mini ingin tahu. 
“Kampung ini telah dimasuki oleh perampok-peram-
pok yang bertopeng dermawan,” jawab perempuan tua 
itu menjelaskan. 
“Maksud Nenek?” tanya Bong Mini tidak mengerti. 
“Mereka berpura-pura menjadi dermawan yang 
memberikan pinjaman uang. Tapi kalau kita tidak me-
lunasi pinjaman bersama bunga yang telah ditentukan 
tepat pada waktunya, mereka akan menjarah harta 
benda yang kita miliki. Tapi kalau kita mempunyai 
anak gadis yang cantik, maka anak gadis kita akan di-
bawa pulang oleh mereka sebagai pembayar hutang,” 
tutur perempuan itu menjelaskan. 
Mendengar cerita perempuan tua itu, emosi Bong 
Mini menjadi bergejolak. Darahnya mendidih, mema-
naskan sifat kependekarannya. Sedangkan matanya 
yang tadi lembut, berubah berkilat-kilat sebagai tanda 
kemarahannya. 
Sejak kematian mamanya di tangan seorang pang-
lima, Bong Mini menjadi sangat benci terhadap kaum 
lelaki.  Jangankan bercakap-cakap, melihatnya pun ia 
sudah tidak sudi. Kematian mamanya yang begitu tra-
gis telah membunuh nurani kasihnya terhadap kaum 
lelaki. Hanya papanya satu-satunya lelaki yang ia ka-
sihi. Karena selain papa yang mendidik dan membe-
sarkannya, ia juga sangat mengerti sifat papanya yang 
lembut dan penuh kasih sayang terhadap mamanya 
ketika masih hidup. Termasuk pada dirinya sendiri. 
Padahal di luar keluarganya, papanya akan berubah 
sikap menjadi garang dan sadis. Bahkan dijuluki seba-
gai singa perang ketika masih mengabdi di Kerajaan 
Manchuria.  
“Jahanam!” umpat Bong Mini tanpa sadar, menang-
gapi cerita perempuan tua itu. 
“Ada apa, Non?” tanya perempuan tua itu kaget. 
“Ah, tidak. Tidak apa-apa,” jawab Bong Mini cepat 
sambil memperlihatkan sikap lembutnya. Kemudian ia 
bangkit dari duduknya dan berdiri tegak sebagaimana 
seorang pendekar. 
“Ini untuk Nenek,” kata Bong Mini lagi seraya mem-
berikan beberapa keping uang yang diambilnya dari 
balik baju. 
Perempuan tua itu menerima pemberian uang dari 
Bong Mini dengan perasaan gembira. Sehingga sampai 
beberapa kali ia mengucapkan terima kasih kepada 
Bong Mini. 
“Saya permisi dulu, Nek. Lain kali saya mampir la-
gi,” ucap Bong Mini. “O, ya. Nama adik siapa?” tanya 
Bong Mini pada gadis kecil yang tadi menangis. 
“Namaku Thong Mey,” ucap gadis kecil itu. Dia seo-
rang anak yang dilahirkan dan dibesarkan di tempat 
itu. 
“Baiklah Thong Mey, saya pergi dulu. Lain kali kita 
bertemu lagi!” kata Bong Mini. Setelah itu ia pun me-
langkah keluar, kemudian melesat cepat bersama ku-
danya. 
Tanpa terasa ia sudah jauh berlalu dari tempat tadi. 
Kini ia sampai di Kampung Dukuh yang cukup ramai 
penduduknya. Di sana dilihatnya dua kedai yang ja-
raknya agak berjauhan. Kemudian Bong Mini masuk 
ke salah satu kedai yang letaknya begitu menyudut 
tersendiri. 
Kedai itu sepi. Tak seorang pun terlihat di situ. Ke-
cuali sepasang suami istri pemilik kedai yang sedang 
duduk lesu di belakang meja makan. Ketika melihat 
Bong Mini masuk ke dalam kedainya, pasangan suami  
istri itu segera berdiri menyambutnya dengan wajah 
gembira. Seolah sejak pagi mereka belum menda-
patkan langganan. 
Dengan sikap ramah Bong Mini mendekati mereka 
untuk memesan makanan. Setelah itu ia pun duduk 
pada sebuah bangku yang terletak agak menyudut. 
Tidak lama kemudian, makanan yang dipesannya 
telah diantar oleh seorang pemilik kedai itu dan mena-
ruhnya, di atas meja. 
“Terima kasih,” ucap Bong Mini. Lalu ditariknya pi-
ring nasi pesanannya dan menyantapnya dengan pe-
nuh kenikmatan. 
Sedang asyiknya ia menyantap makanan, tiba-tiba 
masuk empat lelaki dengan golok terselip di pinggang-
nya masing-masing. Mereka datang ke situ dengan si-
kap kurang sopan. Tiga orang yang berwajah hitam 
dan berkumis langsung mendekati pemilik kedai. Se-
dangkan seorang lagi hanya duduk mengangkat kaki di 
kursi. Sedangkan pedang yang dibawanya diletakkan 
di atas meja. 
Yang satu itu nampaknya bukan asli orang sini, 
gumam Bong Mini dalam hati, mengamati lelaki yang 
membawa pedang. Ia begitu leluasa memperhatikan 
tingkah laku keempat orang yang tidak dikenalnya. Hal 
itu disebabkan karena tubuhnya yang mungil tertutup 
oleh meja makan sampai sebatas dada. Sehingga 
hanya bagian kepalanya saja yang nampak. Itu pun 
terhalang oleh tudung yang dikenakannya. 
Di balik meja makanan, pasangan suami istri tadi 
kelihatan merengket ketakutan. Wajah mereka yang 
tadi berseri-seri ketika menyambut kedatangan Bong 
Mini, berubah menjadi pucat. 
“Kalian tentu sudah tahu maksud kedatangan kami 
ke sini,” kata seorang dari ketiga lelaki yang meng- 
hampiri pemilik warung. 
“Ya. Ya. Kami..., kami mengerti maksud kedatangan 
Tuan semua,” sahut pemilik warung yang lelaki. 
Ketiga lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar 
jawaban pemilik warung. 
“Berarti kalian sudah mempersiapkannya,” ucap 
seorang dari ketiga lelaki itu setelah menghentikan ta-
wanya. Sedangkan dua teman lainnya masih tetap ter-
tawa sambil mengambil tempat duduk di dekat pe-
mimpin kelompok mereka yang keturunan Tionghoa. 
Sepasang suami istri pemilik warung itu saling ber-
pandangan takut. 
“Heh, kenapa diam?” tanya lelaki yang masih berdiri 
itu. 
“Maaf, Tuan. Saya..., saya belum bisa melunasinya,” 
mohon lelaki pemilik warung dengan badan gemetar. 
“Apa? Belum bisa melunasi?” ulang lelaki itu sambil 
menggebrak meja di depannya. Karuan saja, nasi, 
lauk-pauk, dan semua makanan yang ada di situ me-
lompat karena getaran. Bahkan sebagian ada yang ter-
jatuh ke tanah. 
Mendengar gebrakan meja yang demikian kencang, 
pasangan suami istri itu mundur ketakutan. 
“Kalau kalian tidak bisa melunasinya hari ini, ka-
lian harus menyerahkan rumah ini kepada kami,” an-
cam lelaki berwajah bengis itu. Lalu ia melangkah dan 
duduk bersama-sama temannya yang lain. 
“Jangan, Tuan. Kalau rumah ini diambil, di mana 
kami harus tinggal?” iba lelaki tua pemilik warung itu 
dengan wajah memelas. 
“Itu urusan kalian. Yang penting hari ini kalian ha-
rus bayar hutang kepada saudagarku. Mengerti?!” ben-
tak lelaki beringas itu lagi. 
“Tapi...,” kata lelaki tua pemilik warung seraya men- 
dekat untuk meminta belas kasihan. 
“Ah..., sudah!” hardik lelaki tadi sambil mendorong 
tubuh lelaki tua pemilik warung hingga jatuh. 
Melihat suaminya terjatuh, perempuan tua pemilik 
warung menjerit ketakutan. Sehingga anak gadisnya 
yang sejak tadi berada di dalam, keluar untuk menge-
tahui apa yang terjadi. 
Melihat kecantikan gadis yang keluar tergopoh-go-
poh itu, mata lelaki berwajah bengis tadi memperhati-
kan dengan penuh birahi. 
“Rupanya diam-diam kau mempunyai seorang anak 
gadis juga, Pak Tua,” kata lelaki tadi, masih meman-
dangi sang gadis. 
Mendengar kata-kata itu, istri pemilik warung sege-
ra mendekap anaknya erat-erat. Ia sudah tahu mak-
sud ucapan lelaki itu. 
“Pak Tua, hutangmu kubebaskan. Dengan syarat 
anak gadis itu harus ikut bersama kami,” ucap lelaki 
bengis itu kembali, disambut gelak tawa teman-
temannya. 
“Jangan, Tuan. Berilah tempo kepada kami tiga hari 
lagi. Kami akan melunasi!” pinta lelaki tua pemilik wa-
rung sambil menyembah-nyembah. 
“Puih! Aku muak dengan tempo yang kamu janjikan 
itu!” bentak lelaki tadi. Ia bangkit dari duduknya dan 
menghampiri anak gadis pemilik warung itu. Diikuti 
oleh kedua temannya. 
“Cantik juga anakmu ini!” seloroh lelaki bengis itu, 
sementara tangannya menyentuh pipi anak gadis pe-
milik warung. 
Gadis itu mundur ketakutan sambil memegang erat 
pinggang ibunya. 
“Jangan takut, manis. Kami akan membahagia-
kanmu di sana,” kata lelaki tadi sambil memeluk bahu  
sang gadis, dibantu oleh kedua temannya sehingga 
anak gadis itu terlepas dari pelukan ibunya. 
“Lepaskan. Jangan ganggu aku!” gadis itu meronta-
ronta. Namun usahanya untuk memberontak malah 
membuat ketiga lelaki itu semakin senang. 
Lelaki bermata sipit yang sejak tadi hanya duduk 
sambil tersenyum melihat tingkah teman-temannya 
segera bangkit dan menghampiri. 
“Bodong, bawa anak gadis itu ke dalam! Ini ba-
gianku yang pertama,” ujar lelaki bermata sipit itu. 
Lelaki berwajah bengis yang bernama Bodong me-
noleh ke arah temannya yang bermata sipit. 
“Bukankah ini untuk persembahan saudagar kita?” 
tanya si Bodong. 
“Sekali-sekali saudagar kita mendapatkan ampas-
nya tidak apa-apa, bukan?” jawab lelaki bermata sipit, 
diiringi gelak tawa teman-temannya. Lalu mereka me-
narik paksa gadis itu untuk masuk ke dalam kamar. 
“Lelaki pengecut! Beraninya hanya pada lelaki tua 
dan perempuan yang tak berdaya!” tiba-tiba terdengar 
bentakan seorang perempuan yang tak lain suara Bong 
Mini yang sejak tadi memperhatikan sepak-terjang 
keempat lelaki itu. 
Laki-laki bermata sipit, Bodong dan kedua teman-
nya serentak menoleh ke sudut ruangan, di mana 
Bong Mini duduk dengan tenang memperhatikan me-
reka. 
“He..., rupanya sejak tadi ada perempuan cantik di 
kedai ini,” kata lelaki sipit dengan  mata memperhati-
kan Bong Mini. Wajahnya terkagum-kagum karena ke-
cantikan Bong Mini. 
“Puih!” Bong Mini membuang ludah sebagai tanda 
kebenciannya. Lalu kakinya melangkah sampai ke de-
kat pintu. “Lepaskan perempuan itu!” bentak Bong 
 
Mini tegas. Sorot matanya tajam menandakan kemara-
hannya. 
Mendapat bentakan dari seorang perempuan cantik 
yang mungil itu, keempat lelaki tadi tertawa terbahak-
bahak. 
“Tentu..., tentu. Asal Nona bersedia menggantikan-
nya,” ledek lelaki bermata sipit, diiringi oleh gelak ta-
wa. 
“Boleh. Asal bisa melangkahi mayatku!” jawab Bong 
Mini menantang. Tanpa menunggu lama lagi, tubuh-
nya segera melesat ke luar kedai. 
Beberapa saat keempat lelaki itu tercengang melihat 
lompatan Bong Mini yang demikian ringan dan cepat. 
Tapi tak lama kemudian mereka pun tertawa sambil 
menghampiri Bong Mini yang sudah berdiri tegak 
menghadap mereka. 
“Rupanya nona cantik ini memiliki ilmu peringan 
tubuh yang cukup lumayan,” tukas lelaki bermata sipit 
itu di sela-sela tawanya. 
“Kalian jangan hanya bermulut besar. Majulah ka-
lau memang kalian mengaku sebagai lelaki!” tantang 
Bong Mini, memancing emosi lawan. 
Mendapat tantangan itu, lelaki bermata sipit kem-
bali tertawa keras. Begitu pula dengan ketiga teman-
nya. 
“Aku tidak sampai hati melukai tubuh Nona yang 
mulus itu. Apalagi tubuh Nona begitu kecil yang ting-
ginya hanya setengah dari badan kami,” ucap lelaki 
bermata sipit itu setengah mengejek. 
Betapa marahnya Bong Mini mendapat ejekan se-
perti itu. Namun ia mencoba bersikap tenang. 
“Jangan banyak bicara, Kecoa Kakus! Ayo, maju-
lah!” tantang Bong Mini. 
“Japra, majulah kamu sendiri. Kau pasti bisa meng- 
gendong gadis mungil itu,” perintah lelaki bermata sipit 
diiringi gelak tawa kedua temannya. 
Bong Mini benar-benar marah. Ia merasa dileceh-
kan oleh lawannya. Maka ketika Japra dengan santai 
hendak memeluknya, Bong Mini segera menyambut 
dengan sebuah tendangan. Tepat mengenai lehernya. 
Sehingga Japra terjatuh ke samping. 
Ketiga temannya tertawa tergelak-gelak ketika meli-
hat Japra terjatuh. 
“Ayo bangun, Japra! Masa’ kalah dengan anak ke-
cil?!” teriak lelaki bermata sipit. 
Japra bangun dengan muka merah. Ia merasa telah 
dibuat malu oleh gadis yang dianggapnya kecil itu. La-
lu ia pun menghampiri dengan sikap hati-hati. 
Bong Mini yang sudah dikuasai marahnya kembali 
menyambut lawannya dengan tendangan tipuan. Lalu 
disusul dengan tendangan melintir sehingga Japra ter-
jatuh agak keras. 
Bug! 
“Bangsat! Kau tidak boleh dikasih hati rupanya!” ge-
ram Japra. Langsung bangun dan menerjang Bong 
Mini. Tapi Bong Mini memanfaatkan tubuhnya yang 
mungil. Ia menjatuhkan diri ke depan, lalu berbalik 
menyerang Japra dengan tendangan yang begitu keras. 
Tepat mengenai ‘burung’nya. 
Tubuh Japra terhuyung ke depan sambil memegan-
gi burungnya yang nyaris pecah. 
Bug! 
Tubuh Japra tersungkur ke tanah. Wajahnya mem-
bentur batu dengan keras, sehingga mengeluarkan da-
rah dari hidung dan mulutnya. 
Melihat Japra tak bisa bangun lagi karena menahan 
sakit pada wajah dan burungnya, lelaki bermata sipit 
menjadi geram. Ia segera memerintah kedua temannya, 
 
Kedot dan Bodong untuk menangkap Bong Mini. Tapi 
sebelum mereka menyentuh tubuh Bong Mini, Bong 
Mini segera membuang satu lompatan ke atas lantas 
sepasang kakinya menendang kedua lawan sekaligus. 
Bodong dan Kedot terjerembab ke belakang. Sebab 
walaupun tubuh Bong Mini lebih kecil dari lawannya, 
tapi setiap pukulan selalu diiringi dengan ilmu tenaga 
dalam. Dan ilmu tersebut yang pertama kali dite-
rapkan Bongkap kepada putrinya. Mengingat tubuh 
Bong Mini yang kecil itu takkan mampu menjatuhkan 
lawan dengan pukulan sekeras apa pun, bila tidak di-
imbangi dengan ilmu tenaga dalam. 
Kedua lawannya bangkit kembali. Wajah mereka be-
rubah bengis. Tidak menyangka kalau gadis bertubuh 
mungil itu mempunyai pukulan yang demikian keras. 
“Gadis ini tidak boleh diajak main-main kalau kita 
tidak mau dibuat malu!” geram Bodong kepada Kedot. 
Lalu ia meluruk dengan cepat ke arah Bong Mini. Di-
susul dengan serangan yang dilakukan oleh Kedot. Ta-
pi dengan gesit, Bong Mini segera melompat dan hing-
gap dengan ringan di sebuah batang pohon. 
“Hi hi hi...!” Bong Mini tertawa melihat lawannya 
hanya menatap melongo ke arahnya. “Inilah kelebihan 
orang bertubuh kecil!” teriak Bong Mini. 
“Hm..., dia benar-benar memiliki kepandaian ilmu 
bela diri yang tidak boleh dianggap remeh!” gumam le-
laki bermata sipit sambil memandang Bong Mini yang 
dengan santai duduk di atas sebatang pohon. 
“Hei, bocah perempuan tengik, turunlah! Aku ke-
pingin menguji kehebatan ilmu yang kau miliki!” teriak 
lelaki bermata sipit. 
“Nah, begitu dong. Saya baru serius melawan ka-
lian!” teriak Bong Mini sambil meloncat dengan ringan 
ke bawah. 
 
“Ayo, majulah kalian biar urusan cepat selesai,” 
tantang Bong Mini dengan kuda-kuda siap mengada-
kan perlawanan. 
“Bangsat! Kau benar-benar bocah perempuan tengik 
yang tidak boleh dikasih hati!” maki lelaki bermata si-
pit  seraya menyerang Bong Mini, diikuti oleh kedua 
temannya. 
Mendapat serangan serentak dari tiga lawannya, 
tubuh Bong Mini meloncat dan bersalto. Lalu kembali 
berdiri tegak. 
Bahaya. Kalau aku tidak mempergunakan pedang 
ini, perkelahian akan berlarut-larut, bisik hati Bong 
Mini. Lalu tangannya segera mencabut pedang. 
Sreset! 
Pedang Bong Mini berkilat-kilat karena ditimpa si-
nar matahari yang memancar panas. 
Melihat Bong Mini mengeluarkan pedang, ketiga la-
wannya mulai berhati-hati. Mereka merasa bahwa 
Bong Mini benar-benar akan membunuh mereka. Ma-
ka dengan serentak ketiga lawannya itu menyerang 
Bong Mini dari berbagai penjuru. Tapi dengan kelebi-
han yang dimiliki tubuhnya, Bong Mini kembali melen-
ting sambil mengayunkan pedangnya ke salah seorang 
lawan. 
Srettt! 
Pedang Bong Mini membabat pundak Kedot dengan 
keras. Membuat lawannya itu meringis kesakitan sam-
bil memegangi bahunya yang banyak mengeluarkan 
darah. 
Lelaki bermata sipit bersama Bodong tidak tinggal 
diam. Mereka menyerang Bong Mini dengan gencar. 
Namun Bong Mini tak kalah gesit. Tubuhnya melompat 
kian kemari dan sesekali bersalto dengan lincah. Se-
hingga lawannya bingung melihat tubuh Bong Mini  
berputar-putar bagai baling-baling kapal. 
Bong Mini mempergunakan kesempatan itu dengan 
melancarkan serangan kilat. 
Bug! Bug! 
Srettt! 
Dua pukulan beruntun mengenai rahang lelaki 
bermata sipit dan punggung Kedot. Sedangkan pedang 
yang digenggamnya menyabet Bodong. Tepat pada pu-
sarnya yang menyembul sehingga dalam sekejap tu-
buhnya terjatuh tanpa berkutik lagi. 
“Maaf, lain kali kita lanjutkan lagi!” seru Bong Mini. 
Lalu tubuhnya melesat duduk di atas punggung kuda 
lantas memacunya dengan cepat. 
Japra, Kedot, dan lelaki bermata sipit itu meman-
dang kepergian Bong Mini sambil meringis menahan 
sakit. Pukulan tenaga dalam yang dilancarkan Bong 
Mini tadi telah membuat keduanya muntah darah. 
 
*** 
 
55  
 
Malam itu, Bongkap dan para pengawalnya tampak 
begitu gelisah. Bong Mini, putri kesayangan satu-
satunya belum juga pulang. Padahal sebelum putrinya 
keluar, ia sudah memperingatkan untuk tidak berja-
lan-jalan jauh. Tapi nyatanya sampai malam begini, ia 
belum pulang juga. 
Dua orang pengawal yang disuruh mencari Bong 
Mini sejak sore tadi sudah kembali. Tapi mereka tidak 
berhasil mendapatkan Bong Mini. Padahal, nanti ma-
lam Bongkap bersama para  pengawalnya akan mela-
kukan aksi perampokan lagi yang kali ini akan dilaku- 
kan di daratan. Karena menurut informasi, nanti ma-
lam akan lewat kereta barang yang dibawa dari kapal 
di Selat Malaka menuju Padangmoro, sebuah kota kecil 
di mana saudagar pemilik kereta barang itu berada. 
Kalau sampai tengah malam nanti Bong Mini belum 
juga pulang, tentu rencana itu dibatalkan. Jika renca-
na itu diteruskan, ia khawatir Bong Mini akan mencu-
rigainya, lalu pada akhirnya memergoki sepak-
terjangnya selama ini. 
Bongkap mendesah kesal. Kalau saja bukan Bong 
Mini yang membuatnya gelisah, tentu ia akan marah. 
Tapi karena yang membuat ulah itu putrinya, maka 
kemarahannya ia simpan sebisanya. Bagaimanapun 
juga ia tidak ingin memarahi putri yang dikasihinya 
itu. 
Pada saat seisi rumah itu gelisah, tiba-tiba terde-
ngar suara dari luar. “Pa...!” 
Bongkap yang sejak tadi gelisah di kursinya menda-
dak berubah gembira. Ia berdiri menyambut kedatan-
gan putrinya. 
“Kau, Sayang. Dari mana saja, hm...?” tanya Bong-
kap seraya merangkul putrinya dan membelai-belai 
rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. 
“Maafkan saya, Papa. Saya telah membuat Papa dan 
seisi rumah ini gelisah,” ucap Bong Mini sambil mena-
tap Bongkap dengan wajah berseri. 
“Ya. Ya. Papa maafkan. Tapi tolong jelaskan dulu 
dari mana kamu?” sahut Bongkap sambil bertanya. 
“Saya telah melanggar janji, Papa.” 
“Hm...?” Bongkap tidak mengerti. 
“Saya telah pergi jauh, Papa,” jawab Bong Mini, 
mengakui terus terang akan pelanggaran janjinya. 
“Pergi jauh ke mana, hm...?” tanya papanya ingin 
tahu. 
 
Bong Mini melepaskan pelukannya, melangkah me-
nuju kursi. Sedangkan pedangnya diletakkan di atas 
meja. Kemudian ia menceritakan peristiwa-peristiwa 
yang dilihat dan dialaminya. Bong Mini juga menceri-
takan mengenai perjumpaannya dengan seorang pe-
rempuan tua dan seorang anak perempuan yang te-
ngah kelaparan. 
“Rupanya masih ada penduduk sekitar sini yang 
menderita kelaparan,” tutur Bong Mini seraya meman-
dang papanya sungguh-sungguh. 
“Itu salah satu cermin kehidupan manusia. Ada 
yang kaya, ada yang miskin,” sahut Bongkap. “Terus-
kan!” 
Bong Mini menghela napas. 
“Dari perempuan tua itu saya banyak mendengar 
cerita yang sangat menarik. Dia mengatakan bahwa 
penduduk sekitar Desa Grojogan tengah diguncang 
prahara. Ada seorang perampok yang menyamar seba-
gai dermawan!” 
Bongkap kaget mendengar keterangan putrinya itu. 
Begitu pula dengan para pengawalnya. Mereka khawa-
tir kalau perkataan Bong Mini tadi merupakan tudu-
han buat dirinya. Bukankah hasil rampokannya ia ba-
gikan kepada para penduduk? Kalau memang benar 
yang  dimaksud, berarti ada orang yang mengetahui 
perbuatannya, tapi siapa? 
Bongkap mencoba bersikap tenang. Ia tidak ingin 
putri yang disayanginya itu menaruh curiga padanya. 
“Siapakah gerombolan perampok itu?” pancing 
Bongkap ingin tahu. 
Bong Mini kemudian menceritakan sepak-terjang 
para perampok itu. Sesuai dengan keterangan dari pe-
rempuan tua yang ia kunjungi. Ia juga menceritakan 
tentang kerakusan para perampok tersebut dalam  
menghadapi perempuan. 
“Bila melihat perempuan, mereka langsung memak-
sanya. Diri para perampok itu telah dikuasai oleh iblis-
iblis liar,” cetus Bong Mini dengan nada suara yang 
agak marah. 
Bongkap menghela napas lega. Perampok yang di-
katakan Bong Mini ternyata bukan dia. 
“Setelah saya keluar dari rumah nenek itu, saya ba-
ru sadar kalau perjalanan sudah demikian jauh. Ke-
mudian saya berniat untuk kembali pulang. Sebelum 
itu saya mampir ke sebuah warung di Kampung Du-
kuh untuk makan. Tapi ketika saya sedang asyik me-
nikmati makanan, tiba-tiba datang empat lelaki berwa-
jah garang. Ternyata mereka perampok yang berpura-
pura dermawan itu,” ungkap Bong Mini. 
“Jadi kamu langsung bertemu dengan para peram-
pok itu?” tanya Bongkap. Ia mengira pasti terjadi per-
kelahian antara putrinya dengan keempat perampok 
itu. 
“Ya, Papa. Malah saya sempat bertempur dengan 
keempat perampok itu ketika mereka hendak menodai 
seorang anak gadis pemilik warung itu,” sahut Bong 
Mini. 
“Papa sudah menduga. Tapi bagaimana kelanjutan-
nya?” 
“Satu dari keempat orang itu tewas. Sedangkan ke-
tiga lelaki lain saya buat cidera untuk bukti kekalahan 
di hadapan pemimpin mereka nanti,” jawab Bong Mini. 
Kemudian bibirnya tersenyum bangga. 
Bongkap mengusap-usap kepala putrinya dengan 
bangga pula. Ia senang kalau putrinya telah mampu 
menghadapi empat orang lawan, sekaligus menga-
lahkannya. 
“Papa kagum atas kemampuanmu. Tapi ingat, ke- 
berhasilanmu itu jangan dijadikan sebagai satu ke-
sombongan. Sebab walaupun ada manusia yang hebat, 
tak pernah tertandingi oleh siapa pun juga, tapi masih 
ada yang bisa mengalahkannya dengan seketika,” ucap 
Bongkap mengingatkan putrinya. 
Bong Mini tercekat kaget. Ia heran, orang yang tak 
pernah terkalahkan seperti kata papanya tadi, kok ma-
sih bisa dikalahkan? 
“Siapa yang dapat mengalahkan orang jago itu, Pa-
pa?” tanya Bong Mini ingin tahu. 
“Yang Maha Kuasa,” jawab Bongkap tenang. Namun 
cukup membuat putrinya, para pengawal serta da-
yang-dayangnya tercengang. Mereka tercengang karena 
baru kali ini mendengar Bongkap menyebut nama 
Yang Kuasa. 
“Kau harus ingat kata-kata papa yang satu ini!” 
“Apa, Papa?” 
“Jangan sombong!” kata papanya memperingatkan. 
Sebab walaupun ia sekarang menjadi seorang pemim-
pin perampok, ia tidak ingin sifat-sifat jeleknya itu me-
nurun pada anaknya. Dia berharap, biarlah sifat-sifat 
Bong Mini menyerupai ibunya, Sinyin. Sedangkan ke-
beranian di medan perang, Bong Mini harus mengikuti 
jejaknya. Karena memang itu persyaratan orang yang 
terjun ke medan perang. Berani dan harus sadis. Ka-
lau mau jadi singa, jadilah singa jantan, jangan betina. 
Itu prinsip Bongkap kala ia berada di medan laga. 
“Kesombongan tidak akan abadi. Kita akan hancur 
ditelan kesombongan itu sendiri!” lanjut Bongkap me-
nasihati putrinya. 
Bong Mini menatap papanya dengan penuh keka-
guman. Bibirnya tersenyum dan papanya dipeluk erat. 
“Sekarang pergilah makan dan istirahat. Tentu kau 
lapar dan lelah,” bisik Bongkap ketika membalas deka- 
pan putrinya. 
“Ya, Papa!” Bong Mini melepaskan rangkulannya. 
Lalu dengan lincah ia masuk ke dalam. 
“Bibi, temanilah putriku!” perintah Bongkap kepada 
tiga orang dayangnya. 
Ketiga dayang itu membungkuk memberi hormat. 
Lalu mereka menggeser badan ke belakang. Setelah 
mundur dua langkah dari Bongkap, mereka berdiri 
dan langsung melangkah ke dalam. Itu adalah salah 
satu adat kerajaan, di mana bawahan harus tetap tun-
duk dan hormat. Berdiri tidak sama tinggi. Duduk pun 
tidak sama rendah. Itulah pepatah yang lebih tepat un-
tuk perbedaan raja dan bawahan. 

Sepeninggalan putrinya, Bongkap jadi berpikir. Ka-
lau tadi ia cemas karena putrinya belum pulang, kini 
ia cemas dengan cerita Bong Mini yang telah berhasil 
merobohkan empat orang lawannya. Sebab tidak mus-
tahil tiga di antara empat orang yang dibiarkan hidup 
itu akan melapor kepada pemimpin mereka. Dan bila 
dugaan ini benar, maka putrinya akan terancam ba-
haya yang lebih besar. Mereka akan berusaha mencari 
putrinya. Berusaha menangkap dan menyerangnya. 
Sehingga mau tidak mau akan melibatkan dirinya dan 
para pengawal kerajaan. Bila benar, kelanjutan peris-
tiwa putrinya akan menjadi masalah yang besar. 
Sebenarnya bukan masalah penyerangan yang ia 
khawatirkan. Baginya, masalah pertempuran atau pe-
kik kematian di tengah bau amis darah merupakan hal 
yang sudah biasa. Itu sudah menjadi bagian hidup 
Bongkap bersama para pengikutnya. Tapi yang ia 
khawatirkan kalau pertempuran itu akan melibatkan 
para penduduk yang tidak berdosa. Padahal penduduk 
negeri Selat Malaka yang berada di bawah pimpinan-
nya itu tengah mengalami bencana kemiskinan dan ke- 
laparan. 
Tapi kalau memang harus terjadi, apa boleh buat. 
Sebagai raja baru di negeri Selat Malaka ini aku harus 
bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dan kea-
manan rakyat. Baik dalam masalah kebutuhan hidup 
mereka sehari-hari maupun terhadap rongrongan pi-
hak luar! Pikir Bongkap akhirnya, mengambil keputu-
san. Lalu ia pun menjatuhkan diri di kursi kerajaan 
untuk melepaskan ketegangan pikirannya. Tanpa tera-
sa ia tertidur di singgasananya. 

*** 

“Bibi. Tinggalkanlah saya sendirian di sini,” ucap 
Bong Mini kepada ketiga dayangnya ketika sampai di 
kamar. 
“Tapi papa Nona menyuruh kami untuk menemani 
di sini!” ucap seorang dayang yang sangat patuh ter-
hadap perintah rajanya. 
“Tidak apa-apa, Bibi. Papa tidak akan marah. Kalau 
papa bertanya, bilang saja bahwa itu kemauanku!” ki-
lah Bong Mini. 
Ketiga dayang itu saling berpandangan. Mereka me-
rasa serba salah. Kalau kemauan putri Bong Mini di-
ikuti, berarti mereka telah menentang perintah ra-
janya. Tapi kalau tetap berpegang pada perintah raja, 
Bong Mini sendiri meminta mereka untuk meninggal-
kannya sendirian di kamar. Namun akhirnya ketiga 
dayang itu mengikuti kehendak Bong Mini. Pikir mere-
ka, Bong Mini merupakan putri kesayangan raja satu-
satunya. Tentu raja akan mengabulkan kehendak 
Bong Mini. Dan tentunya mereka tidak akan dimarahi. 
Setelah membungkuk hormat kepada Bong Mini, 
ketiga dayang itu segera melangkah keluar. Meninggal-
kan putri rajanya sendirian di dalam kamar. 
 
Bong Mini menghela napas lega. Lalu segera mere-
bahkan badannya di atas kasur dengan mata meman-
dang langit-langit kamar. Sedangkan pikirannya terus 
tertuju pada peristiwa-peristiwa yang dilihat dan di-
alaminya ketika ia keluar rumah seharian suntuk. 
Kasihan para penduduk di sini, harus mendapat te-
kanan-tekanan dari pihak luar. Padahal mereka orang-
orang polos dan jujur. Yang selalu bersikap ramah-
tamah terhadap siapa pun tanpa rasa curiga berlebi-
han. Malah kehadiranku di negeri ini pun mereka 
sambut dengan baik dan penuh penghormatan. Begitu 
pikiran yang ada di benak Bong Mini setelah mengada-
kan perjalanan keliling kampung. Karena perjala-
nannya itu bukan sekadar melihat-lihat keadaan kam-
pung, tetapi juga mencoba memahami segala adat dan 
kebiasaan para penduduknya. Sebab bagaimanapun 
juga adat dan kebiasaan negeri Selat Malaka akan ber-
beda dengan adat kebiasaannya sebagai orang yang 
berasal dari negeri Tiongkok. Oleh karena itu ia ingin 
mencoba mempelajari dan mengikuti adat di negeri 
yang belum lama diinjaknya ini. 
Setelah pikirannya terpusat pada nasib dan keada-
an penduduk, kini pikiran Bong Mini beralih pada em-
pat orang lelaki yang telah dikalahkannya. Dia berpikir 
bahwa kematian salah seorang dari mereka di ta-
ngannya itu pasti akan menimbulkan dendam yang 
berkepanjangan. Mereka tentunya akan kembali men-
carinya dengan jumlah yang lebih banyak. 
“Apa pun yang terjadi nantinya, harus kuhadapi. 
Setiap perbuatan akan membawa akibat dan akibat itu 
sudah aku perhitungkan!” desah Bong Mini. Lalu ia 
pun memejamkan kedua matanya yang sudah perih. 

*** 
 
“Bagaimana dengan rencana kita, Tuanku?” tanya 
Ashiong, salah seorang pengawal setia Bongkap yang 
sejak tadi berada di dalam, menunggu rajanya yang 
tertidur di kursi kebesaran. 
Bongkap yang baru saja terbangun dari tidurnya 
tersentak kaget. Teguran Ashiong telah mengingatkan-
nya pada rencana semula. Lalu dengan sikap hati-hati, 
karena takut ketahuan putrinya, Bongkap mendekati 
Ashiong dan berkata setengah berbisik. 
“Siapkan saja kuda-kuda kita di luar dan jaga. Aku 
akan ke kamar putriku dulu!” 
“Baik, Tuan!” ucap Ashiong. Lalu dia dan pengawal 
lainnya keluar untuk mempersiapkan kuda. 
Bongkap belum beranjak dari kursinya. Hatinya 
mulai bimbang pada rencana perampokan yang akan 
dilakukannya. Apakah ia akan melaksanakan rencana 
itu atau dibatalkan. Bila dilaksanakan, ia khawatir di-
ketahui putrinya. Sehingga nanti putrinya akan perla-
han-lahan membencinya. Tapi kalau dibatalkan, ia me-
rasa sayang. Sebab kereta kuda yang akan mereka 
rampok nanti malam memuat emas dan berlian yang 
tentu harganya sangat mahal. 
“Hhh...!” Bongkap mendesah sambil menjatuhkan 
kepalanya pada sandaran kursi belakang. 
Sementara itu waktu terus berputar tanpa terasa. 
Malam pun terus merangkak menghampiri sunyi. Se-
hingga suasana malam benar-benar senyap. Hanya 
suara jangkrik yang terdengar mengerik di balik pepo-
honan dan rumputan. 
Bongkap bangkit dari duduknya, lalu melangkah 
mendekati kamar putrinya. Di sana ia melihat putrinya 
sudah tergolek pulas. Mungkin karena rasa letih sete-
lah sehari penuh berkeliling kampung dan bertempur 
hingga ia tertidur begitu lelap. 
 
Bongkap menarik napas lega melihat putrinya su-
dah tertidur. Dengan langkah pelan ia meninggalkan 
kamar putrinya, langsung menuju halaman rumah di 
mana para pengawalnya menunggu. 
“Kita segera berangkat!” ajak Bongkap kepada para 
pengawalnya yang sudah siap di punggung kuda mas-
ing-masing. 
“Hiaaat!” teriak Bongkap sambil menarik tali ku-
danya. Kuda yang ditungganginya melesat cepat, me-
nembus kegelapan. Diikuti oleh para pengawalnya. 

*** 

“Mama! Mama!” teriak Bong Mini dalam tidurnya. 
Tangannya menggapai-gapai seakan memanggil. “Ma-
ma jangan pergi, Ma!” teriak Bong Mini dalam igaunya. 
Disusul dengan suara tangis tersedu-sedu. 
Setelah beberapa saat menangis, Bong Mini tersadar 
dari tidurnya. Ia membuka kedua matanya yang basah 
oleh air mata. Lalu pandangannya menyebar ke selu-
ruh ruangan kamar. 
Bong Mini menghela napas panjang. 
“Hm..., ternyata aku bermimpi,” desah Bong Mini 
dengan lesu. Lalu kembali dibaringkan tubuhnya un-
tuk tidur. Namun sebelum ia memejamkan kedua ma-
tanya, tiba-tiba ia teringat pada ucapan mamanya da-
lam mimpi tadi. 
“Pergilah ke utara malam ini juga!” itulah kalimat 
yang diucapkan mamanya dalam mimpi tadi. 
Pergi ke utara? Malam ini juga? Pikir Bong Mini. La-
lu ia duduk kembali di atas ranjang. Ada apa, ya? Dan 
kenapa mama menyuruhku berangkat malam ini juga? 
Kenapa tidak besok pagi saja? Pikir Bong Mini. 
Sebenarnya Bong Mini malas pergi malam itu. Se-
lain badannya masih terasa letih, ia juga masih merasa  
ngantuk. Tapi untuk membuktikan ucapan mamanya 
dalam mimpi itu, Bong Mini akhirnya beranjak juga 
dari tempat tidur. Mengganti pakaian dengan pakaian 
silat dan menyelipkan pedangnya di punggung. 
Bong Mini melangkah menghampiri jendela kamar. 
Dibukanya jendela kamar itu perlahan. Dengan mem-
pergunakan ilmu peringan tubuh, ia meloncat keluar. 
Setelah itu ia berjalan mengendap-endap, khawatir di-
ketahui oleh para pengawal papanya. 
Bong Mini menyelinap lewat belakang menuju kan-
dang kuda. Di sana matanya melihat penunggu kan-
dang kuda sedang berjaga-jaga sambil sesekali meng-
uap menahan kantuk. Ketika melihat kedatangan Bong 
Mini ke tempat itu, ia menjadi terkejut. 
“Ada apa Nona Mini malam-malam begini datang ke 
sini?” tanya penjaga kuda itu keheranan. 
“Ssst!” Bong Mini memberi isyarat dengan menem-
pelkan jari telunjuknya ke bibir. “Saya mau keluar. 
Tapi jangan bilang papa, ya?” bisik Bong Mini. Lalu ia 
memberikan tiga keping uang dari balik bajunya kepa-
da penjaga itu. Ia mengira Bongkap dan para penga-
walnya tidak keluar rumah. 
Mendapat tiga keping uang dari Bong Mini, penjaga 
kuda tadi tersenyum-senyum senang. Lalu tanpa me-
nunggu perintah Bong Mini, ia masuk ke kandang ku-
da dan mengambil kuda Bong Mini yang berwarna pu-
tih. 
“Ini, Non kudanya!” 
Bong Mini tersenyum seraya mengambil tali kuda 
dari tangan penjaga itu. Kemudian ia melompat dan 
duduk di atas punggung kuda. 
“Ingat pesan saya tadi, ya?” Bong Mini memper-
ingatkan penjaga kuda itu sebelum memacu kudanya. 
“Pokoknya beres, Non!” sahut penjaga kuda itu  
nyengir-nyengir karena masih gembira mendapatkan 
uang dari Bong Mini. 
Bong Mini tersenyum. Lalu ia menarik tali kudanya 
pelan-pelan agar langkah-langkahnya tidak menimbul-
kan suara. Ketika sampai di luar halaman, barulah ia 
memacu kudanya lebih cepat lagi. 
Setelah agak lama ia memacu kuda, Bong Mini tiba-
tiba menarik tali kudanya agar berjalan perlahan. Di 
sana ia melihat persimpangan jalan. Yang satu menuju 
Dusun Buncit dan satu lagi ke Bukit Garang. 
Bong Mini berpikir, jalan mana yang harus ia lalui. 
“Hm..., aku ambil jalan sini saja,” gumam Bong Mini 
mengambil jalan ke arah utara yaitu menuju Bukit Ga-
rang. 
Setelah beberapa kilo jalan dilalui Bong Mini, tiba-
tiba ia melihat serombongan orang berkuda sedang 
berjalan di balik bukit. Mereka begitu banyak, sekitar 
lima belas orang. 
“Hm..., siapa mereka. Dan apa yang akan mereka 
kerjakan malam-malam begini?” gumam Bong Mini. 
Terus diikutinya rombongan orang berkuda itu. Dan 
betapa terkejutnya ia ketika melihat papanya ada di 
antara rombongan orang berkuda itu. Papanya me-
nunggang kuda dengan gagah. Sedangkan rombongan 
itu pun sangat dikenalnya. Itulah para pengawal pa-
panya. Walau di malam hari, wajah orang-orang ber-
kuda itu terlihat jelas oleh Bong Mini karena sorotan 
sinar bulan yang tidak begitu terang. 
“Orang yang duduk dengan gagah itu pasti papa!” 
desah Bong Mini, meyakinkan penglihatannya. Lalu, 
ada apa malam-malam begini papa keluar rumah de-
ngan membawa pasukan yang banyak dan bersenjata? 
Bong Mini bertanya-tanya dalam hati sambil terus 
mengikuti papanya dan para pengawalnya. 
 
Bong Mini memperlambat jalan kudanya. Mencoba 
mengatur jarak agar tidak terlalu dekat, sehingga tidak 
terlihat oleh rombongan papanya. Ia tampak begitu he-
ran. Para pengawalnya yang biasanya terlihat sopan 
dan ramah kini berubah beringas. Sikap mereka tam-
pak begitu garang, seperti hendak bertempur. 
“Mereka berhenti,” gumam Bong Mini yang juga 
menghentikan langkah kudanya. 
“Segera buat penghalang!” perintah Bongkap de-
ngan suara keras berwibawa memecah kesunyian ma-
lam. 
Heh? Aku baru mendengar suara papa yang demi-
kian garang, pikir Bong Mini tersentak kaget. Tapi tu-
buhnya tetap diam sambil terus memperhatikan ting-
kah-laku para pengawal papanya yang tengah men-
gangkat sebatang pohon tumbang dan meletakkannya 
di tengah jalan. 
Para pengawal papa membuat penghadang jalan 
agar kuda atau kereta tidak bisa melalui jalan itu. Ini 
jelas bahwa papa dan pasukannya hendak mengada-
kan penyerangan. Tapi siapa musuh papa? Selama ini 
aku tidak mendengarnya. Kecuali ketika masih tinggal 
di Tiongkok. Itu pun telah berbaik kembali. Karena pa-
ra musuh papa dahulu adalah orang-orang kecil yang 
sekarang menjadi pengikut papa. Tapi di sini, siapa 
yang menjadi musuh papa? Bong Mini bertanya jawab 
dalam batinnya. Dan jawaban itu pun belum ia dapat 
secara pasti. 
Setelah merasa yakin bahwa papanya dan para 
pengawal tidak akan ke  mana-mana lagi, Bong Mini 
segera mengikat kudanya pada sebuah pohon yang ter-
lindung dari penglihatan rombongan papanya. Se-
dangkan ia sendiri memanjat sebuah pohon rimbun 
dan duduk pada salah sebuah batang yang cukup be- 
sar dan cukup nyaman untuk diduduki. Di situ, ia 
dengan leluasa dapat melihat tingkah-laku papanya 
bersama para pengawal. 
Malam semakin larut. Sinar rembulan yang tadi 
samar-samar memancar ke segenap penjuru bumi, 
perlahan-lahan sirna ditelan oleh awan yang berge-
rombol, sehingga suasana menjadi pekat. 
Setelah melaksanakan tugasnya dengan baik, para 
pengawal bersama Bongkap segera bersembunyi di ba-
lik semak-semak. 
Bong Mini semakin keheranan melihat tingkah papa 
bersama para pengawalnya. Ada apa sebenarnya? 
Apakah papa dan para pengawalnya benar-benar akan 
melakukan penyerangan? Kalau memang benar pasti 
mengasyikkan! Sebab ia akan menyaksikan pertempu-
ran yang amat seru. Sekaligus melihat jurus-jurus il-
mu silat papa yang memikat itu. Dan ia merasa yakin 
pasti kemenangan berada pada pihak papanya.  Tapi 
yang membuat Bong Mini heran adalah musuhnya. 
Sebab selama ini papanya tidak pernah bercerita me-
ngenai musuh-musuhnya. Lagi pula mereka belum la-
ma tinggal di negeri itu. 
Malam terus merangkak. Kegelapan malam yang ta-
di terlihat begitu pekat, perlahan-lahan lenyap. Pohon-
pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu mulai keliha-
tan bentuknya. Walaupun masih samar-samar. 
Dari ufuk timur, cahaya merah mulai tampak. Per-
tanda bahwa waktu pagi telah menjelang. Dan itu te-
rus terjadi setiap pagi, sesuai dengan aturan yang te-
lah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. 
Dalam keremangan cahaya surya pagi yang me-
nembus kabut tebal, Bong Mini dengan jelas dapat me-
lihat orang-orang yang menjadi pengawal papanya itu. 
Ada yang tertidur, ada pula dua orang yang tetap ber- 
jaga-jaga, khawatir orang yang ditunggu mereka telah 
melewati jalan itu. 
Bong Mini menguap panjang. Matanya tampak 
kuyu. Begitu pula dengan wajahnya yang putih, keliha-
tan makin pucat karena semalaman suntuk ia terus 
terjaga karena ingin mengetahui apa yang akan terjadi. 
Dari jarak beberapa meter, Bong Mini melihat pa-
panya terbangun. Dia berdiri sambil menggeliat pan-
jang. Disusul kemudian dengan menghentak-hen-
takkan kaki yang menyentuh para pengawal yang se-
dang tidur pulas. 
Para pengawal yang tertidur itu bangun satu persa-
tu ketika merasa tubuhnya ada yang menendang. 
“Bersiap-siaplah kalian!” kata Bongkap, memper-
ingatkan para pengawalnya. Sedangkan ia sendiri 
mengambil pedang yang tergeletak di tanah dan me-
nyelipkan di punggungnya. 
Cahaya terang dari ufuk timur semakin jelas. Warna 
merah jingga yang dipancarkan sinar matahari ber-
ubah menjadi warna kuning keperakan. Kemudian ca-
haya kuning keperakan itu bergeser dari balik pepoho-
nan dan berdiri sepenggalah. Membuat alam menjadi 
terang-benderang. Mengusir kabut yang sejak sore 
kemarin menyelimuti pepohonan. 
Bong Mini hampir saja terjatuh kalau saja tidak ce-
pat-cepat berpegangan pada sebuah ranting pohon, ke-
tika ia hampir terlena oleh semilir angin yang mem-
buatnya tertidur beberapa saat. Ia benar-benar sudah 
mengantuk. Namun tetap dipaksakan juga, karena in-
gin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh papanya 
bersama para pengawal. 
 
*** 
  
66  
 
Bong Mini hampir tertidur lagi, ketika sepasang ma-
tanya yang merah dan perih itu terlena oleh semilir 
angin yang berhembus. Tapi ia mendadak tercekat ka-
rena telinganya mendengar derit kereta kuda disertai 
kepulan debu yang diterbangkan oleh telapak kaki ku-
da. Kereta kuda itu tampak dikawal delapan orang dan 
melaju ke arah rintangan batang pohon yang sengaja 
diletakkan di jalan itu oleh para pengawal Bongkap. 
“Berhenti!” salah seorang pengawal kereta kuda 
yang berada di depan memberi aba-aba. 
Derit kereta kuda itu terhenti. 
“Rupanya perjalanan kita ada yang menghalangi,” 
kata orang itu lagi yang rupanya pemimpin mereka. 
Pandangannya menyebar ke sekitar tempat tersebut, 
meneliti dengan tatapan mata yang tajam. 
Inikah yang sejak semalam ditunggu papa bersama 
para pengawalnya? Tanya Bong Mini dalam hati. Sebe-
lum ia menerka lebih jauh lagi, tiba-tiba ia melihat pa-
panya memberi komando penyerangan kepada para 
pengawalnya. 
Mendapat komando dari Bongkap, para pengawal 
itu dengan sigap menarik tali kuda masing-masing dan 
memacu ke arah rombongan kereta kuda itu. Diimban-
gi oleh suara ringkik kuda, para pengawal itu me-
ngurung kereta barang bersama para pengawalnya. Se-
telah mereka mengurung, barulah Bongkap keluar 
menunggang kudanya dengan gagah. 
Pemimpin pengawal kereta barang segera mengeta-
hui situasi yang kurang baik. Namun dengan sikap 
yang tetap tenang, ia memandang Bongkap. Namun 
tangannya telah siap mencabut pedang.  
“Mau apa kau!” bentak pemimpin pengawal kereta 
barang itu. 
Bongkap tertawa tergelak-gelak mendapat perta-
nyaan itu. 
“Bila ada sekelompok orang yang tak dikenal me-
ngelilingimu, menurut perkiraanmu apa?” Bongkap ba-
lik bertanya. 
“Kalau memang ingin berniat jahat, aku akan segera 
menentangnya!” bentak pemimpin rombongan kereta 
barang dengan lantang. 
Bongkap kembali tertawa terbahak-bahak. 
“Apa kau sudah merasa hebat menantangku?” 
“Aku cuma ingin mempertahankan hakku!” jawab 
pemimpin pengawal kereta barang dengan sikap gagah. 
“Hak apa? Hak dari hasil pemerasan terhadap rak-
yat?” 
Pemimpin pengawal kereta barang mendengus. Ma-
tanya merah menyala bagai bara api. 
“Hati-hati kalau kau berbicara!” bentaknya kemu-
dian. 
“Hati-hati pula kalau kau berhadapan denganku!” 
balas Bongkap tak kalah nyaring. 
“Aku tak pernah takut pada siapa pun!” tantang pe-
mimpin pengawal kereta kuda dengan gagah. 
Wajah Bongkap mendadak merah. Darahnya bergo-
lak, menyembur ke seluruh tubuhnya. 
Bong Mini yang sejak tadi memperhatikan dan men-
dengar percakapan papanya jadi terkejut. Apa benar 
papaku mau berniat jahat kepada para pengawal kere-
ta barang itu? Tanya Bong Mini dalam hati. Kedua ma-
tanya tak berkedip memandang ke arah arena. 
Belum sempat Bong Mini berpikir lebih lanjut, tiba-
tiba ia memekik tertahan ketika melihat papanya men-
cabut pedang dan mengarahkannya pada pemimpin  
pengawal kereta barang. Tetapi untunglah lelaki yang 
diserangnya cekatan sehingga dengan cepat dapat 
mengelak dari serangan Bongkap dan meminggirkan 
kudanya. 
Trangngng! 
Serentak para pengawal dari kedua belah pihak me-
nyerbu, diiringi pekikan-pekikan keras. Delapan orang 
pengawal kereta barang mati-matian melawan lima be-
las pengawal Bongkap. Denting yang tercipta akibat 
benturan antar senjata terdengar sangat nyaring. Di-
timpali oleh jeritan orang-orang yang terluka karena 
sabetan pedang yang dilancarkan anak buah Bongkap 
mengenai sasaran. 
“Aaakh...!” 
Jeritan kematian itu terdengar begitu menyayat. 
Para pengawal Bongkap memang merupakan orang-
orang pilihan. Jurus-jurus kungfu sampai permainan 
pedang telah mereka kuasai dengan baik. Sedangkan 
permainan pedang pihak lawan sudah terbaca oleh 
Bongkap dan anak buahnya. Sehingga mereka dengan 
mudah dapat dijatuhkan. 
Trangngng! Trangngng! Brettt! 
Suara-suara itu bersatu kacau. Para pengawal ke-
reta kuda tampak tidak berdaya. Mereka satu persatu 
jatuh dari kudanya dengan tubuh berlumur darah. 
Bongkap sengaja tidak mengulur-ulur waktu dalam 
pertempuran kali ini. Ia ingin secepatnya membabat 
habis para pengawal kereta kuda itu. Hal ini disebab-
kan rasa kekhawatirannya terhadap Bong Mini yang 
mungkin akan mengetahui perbuatannya. Karena pe-
rampokan yang dilakukan kali ini terlalu banyak me-
makan waktu untuk menunggu. Sehingga baru bisa 
diselesaikan ketika sinar matahari telah menjangkau 
permukaan bumi. 
 
Dengan terbunuhnya para pengawal kereta barang 
itu, dua orang pengawal Bongkap segera melompat ke 
dalam kereta kuda, lalu melemparkan barang-barang 
yang ada dalam kereta itu pada teman-temannya yang 
menunggu di luar. Barang-barang itu kini berpindah 
ke tangan Bongkap dan anak buahnya. 
“Ayo, cepat selesaikan! Hari sudah siang!” teriak 
Bongkap dengan mata tetap mengawasi kerja anak 
buahnya. 
Di tempat persembunyian, Bong Mini jadi terce-
ngang. Dia merasa yakin sekarang, bahwa papanya 
dan para pengawal telah melakukan perampokan. 
Jadi untuk pekerjaan inikah selama dua malam pa-
pa dan para pengawalnya keluar? Untuk mengadakan 
perampokan? Pikir Bong Mini. 
Bong Mini menghela napas panjang. Pantas kalau 
selama ini papanya selalu memberikan intan berlian 
serta barang-barang berharga lain. Dan semua barang 
yang diberikan papanya kepadanya merupakan hasil 
dari rampasan. 
Sebenarnya, sejak pertama ia mendapatkan barang-
barang berharga itu, ia ingin menanyakan kepada pa-
panya. Tapi niatnya itu ia urungkan. Ia yakin bahwa 
barang-barang yang diberikan kepadanya itu merupa-
kan hasil dari jerih payah papanya. Ia juga tidak ingin 
kalau pertanyaannya itu akan membuat papanya ke-
cewa. Karena secara tidak langsung pertanyaan itu 
pasti akan menyinggung perasaan papanya. 
Sekarang, Bong Mini telah mengetahui dan melihat 
dengan mata kepala sendiri kalau papanya seorang pe-
rampok. Merampas harta yang bukan miliknya dengan 
cara melakukan pembunuhan yang sangat keji. 
Sembari menahan marah dan tangis, Bong Mini se-
gera turun dari atas pohon, tempat persembunyian. 
 
Setelah itu ia melarikan kuda sekencang-kencangnya. 
Hatinya menjerit sakit melihat perbuatan papanya 
yang tidak ia duga sama sekali. 

*** 

Sampai di rumah, Bong Mini segera menyerahkan 
kuda putihnya pada penjaganya. Sedangkan wajahnya 
tampak sudah dibanjiri oleh air mata. 
Setelah menyerahkan kuda putihnya, Bong Mini se-
gera menghambur menuju kamarnya. Menjatuhkan di-
ri di ranjang sambil menangis sekeras-kerasnya de-
ngan merapatkan wajah ke bantal. 
Beberapa saat lamanya, Bong Mini dicekam oleh 
suasana duka dan sedih. Hatinya masih tersayat-sayat 
pilu mengingat sepak-terjang papanya. Punggungnya 
naik turun menahan isak tangis. 
Tiba-tiba Bong Mini membalikkan tubuhnya dengan 
pandangan menatap langit-langit kamar. Kata-kata 
mamanya teringat kembali di benaknya. 
Inikah makna mimpi semalam? Inikah maksud 
mama kenapa aku disuruh pergi ke utara malam itu 
juga? Tanya batinnya sedih. Sementara air matanya 
masih terus menetes membanjiri kedua pipinya. 
Dengan hati luluh dan perasaan hancur, Bong Mini 
turun dari ranjang. Diselipkan kembali pedangnya di 
punggung. Kemudian dengan berlinang air mata, Bong 
Mini melangkah keluar, menuju kandang kudanya. 
“Mau ke mana, Non?” tanya penjaga kuda itu heran 
melihat wajah Bong Mini dialiri air mata. 
Bong Mini tidak segera menjawab. Ia langsung ma-
suk ke kandang kuda dan menarik kuda putihnya ke-
luar dan segera naik ke punggung kuda. 
Bong Mini menoleh pada penjaga kuda itu sebelum 
memacu kudanya.  
“Kalau papa menanyakan tentang aku, katakan ka-
lau aku pergi dan tak usah dicari,” kata Bong Mini 
berpesan. 
“Non Mini mau pergi ke mana?” tanya penjaga kuda 
itu khawatir. 
“Saya mau mengembara!” setelah menjawab begitu, 
Bong Mini langsung memacu kudanya cepat sekali. 

*** 

Setengah jam setelah kepergian Bong Mini, Bongkap 
dan para pengawalnya datang dengan membawa hasil 
rampokannya. 
“Segera masukkan barang-barang itu lewat bela-
kang!” perintah Bongkap sambil melemparkan kunci 
gudangnya kepada Ashiong. Kemudian ia melangkah 
tenang ke dalam, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. 
Sampai di dalam, Bongkap duduk di kursi dengan 
santai. Sikapnya begitu tenang. Tidak menunjukkan 
bahwa ia baru saja melakukan perampokan. 
Hanya beberapa saat ia duduk, lalu melangkah lagi 
ke ruang dalam. Kali ini ia hendak menengok putrinya. 
Tapi betapa kagetnya ia ketika pintu itu dibuka. Sebab 
ia tak melihat putrinya di sana. 
“Hm...!” keluh Bongkap. “Ke mana lagi perginya pu-
triku ini?” 
Bongkap menutup kembali pintu kamar putrinya. 
Dan terus melangkah ke ruang belakang menemui tiga 
dayangnya. 
“Bibi!” panggil Bongkap dengan suara yang dalam. 
Ketiga dayang yang tengah mengerjakan sulaman 
serentak menghentikan gerakan tangannya. Lalu me-
reka merubah sikap duduknya dan menghormat. 
“Kalian melihat putriku?” tanya Bongkap dengan 
mata menatap tajam.  
“Nona Mini sejak pagi tadi tidak keluar, Tuan,” sa-
hut seorang dayangnya. 
“Apa Bibi tidak salah bicara?” tanya Bongkap. Tatap 
matanya lebih tajam. 
“Tidak, Tuan. Sejak tadi pagi saya tidak melihat-
nya!” sahut dayang yang tadi. 
Bongkap menghela napas kesal. 
“Coba kalian lihat di kamarnya!” perintah Bongkap. 
Ketiga dayang itu melangkah menuju kamar Bong 
Mini. Diikuti oleh Bongkap. Mereka langsung ter-
nganga karena tidak melihat Bong Mini di kamarnya. 
“Inilah salah satu kelalaian kalian. Kalian tidak be-
cus menjaga putriku!” bentak Bongkap. Kemarahannya 
mulai meledak. 
Ketiga dayang diam tertunduk. Mereka mengakui 
kesalahannya. 
“Sekarang, panggil penjaga kuda ke sini!” perintah 
Bongkap. Lalu ia melangkah ke ruang tamu dan duduk 
di kursinya. 
Dengan wajah dan sikap penuh ketakutan, ketiga 
dayang itu segera ke belakang. Tidak lama kemudian 
mereka kembali bersama seorang penjaga kuda. 
“Tuan memanggil saya?” ucap penjaga kuda itu 
sambil memberi hormat 
“Hm...,” sahut Bongkap pendek. Wajahnya menun-
jukkan kemarahan yang tersimpan. 
“Kamu lihat putriku?” 
“Maaf, Tuan. Tadi Non Mini keluar bersama ku-
danya,” jawab penjaga kuda itu. 
“Keluar? Keluar kemana?” 
“Saya tidak tahu, Tuan. Karena ketika saya tanya-
kan dia bilang ingin mengembara dan berpesan agar 
Tuan tidak mencarinya,” jawab penjaga kuda itu men-
jelaskan. 
 
Bongkap meloncat kaget dari duduknya. Ia tidak 
mengerti mengapa putrinya berubah sikap seperti itu. 
Kemudian dengan wajah cemas, ia keluar dan meng-
ambil kudanya. 
“Ashiong, Achen, ikut aku!” seru Bongkap kepada 
dua orang  pengawal kepercayaannya. Lalu ia segera 
memacu kudanya dengan cepat. Diikuti oleh Ashiong 
dan Achen. 

*** 

Bong Mini memperlambat jalan kudanya ketika 
sampai di Bukit Garang, di mana papanya bersama pa-
ra pengawal melakukan perampokan. Kemudian ia me-
lompat dari punggung kuda dan mendekati mayat-
mayat yang tergeletak bersimbah darah itu. 
“Maafkan atas kekasaran papaku!” desah Bong Mini 
pada pengawal kereta barang yang dibunuh oleh 
Bongkap dan para pengawalnya. Sementara kedua ma-
tanya yang sebelumnya sudah kering, kini kembali di-
genangi oleh telaga bening. Kemudian perlahan-lahan 
telaga bening itu merembes lewat celah-celah bulu ma-
tanya. Lalu bergulir, meliuk-liuk di pipinya bagai anak 
sungai yang mencari lautan bebas. 
Setelah beberapa saat ia terpaku di hadapan mayat-
mayat yang bergelimpangan itu, Bong Mini pun mena-
rik tali kudanya dengan langkah gontai. Sedangkan air 
matanya dibiarkan tetap mengalir sampai menyentuh 
bibirnya. 
Perlahan-lahan Bong Mini menarik kudanya. Tak 
dipedulikannya sinar matahari menyengat kulitnya. Ia 
terus menjalankan kudanya tanpa tujuan yang pasti. 
Ketika ia sudah berjalan jauh dari tempat mayat-
mayat yang bergelimpangan tadi, Bong Mini mengikat 
tali kudanya pada sebatang pohon. Sedangkan ia sen-
 
diri duduk bersandar melepaskan rasa lelah. 
Sambil melepaskan rasa lelah, Bong Mini terme-
nung memikirkan sepak-terjang papanya yang demi-
kian berubah. Apakah semua itu karena kematian 
mama? Pikir Bong Mini. 
“Oh, Mama. Seandainya Mama masih menyertai 
kami, tak mungkin keadaan seperti ini terjadi!” keluh 
Bong Mini. Kembali ia teringat pada mamanya yang 
sudah tiada. Air matanya kembali mengalir membasahi 
pipinya yang kemerah-merahan karena tersengat sinar 
matahari. 
Mama. Apakah Mama juga melihat keadaan Papa 
dan saya seperti ini? Keluh batin Bong Mini. Lalu ia 
menjatuhkan kepalanya pada kedua lututnya. Pung-
gungnya berguncang-guncang, menangis tersedu-sedu. 
Pada saat ia menangis terisak-isak, tiba-tiba ia me-
rasa ada sentuhan tangan lembut yang mengusap ke-
palanya. Bong Mini terdongak kaget dengan wajah ber-
linangan air mata. Ternyata orang yang mengusap-
usap kepalanya itu papanya sendiri. 
“Ada apa, Sayang? Kenapa kamu pergi meninggal-
kan papa?” tanya Bongkap lembut. 
Bong Mini diam saja sambil memalingkan wajah. 
Dagunya bersandar pada kedua lututnya sambil  me-
mandangi rumput dengan tatapan mata yang kosong. 
Entah kenapa, sejak ia melihat peristiwa perampo-
kan yang dilakukan papanya itu, Bong Mini begitu 
membencinya. Cinta kasih yang diberikan papanya te-
rasa begitu menyesakkan perasaan. Sentuhan tangan 
papanya yang lembut terasa bagai sengatan matahari 
yang memanasi seluruh tubuh. Kata-kata syahdu yang 
terungkap lewat mulut papanya kini berubah laksana 
lebah yang menyengat telinganya. 
“Anakku sayang. Kenapa kamu diam saja, hm...?  
Jika memang papa mempunyai kesalahan kepadamu, 
katakan terus terang,” bujuk Bongkap sambil menyen-
tuhkan tangannya ke bahu Bong Mini. Tapi cepat-
cepat Bong Mini menghentakkannya dan berdiri men-
jauhi papanya. 
Bongkap merasa, pasti ada persoalan besar yang 
dihadapi anaknya. Lalu ia berdiri dan mendekati dua 
orang pengawalnya yang sejak tadi memperhatikan 
tingkah-laku bapak dan anak itu. 
“Kalian pulang duluan. Aku akan membujuk putri-
ku!” kata Bongkap kepada kedua pengawalnya. 
Ashiong dan Achen mengangguk hormat. Kemudian 
mereka segera berlalu meninggalkan Bongkap dan pu-
trinya. 
Setelah kepergian kedua pengawalnya, Bongkap 
kembali menghampiri putrinya. 
“Sebenarnya persoalan apa yang sedang kamu ha-
dapi, Sayang?” tanya Bongkap, berdiri di belakang 
Bong Mini sambil menyentuh kedua bahunya. 
Bong Mini masih diam tanpa bergeming sedikit pun. 
Hal ini membuat Bongkap prihatin. Putrinya yang se-
lama ini lincah, manja dan penuh senyum, berubah 
seperti dihujam penderitaan yang amat dalam. 
“Papa...,” desah Bong Mini akhirnya. Tapi badannya 
tetap tak bergerak. 
“Hm...? Ada apa, Sayang?” tanya Bongkap dengan 
wajah agak gembira karena putrinya yang sejak tadi 
terdiam, kini sudah mulai berbicara. 
“Ke mana Papa pergi semalam?” tanya Bong Mini 
lagi 
Wajah Bongkap tersentak kaget. Namun dengan ce-
pat ia merubah sikapnya. 
“Papa jalan-jalan, cari udara malam,” dusta Bong-
kap. 
 
Bong Mini membalikkan badannya. Matanya yang 
tajam menatap kedua mata papanya. Tepat mengenai 
manik-maniknya. Membuat perasaan Bongkap berge-
tar. Baru kali ini ia melihat tatapan putrinya demikian 
menusuk hatinya. 
“Kenapa Papa selalu berdusta setiap saya menanya-
kan kepergian Papa pada waktu malam?” suara Bong 
Mini begitu tegas dan menyengat telinga Bongkap. 
“Papa.... Papa tidak bohong, Sayang,” jawab Bong-
kap gugup. Wajahnya tampak gusar. 
Bong Mini menarik napas. Lalu maju dua langkah 
ke depan dengan pandangan mata yang jauh dan ko-
song. 
“Saya tidak menduga sama sekali kalau selama ini 
Papa memberi saya makan dengan cara yang tidak 
halal!” 
Bongkap benar-benar kaget mendengar perkataan 
putrinya itu. Wajahnya yang sejak tadi kelihatan gu-
sar, berubah menjadi pucat. 
“Kamu jangan menuduh papa seperti itu, Sayang. 
Papa memberi kamu makan dari hasil jerih payah dan 
keringat papa sendiri,” kata Bongkap tetap bersuara 
lunak. 
“Tapi perjuangan yang selama ini Papa lakukan te-
lah menimbulkan banyak korban,” sergah Bong Mini. 
Lalu tubuhnya dibalikkan dan bersitatap dengan pa-
panya. “Saya sedih, Papa. Orang yang selama ini saya 
kagumi dan saya hormati ternyata hanya seorang pe-
rampok! Papa..., saya anak perampok! Saya anak pe-
rampok!” Bong Mini menjatuhkan tubuhnya lesu sam-
bil menangis tersedu-sedu di hamparan rumput. 
Ucapan Bong Mini terdengar bagai halilintar di 
siang bolong di telinga papanya. Karena perbuatan ja-
hat yang selama ini ditutup-tutupi oleh Bongkap 
akhirnya terbongkar juga. 
“Bagaimana kamu tahu kalau papa telah melaku-
kan perampokan?” tanya papanya penuh selidik. 
Sambil terisak menangis, Bong Mini menceritakan 
mimpinya yang bertemu dengan mamanya. 
“Ternyata apa yang disuruh Mama itu tidak lain un-
tuk memperlihatkan perbuatan Papa di hadapanku,” 
kata Bong Mini mengakhiri ceritanya. 
Bongkap tertunduk lesu mendengar cerita putrinya. 
Ia berkesimpulan bahwa walaupun istrinya telah mati, 
tapi tetap memperhatikan sepak-terjangnya sebagai 
tanda cinta dan kasih sayang. Dan untuk menegurnya, 
ia menyuruh Bong Mini lewat mimpi. 
“Maafkan saya, Papa. Saya tak bermaksud melukai 
hati Papa. Saya ingin menuruti apa yang Mama pesan-
kan pada saya lewat mimpi,” lirih Bong Mini dengan 
tatapan mata sendu. 
“Kamu tidak salah, Sayang,” kata Bongkap dengan 
suara yang bergetar menahan haru. “Tapi papa juga 
harus bercerita agar kamu tahu kenapa papa sampai 
menjadi perampok,” Bongkap menghela napas. Ma-
tanya memandang pada kejauhan. 
“Sebenarnya papa juga merasa berat untuk mela-
kukan perampokan. Tapi melihat rakyat papa yang 
menderita kelaparan dan selalu terdengar berita ten-
tang pencurian harta dan makanan di kalangan pen-
duduk, akhirnya papa melakukan juga. Kemudian har-
ta hasil dari rampokan itu papa bagikan kepada mere-
ka. Sedangkan sebagiannya lagi papa simpan untuk 
kebutuhanmu,” Bongkap menceritakan apa yang 
membuatnya terseret pada kejahatan merampok. 
Bong Mini mendengarkan cerita papanya itu dengan 
sungguh-sungguh. 
“Papa menyimpan sebagian hasil rampokan itu ka- 
rena sadar bahwa kamu yang sudah beranjak menjadi 
gadis remaja tentu sangat membutuhkan harta itu,” 
sambung Bongkap menjelaskan. 
Bong Mini yang sejak tadi mendengarkan cerita pa-
panya menjadi terharu. Ia tidak mengira sama sekali 
kalau perampokan yang selama ini dilakukan papanya 
merupakan tanda bukti kecintaannya pada rakyat dan 
diri Bong Mini. 
“Kalau memang kamu tidak puas dengan keterus-
terangan papa, kamu boleh menghukum papa. Tapi 
jangan melibatkan para pengawal papa yang ikut me-
rampok!” kata Bongkap lagi penuh ksatria. 
“Papa?” desah Bong Mini seraya menatap papanya 
dengan tatapan sendu. 
“Kau punya hak untuk melakukan itu, Sayang.” 
“Tidak, Papa. Siapa pun Papa dan apa pun yang te-
lah Papa lakukan selama ini, Papa tetap orangtua 
saya,” kata Bong Mini lirih. Butir-butir air matanya 
mulai menggenang kembali di pelupuk matanya kare-
na menahan haru. “Saya cuma menuruti perintah 
Mama dalam mimpi,” lanjut Bong Mini. 
Bongkap terharu mendengar ucapan putrinya. Di-
rengkuhnya tubuh putrinya itu dan dipeluknya erat. 
Pada saat itu, ia kembali teringat pada istrinya, Sinyin. 
“Mamamu memang orang yang sangat baik, Sa-
yang,” ucap Bongkap dengan suara tersendat dan ber-
getar karena menahan haru. “Dia seorang perempuan 
yang patut menjadi panutanmu. Sewaktu hidupnya, 
mamamu sering memperhatikan papa dan menegur 
papa jika berbuat kesalahan, tanpa ada rasa takut. Se-
luruh hari-hari yang dilaluinya dia curahkan untuk 
mengurusmu dan papa,” lanjut Bongkap, mengenang 
kembali kasih sayang dan kesetiaan istrinya. 
Bongkap, walaupun berjiwa beringas dan kasar, ia  
selalu lembut bila sudah berada di tengah keluar-
ganya. Kepandaiannya dalam bermain ilmu silat, kega-
gahan dan keganasannya di tengah pertempuran tak 
akan tampak lagi bila sudah berada di rumah. Tak sa-
tu pun orang yang dapat menaklukkan dia atau mere-
dakan kekasarannya, hanya Sinyin, istrinya. Lewat ke-
lembutan hatinya, Sinyin dapat meluluhkan keberin-
gasan Bongkap. Lewat nalurinya sebagai perempuan, 
ia berhasil menggiring Bongkap untuk menjadi orang 
bijak. Membuat Bongkap semakin cinta dan sayang sa-
ja kepada istrinya. Sehingga kematian istrinya yang 
tragis ketika melawan pasukan kerajaan yang mengha-
langi kepergian mereka sangat meluluhkan hatinya. 
“Papa,” desah Bong Mini dalam dekapan papanya. 
“Hm...? Ada apa, Sayang?” Bongkap mengusap-usap 
kepala putrinya. 
“Maukah Papa  mengabulkan satu permintaan 
saya?” 
“Katakan. Katakan, Sayang. Papa akan mengabul-
kannya,” kata Bongkap cepat. 
Bong Mini melepaskan pelukannya. Dipandangnya 
wajah papanya dengan senyum lembut dan wajah ber-
seri. 
“Papa sungguh-sungguh?” 
“He-em!” 
“Begini, Pa,” kata Bong Mini mulai mengemukakan 
keinginannya. “Kebutuhan saya sekarang sudah terpe-
nuhi. Rakyat pun sudah kelihatan hidup membaik. 
Jadi saya mengajukan suatu permintaan kepada Papa 
untuk tidak lagi melakukan perampokan,” lanjut Bong 
Mini, mengajukan permohonannya. 
Bongkap tercenung beberapa saat mendengar per-
mintaan putrinya. Dia tidak mengira kalau hanya itu 
yang menjadi permintaan putrinya.  
“Papa mau mengabulkannya, kan?” 
“Sebuah permintaan yang mulia, tentu saja akan 
papa kabulkan!” sahut Bongkap tersenyum. 
“Benarkah itu, Papa?” tanya Bong Mini meyakinkan. 
Bongkap mengangguk. 
“Oh, Papa!” keluh Bong Mini. Dipeluknya papanya 
sekali lagi. Baginya tidak ada hari yang lebih berharga 
dan penuh suka cita selain hari itu. 
 
*** 
 
77  
 
Yang Seng, pemimpin Partai Persatuan Ular Hitam 
bersama anak buahnya sedang mencari Bongkap. Me-
reka menyusuri dari warung ke warung, lembah ke 
lembah sampai akhirnya mencari ke seluruh hutan be-
lantara di kawasan itu. Tapi orang yang mereka cari 
tidak diketemukan, sampai akhirnya mereka beristira-
hat karena lelah. 
Di saat rombongan Partai Persatuan Ular Hitam 
tengah duduk beristirahat di Bukit Londa, tiba-tiba 
mereka tersentak mendengar derap langkah kuda yang 
datang dari kejauhan. 
“Tuanku!” seru Aloy, salah seorang anak buah Yang 
Seng yang tangan kanannya sudah terputus karena 
sabetan pedang Bongkap. “Bukankah orang yang ber-
kuda itu si Achiang?” lanjut Aloy dengan pandangan 
mata yang tak henti-hentinya memperhatikan dua pe-
nunggang kuda yang berjalan ke arah mereka. 
Yang Seng menyipitkan mata, mengawasi dua pe-
nunggang kuda itu. 
“Hm..., ada apa lagi dengan anak buahku itu,” gu- 
mam Yang Seng ketika melihat seorang anak buahnya 
tampak tertelungkup tak berdaya di punggung kuda, 
di belakang Achiang. 
“Halau mereka dan suruh ke sini!” perintah Yang 
Seng kepada anak buahnya. 
“Siap, Tuan!” ucap Aloy. Dengan ilmu peringan tu-
buhnya ia melesat cepat untuk menghadang temannya 
yang sedang memacu kuda. 
Tidak lama kemudian, Aloy telah kembali lagi ber-
sama-sama temannya yang berkuda tadi. 
Yang Seng langsung mendekati anak buahnya yang 
tergeletak mati di atas punggung kuda. Kemudian wa-
jahnya mendadak berubah tegang saat menatap tiga 
anak buahnya yang lain yang membawa mayat itu. 
“Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Yang Seng 
geram. 
“Kami..., kami mendapat rintangan dari seorang pe-
rempuan asing ketika hendak membawa anak gadis 
pemilik warung itu, Tuanku!” jawab Achiang. Ternyata 
keempat orang itu adalah orang-orang yang telah dika-
lahkan oleh Bong Mini ketika terjadi perkelahian di ha-
laman warung nasi. Dan orang yang mati itu bernama 
Bodong. 
“Goblok!” 
Plak! Plak! 
Yang Seng menampar wajah Achiang dengan keras, 
sehingga lelaki itu meringis kesakitan. 
“Kenapa? Kenapa kalian semua jadi goblok begini? 
Si Aloy yang kusuruh memimpin pengawalan barang 
untuk mengantar ke seberang Pantai Cina tidak becus. 
Barang habis dan tangannya buntung karena terbabat 
pedang perampok yang bernama Bongkap. Sekarang 
kau yang kusuruh menagih hutang dan bunganya ke-
pada pemilik warung tua-renta itu pun tidak becus. 
 
Dan kali ini lebih memalukan. Karena si Bodong mati 
di tangan seorang perempuan. Puih!” geram Yang 
Seng. Diludahinya wajah Achiang. Matanya berkilat-
kilat merah bagai kobaran api yang siap menjilat dan 
membakar. 
“Tapi, Tuanku...!” 
“Sudah, jangan kasih alasan! Kekuasaanku di nege-
ri  ini telah kalian coreng dengan kebodohan kalian. 
Sekarang juga kalian harus menghapus coreng itu!” 
potong Yang Seng kepada seluruh anak buahnya. 
“Bagaimana caranya, Tuanku?” tanya Achiang ta-
kut-takut 
“Puih!” Yang Seng kembali meludahi wajah Achiang 
yang semakin ketakutan. “Inilah akibatnya kalau di 
otak kalian hanya bersarang perempuan, perempuan, 
perempuan!” 
Semua anak buahnya terdiam dengan wajah me-
nunduk. Tak seorang pun berani melihat kemarahan 
Yang Seng, pemimpin mereka. 
“Kalian semuanya harus mencari  kedua orang itu 
sampai dapat. Kalau perlu, penggal leher mereka dan 
kepalanya bawa kepadaku!” perintah Yang Seng. Ke-
mudian ia melompat ke punggung kuda dan mema-
cunya cepat menuju markas. 
“Ini semua gara-gara kamu!” kini Aloy yang ganti 
memarahi Achiang. 
“Kau juga sama!” berang Achiang. 
“Aku wajar. Karena yang mengalahkanku seorang 
pemimpin perampok. Tapi kau...! Oleh seorang perem-
puan? Bagaimana pemimpin kita tidak mau marah?” 
sengit Aloy, membela diri. 
“Sudahlah, jangan bertengkar! Yang penting seka-
rang  juga kita harus mencari mereka!” tukas salah 
seorang lain berusaha menengahi. Akhirnya gerombo- 
lan yang berada di bawah panji Partai Persatuan Ular 
Hitam berangkat untuk melanjutkan pencarian me-
nangkap Bongkap dan Bong Mini. 

*** 

Bongkap dan Bong Mini atau lebih tepat disebut 
Sepasang Pendekar dari Selatan, tengah menunggang 
kuda perlahan-lahan. Keduanya menikmati peman-
dangan yang cukup indah. Apalagi saat itu waktu 
menjelang senja. Sehingga pemandangan di ufuk barat 
terlihat begitu mempesona, dihiasi dengan  pancaran 
warna lembayung. 
Waktu terus merayap perlahan-lahan. Matahari 
yang kini tergelincir di ufuk barat mulai menyembunyi-
kan dirinya di balik perbukitan. Sedangkan pesta war-
na di cakrawala pun mulai pudar perlahan-lahan. Ber-
ganti dengan kabut yang mulai turun menyelimuti 
bumi. Malah pohon-pohon pegunungan yang mengelili-
ngi mereka telah lenyap ditelan kabut yang amat tebal. 
“Sudah hampir malam. Kita percepat kudanya, 
Sayang,” kata Bongkap, ketika melihat sekelilingnya 
mulai temaram. 
Tanpa memberi sahutan, Bong Mini langsung me-
macu kudanya dengan cepat, mengimbangi lari kuda 
Bongkap. 
Baru saja beberapa ratus meter mereka memacu 
kuda, tiba-tiba Bongkap memberi isyarat kepada putri-
nya untuk waspada. Sedangkan langkah kudanya mu-
lai diperlambat 
“Ada apa, Papa?” tanya Bong Mini yang tidak men-
gerti maksud papanya. 
“Papa merasakan ada banyak orang di sekitar kita,” 
jawab Bongkap sambil memasang pendengarannya 
yang cukup peka. 
 
Mendengar penjelasan papanya, Bong Mini segera 
menyebar pandangan ke sekelilingnya. Tapi matanya 
tidak melihat siapa pun. Kecuali pepohonan yang mu-
lai tertutup kabut. 
“Saya tidak melihatnya, Papa,” desah Bong Mini. 
“Mereka bersembunyi di balik pepohonan,” sahut 
Bongkap sambil terus memasang kepekaan telinganya, 
mengikuti langkah-langkah orang yang belum diketa-
hui batang hidungnya. 
“Apakah mereka berniat tidak baik kepada kita?” 
tanya Bong Mini sambil bersiap siaga. 
“Begitulah tampaknya.” 
Bong Mini mendesah. Matanya kembali liar menga-
wasi sekitarnya. 
“Kamu tetap di sini bersama papa. Kalau memang 
harus bertempur layani mereka semampumu. Tapi ka-
lau sudah terdesak kau harus langsung keluar per-
tempuran dan hubungi para pengawal,” kata Bongkap 
setengah berbisik. 
“Bagaimana kalau sekarang saja sebelum mereka 
menyergap kita?” 
“Itu akan membahayakanmu. Sebagian dari mereka 
tentu akan mengejar dan menangkapmu. Itu berarti 
akan mengganggu perhatian papa saat melayani se-
rangan mereka,” sergah papanya dengan pandangan 
yang terus waspada. 
Bong Mini mengangguk mengerti. Lalu menyebar-
kan pandangannya kembali ke arah semak-semak 
yang berada di sekitar mereka. 
Tak lama mereka menunggu, akhirnya Sepasang 
Pendekar dari Selatan itu mulai melihat beberapa ke-
pala manusia muncul dari kegelapan kabut. Langkah-
langkah mereka terdengar halus ketika menghampiri 
Sepasang Pendekar dari Selatan yang terdiri dari ba- 
pak dan anak tersebut. 
“Jumlah mereka cukup banyak, Papa,” ujar Bong 
Mini agak khawatir juga. Sebab selama ini ia belum 
pernah bertempur dengan lawan yang lebih dari lima 
orang. Tapi kini, para pengepung yang menghampiri 
mereka berjumlah sekitar dua puluh orang. Sungguh 
bukan suatu tandingan yang seimbang. 
“Kau jangan gentar sebelum bertanding, Putriku!” 
Bongkap memperingatkan dengan pandangan yang te-
rus waspada ke arah rombongan yang mulai mendeka-
ti mereka. 
“Papa!” pekik Bong Mini tiba-tiba. “Tiga orang dari 
mereka pernah saya kenal. Mereka orang-orang yang 
pernah saya kalahkan di warung tempo hari,” lanjut 
Bong Mini sambil terus memperhatikan ketiga orang 
yang pernah dikalahkannya itu. Mereka tidak lain 
Achiang, Japra, dan Kedot. 
“Bagus. Kalau begitu mereka satu kelompok.” 
“Maksud Papa?” 
“Tangan lelaki yang buntung itu merupakan ke-
nang-kenangan dari papa ketika merampok mereka,” 
jawab Bongkap menjelaskan. 
“Hm...,” gumam Bong Mini. “Jadi Papa merampok 
harta perampok?” 
“Yah, ini suatu kebetulan,” sahut Bongkap. Kalau 
bukan dalam suasana seperti itu mungkin mereka su-
dah tertawa. Karena merasa lucu ada perampok yang 
dirampok. 
Tidak lama kemudian, gerombolan itu sudah me-
ngelilingi Sepasang Pendekar dari Selatan. 
“Hi hi hi..., rupanya kita bertemu lagi!” cetus Bong 
Mini. Ia tertawa melihat ketiga orang yang pernah dika-
lahkannya itu. 
“O, jadi perempuan ini yang mengalahkanmu dan  
membunuh si Bodong?” tanya Aloy kepada Achiang, 
setengah mengejek. 
Achiang mendengus. Ia merasa malu. 
“Ya. Mereka telah dikalahkan oleh putriku. Dan kau 
sendiri telah kehilangan satu tanganmu oleh sabetan 
pedangku,” Bongkap menjawab dengan nada setengah 
mengejek. 
Kini Aloy yang ganti mendengus. Wajahnya berubah 
geram saat memandang Bongkap. 
“Kemarin lalu kau boleh menang. Tapi sekarang, 
kau tidak akan kubiarkan hidup!” bentak Aloy geram. 
Bongkap tertawa terbahak-bahak begitu mendengar 
ucapan Aloy. 
“Jangan bermulut besar! Nanti malah kepala bo-
takmu yang terbelah dua!” ejek Bongkap, membuat 
Aloy yang berkepala botak itu semakin geram. 
“Bangsat! Jangan kau pikir karena tanganku bun-
tung lalu tak bisa menghadapimu, heh!” dengus Aloy 
dengan muka merah menyala. Bersamaan itu pula 
tangan kirinya menarik pedang yang terselip di pung-
gungnya. 
Sreset! 
Bongkap tertawa tergelak-gelak melihat musuhnya 
yang berkepala botak mencabut pedang. 
“Sebaiknya kau urungkan niatmu itu untuk mem-
balas dendam. Aku tidak sampai hati membelah kepa-
lamu yang licin itu!” 
Lagi-lagi Bongkap mengejek, membuat Aloy naik pi-
tam. 
“Seraaang!” 
Aloy memberi komando kepada teman-temannya. 
Maka secepat itu pula orang-orang dari Partai Persa-
tuan Ular Hitam segera menyerang Sepasang Pendekar 
dari Selatan dengan cepatnya.  
“Hiaaat!” 
Orang-orang itu menyerang Bongkap dan Bong Mini 
dengan jurus-jurus kungfunya. Mereka melompat se-
rempak sambil mengarahkan tendangannya ke arah 
pasangan bapak dan anak itu. 
Sepasang Pendekar dari Selatan yang sejak tadi su-
dah siap menunggu serangan mereka, dengan mudah 
mengelakkan serangan itu. Tubuh keduanya melompat 
dan berputar-putar di atas. Kemudian turun kembali 
dan berdiri tegak di atas tanah dengan ringannya. 
“Hiaaat!” 
Bong Mini menyerang lawan dengan jurus-jurus 
kungfunya yang hampir sempurna. Dia melompat sam-
bil menendangkan kakinya ke arah lawan. Tapi dengan 
gesit pula lawannya mengelak sambil mengadakan se-
rangan yang disertai pukulan-pukulan tenaga dalam. 
“Hiaaat! Huh!” 
Tubuh Bong Mini berguling-guling di atas tanah un-
tuk menghindari pukulan-pukulan yang beruntun. 
Celaka! Aku harus benar-benar waspada mengha-
dapi  mereka, bisik hatinya seraya memasang jurus-
jurus kungfunya. Namun, belum sempat ia menarik 
napas, tiba-tiba serangan dari berbagai penjuru telah 
datang menghujaninya. 
Bong Mini kembali melompat ringan. Lalu turun 
dengan membuat gerakan salto. Begitu berdiri, tangan 
kanannya telah menggenggam sebilah pedang. Ia me-
rasa kewalahan menghadapi musuh yang begitu ba-
nyak. 
Sementara itu, Bongkap masih tegar menghadapi 
lawannya yang berjumlah sepuluh orang. Lewat jurus-
jurus kungfu ‘Tanpa Bayangan’, ia berhasil menghada-
pi lawannya dengan baik. 
“Hiaaat!”  
Trak! 
Bongkap melompat dengan gerakan berputar seperti 
gangsing. Lalu kedua kakinya diadukan dengan dua 
kepala lawannya dengan keras. Sehingga kedua kepala 
lawannya itu retak, diiringi darah segar yang mengalir 
serta  jeritan kematian yang menggetarkan hati. Se-
hingga kedua orang itu ambruk dengan kepala yang 
mengerikan. 
Itulah salah satu jurus kungfu ‘Tanpa Bayangan’. 
Gerakannya yang begitu cepat tanpa terlihat lawan. 
Setiap gerakan pasti merenggut nyawa lawan. 
Melihat kedua temannya mati mengenaskan, bebe-
rapa orang di antara mereka menjadi gentar. Pikir me-
reka, lebih baik mati di ujung pedang daripada mati 
menderita dengan kepala terbelah dua seperti itu. 
Sedangkan di pihak lain, Bong Mini pun mati-
matian membela diri dengan mengeluarkan jurus-
jurus kungfu dan pedangnya. Jurus ‘Pedang Samber 
Nyawa’ yang ia keluarkan pada pertempuran dahsyat 
itu sedikit membantunya untuk dapat bernapas dan 
bergerak bebas. 
“Hiaaat!” 
Bret! 
Bong Mini mengeluarkan jurus ‘Gangsing’. Badan-
nya diputar di udara. Kemudian dengan gerakan me-
nendang, kedua kakinya turun di atas kepala lawan 
seraya mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aki-
batnya, salah seorang lawannya terkena sasaran pe-
dang pada bagian samping lehernya. 
Sret! 
“Aaakh!” 
Seketika itu juga lawan yang terkena sabetan pe-
dang Bong Mini tergolek tanpa nyawa. 
Pertempuran berlangsung semakin gesit. Tiga orang  
dari Partai Persatuan Ular Hitam telah terguling ber-
simbah darah. Sehingga para pengeroyok berkurang 
menjadi enam belas orang. Namun demikian tetap 
membuat Bong Mini kewalahan. Karena serangan-
serangan dari lawannya semakin gencar dan beringas. 
“Hiaaat!” 
Tiba-tiba tubuh Bong Mini melenting tinggi dan tu-
run tepat di dekat Aloy. 
Bret! Bret! 
Sabetan pedang Bong Mini merobek perut Aloy dua 
kali. Membuat Aloy yang sejak tadi hanya tertawa ter-
bahak-bahak menyaksikan Bongkap tersudut oleh te-
man-temannya berdiri limbung. Hanya sebentar ia ber-
tahan berdiri, lalu ambruk dengan perut menganga le-
bar sehingga isi perutnya terlihat jelas. 
Melihat terkaparnya  Aloy di tangan Bong Mini, se-
mua penyerangnya ternganga. Mereka tidak menyang-
ka kalau lompatan Bong Mini yang tinggi itu justru un-
tuk menyambar Aloy yang sedang lengah. 
“Bangsat!” 
Geram mereka dengan mata merah menyala mena-
tap Bong Mini. 
Sret! Sret! 
Mereka mencabut pedang dan golok dari sarungnya. 
Lalu serentak menyerang Sepasang Pendekar dari Se-
latan itu dengan sabetan-sabetan pedang dan golok-
nya. 
Waktu terus merayap. 
Matahari di ufuk barat telah terlena di peradu-
annya. Berganti dengan kabut pekat yang perlahan-
lahan turun menyelimuti bumi. 
Sementara itu, pertempuran terus berlangsung. Se-
bagian pasukan Partai Persatuan Ular Hitam telah ba-
nyak yang tergeletak bermandi darah. Ketinggian ilmu  
silat orang-orang Partai Persatuan Ular Hitam memang 
sudah terbaca oleh Bongkap. Mereka masih berada 
jauh di bawah kemampuannya. Malah satu tingkat di 
bawah kemampuan putrinya, Bong Mini. Namun de-
mikian bukan berarti Sepasang Pendekar dari Selatan 
ini dapat dengan mudah menjatuhkan para lawan. Se-
bab yang mereka hadapi bukan dua atau tiga orang. 
Melihat keadaan suasana semakin gelap, hanya di-
sinari oleh rembulan yang remang-remang, Bong Mini 
ingin mengakhiri pertempuran secepatnya. Namun la-
wannya masih begitu banyak, menyerang dengan ga-
nasnya. Sehingga tidak mungkin baginya untuk meng-
akhiri pertempuran secepatnya yang diharapkan. 
Bong Mini segera membuka jurus barunya yang 
bernama jurus ‘Loncat Kodok’. Jurus ini digunakan 
untuk membingungkan lawan dengan gerakan melom-
pat-lompat sambil mencari kelengahan lawan. 
Trangngng! 
Benturan senjata mereka menimbulkan pijar-pijar 
api. Dan pijaran api itu terlihat terang karena berada 
dalam kegelapan. 
Wettt! 
Bong Mini menyabetkan pedangnya ke arah lawan. 
Tapi kali ini gagal, karena dengan cermat lawan yang 
berada di depannya melompat sambil melancarkan se-
rangan balasan ke arah Bong Mini. Disusul dengan se-
rangan lawan yang ada di sekitarnya. 
Wet! Wet! 
Dua bilah pedang lawan menyambar kakinya yang 
sedang melompat-lompat bagai kodok. Tapi untung 
Bong Mini melihat serangan itu dengan cermat. Lalu 
tubuhnya bersalto dan berdiri tepat di dekat papanya 
yang sibuk melancarkan serangan. 
Kedua punggung kedua bapak dan anak itu saling  
bersentuhan. Mereka sama-sama menangkis dan me-
lancarkan serangan. 
Trangngng! 
Bong Mini berhasil menangkis serangan. Untuk se-
rangan yang kedua, mau tidak mau ia bersalto, begitu 
pula dengan Bongkap. Karena serangan itu sangat ce-
pat dan penuh tenaga. 
Trangngng! Trangngng! Trangngng! 
Tubuh Bong Mini terguling ke tanah dengan keras 
sekali. Benturan golok lawan dengan pedangnya me-
nyebabkan ia semakin terdesak ke belakang. Sedang-
kan tenaganya sudah hampir terkuras habis. 
Lima orang lawannya semakin gencar menyerang-
nya. Mereka mengurung Bong Mini dari setiap sudut. 
Membuat gerakan Bong Mini semakin menyempit. Se-
dang dari depan, sebilah pedang lawan siap menghu-
jam ke arahnya. 
Dalam keadaan tidak berdaya, tiba-tiba sebuah sa-
betan pedang serta pukulan mendarat di tubuh para 
pengeroyok Bong Mini, sehingga dua di antara penge-
royok itu terkapar dengan kepala terpisah dari badan-
nya. Dan pada kesempatan yang baik itu, tubuh Bong 
Mini segera melesat ke atas lalu hinggap di atas se-
buah batang pohon. Di sana ia istirahat sejenak untuk 
mengembalikan tenaganya sambil menyaksikan pa-
panya yang melawan delapan orang dari Partai Persa-
tuan Ular Hitam. 
Bongkap sudah kehilangan kesabaran. Ia ingin se-
gera mengakhiri pertempuran itu dengan mengerahkan 
kepandaian ilmu kungfunya yang paling tinggi. Se-
hingga dalam waktu singkat kedelapan lawannya jatuh 
tersungkur bermandi darah, lalu tergeletak tak sadar-
kan diri. 
Bongkap berdiri tegak melihat tubuh para lawan  
yang sudah tergeletak dalam kegelapan. Ia menarik 
napas lega sambil memandang ke atas pohon. Bertepa-
tan dengan itu, tubuh Bong Mini sudah melesat turun 
dengan ringan. Kemudian disambut oleh kedua tangan 
Bongkap yang kekar. 
“Hep!” 
Dengan tepat Bongkap menangkap tubuh putrinya 
yang mungil itu dan menggendongnya. Dan dalam ge-
lap itu keduanya tersenyum dan berpelukan dengan 
gembira. 
“Ayo, kita pulang!” ajak Bongkap seraya menurun-
kan tubuh putrinya. Lalu keduanya naik ke punggung 
kuda. Dua bayangan mereka melesat cepat menembus 
kegelapan. 

*** 

Malam bertambah larut. Kegelapan semakin pekat, 
tanpa cahaya bulan dan bintang sedikit pun. Sedang-
kan kabut sudah sepenuhnya menutupi pepohonan 
hingga tak jelas bentuknya. 
Di pertengahan jalan, ketika hampir sampai di ru-
mah, tiba-tiba mereka berpapasan dengan empat orang 
pengawalnya. Ashiong, Achen, dan Sang Piao dan A 
Ing. Bongkap heran melihat keempat pengawal keper-
cayaannya seperti dikejar-kejar hantu. 
“Ada apa  dengan kalian?” tanya Bongkap dengan 
wajah cemas. 
“Ada penyerangan mendadak!” jawab Ashiong de-
ngan napas yang tak beraturan. 
“Maksudmu?” 
“Segerombolan orang bertopeng telah menyerang 
tempat tinggal Tuan!” 
“Siapa lagi orang yang mencari masalah ini!” suara 
Bongkap terdengar begitu geram. Baru saja ia menye- 
lesaikan satu persoalan, kini datang lagi persoalan 
lain, pikirnya. 
“Hanya tujuh pengawal yang bisa menyelamatkan 
diri. Kami berempat dan tiga orang lagi pergi entah ke 
mana dengan menyelamatkan tiga dayang,” lanjut A-
shiong memaparkan. 
“Bangsat! Kenapa tidak kalian lawan saja?!” 
“Kami sudah berusaha mengadakan perlawanan, 
Tuanku. Tapi jumlah mereka sangat banyak. Daripada 
kami dan para dayang mati konyol, lebih baik meng-
hindar agar dapat mengabarkan hal ini kepada Tua-
nku,” jawab Ashiong memberi alasan. 
“Kita harus buat perhitungan!” kini Bong Mini yang 
terlihat geram. Karena saat itu malam, wajahnya yang 
berubah merah tidak terlihat. 
Setelah Bongkap dan Bong Mini mendapat ketera-
ngan itu, mereka pun segera  memacu kuda menuju 
rumah mereka. 

*** 

Bongkap dan Bong Mini atau Sepasang Pendekar 
dari Selatan berdiri menatap para pengawalnya yang 
terkapar mati bersimbah darah. Wajah keduanya tam-
pak gusar menahan marah. 
“Mereka terbunuh saat menghalangi orang-orang 
bertopeng yang akan mencari harta Tuanku!” Ashiong 
menjelaskan. 
“Ada yang berhasil mereka bawa?” tanya Bongkap 
dengan pandangan mata yang masih tertuju ke arah 
mayat-mayat yang bergelimpangan. 
“Tidak ada, Tuanku.” 
Hening. 
Bongkap dan Bong Mini melihat-lihat  bekas sera-
ngan yang dilancarkan oleh kawanan orang bertopeng. 
 
Seluruh isi rumah habis diobrak-abrik oleh kawanan 
orang bertopeng itu. Membuat hati mereka semakin 
terbakar untuk melakukan balas dendam. 
Setelah semua ruangan diteliti, Bongkap kembali 
keluar dan duduk di bangku kebesarannya. 
“Kita benar-benar harus buat perhitungan,” geram 
Bongkap. 
“Benar, Tuanku. Tapi dengan pasukan kita yang se-
perti ini, apa kita mampu mengalahkan mereka?” 
tanya Ashiong. 
“Kamu gentar?” tanya Bongkap dengan mata mena-
tap tajam. 
“Sama sekali tidak. Selama darahku masih berwar-
na merah, selama itu pula kesetiaanku terhadap 
Bongkap!” sahut Ashiong. 
Bongkap mengangguk-angguk kagum. 
“Lalu kenapa kamu ragu?” 
“Saya hanya tidak ingin kita mengorbankan orang-
orang lemah yang tidak berdosa!” 
“Jadi?” 
“Tuanku harus benar-benar memilih orang-orang 
tangguh berkepandaian kungfu yang bisa diandalkan!” 
Bongkap kembali mengangguk-angguk. Dia mem-
benarkan cara berpikir Ashiong. Namun sebelum ia 
menimpali ucapan Ashiong, tiba-tiba salah seorang 
pengawal dari tiga orang yang menyelamatkan diri ber-
sama tiga orang dayangnya datang, ia bersimpuh di 
hadapan Bongkap dengan napas terengah-engah. 
Bongkap dan Bong Mini meloncat kaget dari kursi-
nya seraya memandang kedatangan pengawal itu. 
“Apa yang terjadi? Dan mana kedua temanmu yang 
membawa ketiga dayang itu?” tanya Bongkap dengan 
napas yang memburu saking marahnya. 
“Maafkan saya, Tuanku. Sekelompok orang yang tak  
dikenal telah menyerang kami. Dua pengawal mati se-
dangkan para dayang Tuanku telah dibawa kabur oleh 
mereka,” lapor pengawal itu. 
Bongkap mendengus keras. Malam itu ia benar-
benar menghadapi persoalan-persoalan berat. Belum 
selesai persoalannya dengan kawanan orang bertopeng 
itu, sudah datang lagi persoalan baru. Dia benar-benar 
pusing dan geram. Urat-urat di sekitar keningnya keli-
hatan menonjol pertanda bahwa pikirannya tengah di-
landa ketegangan yang memuncak. 
“Ini pasti pekerjaan mereka!” dengus Bong Mini 
dengan berdiri garang sebagaimana seorang pendekar. 
“Siapa mereka?” Bongkap terperanjat mendengar 
ucapan putrinya. 
“Orang-orang yang baru saja kita kalahkan tadi,” 
jawab Bong Mini. 
Bongkap lagi-lagi mendengus. Dia benar-benar ma-
rah terhadap orang-orang liar yang selalu memburu 
perempuan itu. 
“Kita harus cepat-cepat bertindak, Papa!” usul Bong 
Mini, gusar. 
“Itu sudah menjadi pikiranku, Putriku!” sahut 
Bongkap, sementara matanya menatap kosong ke de-
pan. “Tapi kita harus punya perhitungan yang ma-
tang!” 
“Maksud Papa?” 
“Kita bukan hanya akan berhadapan dengan para 
penculik itu, tetapi juga akan berhadapan dengan ke-
tua mereka yang tentunya tidak bisa diremehkan!” sa-
hut papanya. 
Bong Mini terdiam mengerti 
“Ashiong!” 
“Saya, Tuanku!” 
“Persiapkan dirimu. Latih kembali jurus-jurusmu,  
aku akan melihatnya!” kata Bongkap kepada Ashiong 
dan keempat pengawal lainnya. 
“Baik, Tuanku!” 
“Kau juga, Putriku!” Bongkap menoleh pada pu-
trinya. 
“Apa yang Papa katakan akan saya turuti,” sahut 
Bong Mini, sigap. 
Setelah mendapat perintah itu, Bong Mini dan para 
pengawal lainnya yang hanya tinggal lima orang segera 
menuju tempat mereka berlatih. 
“Aku harus segera menyingkirkan segala macam ko-
toran yang ada di tanah tempatku berpijak ini!” Bong-
kap bergumam seperti berjanji pada dirinya sendiri. 
Lalu ia pun segera menuju tempat di mana putrinya 
dan para pengawal berlatih jurus-jurus kungfu. 
 
*** 
 
88  
 
Dengan langkah-langkah gagah, Bong Mini bersama 
para pengawal kepercayaan papanya memasuki rua-
ngan latihan silat. Disusul kemudian dengan kehadi-
ran Bongkap. 
“Ashiong!” ujar Bongkap seraya mendekati mereka 
yang sudah berkumpul, siap melaksanakan latihan. 
“Cobalah kamu uji kemampuan putriku!” perintah 
Bongkap. Hal itu karena Ashiong mempunyai ilmu ju-
rus kungfu yang setingkat lebih tinggi dari pengawal 
lainnya. Apalagi jika dibandingkan dengan putrinya. 
“Siap, Tuanku!” ucap Ashiong membungkuk hor-
mat. 
“Dan kau putriku. Berlatihlah sungguh-sungguh.  
Anggaplah latihan ini sebagai pertempuran dua orang 
lawan yang hendak saling menjatuhkan!” kata Bong-
kap kepada putrinya. 
“Ya, Papa!” sahut Bong Mini patuh. 
“Nah, mulailah!” ucap papanya memberi aba-aba. 
Lalu ia bersama para pengawal lainnya mengambil 
tempat duduk di sudut ruang latihan untuk menonton. 
Sedangkan Ashiong dan Bong Mini meletakkan pe-
dangnya masing-masing. Kemudian kembali ke tengah 
ruang latihan silat dengan kuda-kuda yang saling ber-
hadapan seperti dua naga yang benar-benar hendak 
bertarung. Segala macam perasaan tidak enak karena 
saling kenal segera mereka hilangkan. Begitu pula 
dengan Ashiong yang tidak lagi memandang Bong Mini 
sebagai putri raja, melainkan dianggapnya sebagai 
musuh besar  agar latihan keduanya benar-benar se-
perti dalam pertempuran sungguhan. 
Karena keduanya sudah saling menganggap musuh, 
maka keduanya pun lebih dulu mengamati lawannya 
dengan sinar mata yang tajam dan penuh penilaian. 
Ashiong melihat betapa Bong Mini tersenyum kecil ke 
arahnya. Sedangkan sikap Bong Mini sendiri seperti 
memandang rendah ke arahnya. Ditambah dengan wa-
jahnya yang berseri, seakan-akan hatinya tengah ber-
gembira. Di hati Ashiong timbul rasa suka. Ia membe-
rikan penilaian bahwa gadis yang berusia enam belas 
tahun di hadapannya itu mempunyai watak periang. 
Sehingga pandangannya yang semula menganggap 
Bong Mini sebagai lawan berubah menjadi kasihan. 
Akhirnya dia berpikir untuk menjaga tubuh putri ra-
janya agar tidak sampai cidera. 
“Bong Mini segeralah menyerangku!” tantang A-
shiong. Dia ingin segera memulai latihan yang serius 
itu. Karena selama ini ia tidak punya kesempatan un- 
tuk berlatih. Terkecuali bertempur dan bertempur lagi. 
“Baiklah. Tapi alangkah baiknya engkau dulu yang 
melakukan serangan. Bukankah engkau sebagai peng-
ujiku?” kata Bong Mini dengan bibir tersenyum lebar. 
“Baiklah kalau itu kehendakmu. Bersiaplah!” kata 
Ashiong sambil menerjang dengan memainkan jurus 
‘Bangau Mematuk Mangsa’. Jari-jari kedua tangannya 
dipertemukan lurus seperti paruh burung bangau me-
matuk pelan, namun mengandung tenaga dalam yang 
amat dahsyat 
Wuttt! 
Bong Mini agak kaget juga ketika merasakan sam-
baran angin pukulan yang amat kuat itu. Tetapi dia 
sendiri maklum karena pemuda yang ada di hadapan-
nya itu bukan orang yang  sembarangan. Hampir se-
mua jurus kungfu telah dimilikinya. Dan jurus ‘Ba-
ngau Mematuk Mangsa’ baru kali ini ia lihat. Terma-
suk Bongkap dan para pengawal lainnya. 
Memang benar kalau selama ini Ashiong belum per-
nah mengeluarkan jurus ‘Bangau Mematuk Mangsa’. 
Selama ini jurus yang sering ia keluarkan hanya jurus-
jurus yang diberikan Bongkap kepadanya. Termasuk 
saat menghadapi lawan. 
Bong Mini cepat mengelak melihat Ashiong melan-
carkan serangan dengan kedua tangannya yang me-
lengkung seperti leher bangau. Tetapi dengan cepat 
pula tangan Ashiong meluncur ke pundak dan leher-
nya. Kali ini serangannya menjadi lebih cepat dan ber-
bahaya dari sebelumnya. Namun Bong Mini sendiri 
yang mempunyai tubuh mungil dengan tangkas meng-
imbangi kecepatan gerak jurus-jurus Ashiong. Dengan 
kecepatannya itu, kaki Bong Mini berhasil mengirim-
kan tendangan ke perut Ashiong. 
Des! 
 
Ashiong terpaksa menarik kembali tangannya keti-
ka perutnya terhajar tendangan Bong Mini. Lalu ia 
mengerahkan tenaga pada tangan kirinya dan menya-
bet ke kaki Bong Mini yang bergerak menendang kem-
bali. Tetapi dengan cepat Bong Mini menyelamatkan 
kakinya dengan cara memutar tubuh sehingga luput 
dari sabetan tangan Ashiong. Namun belum sempat ia 
menarik napas, Ashiong sudah menerjang kembali. Se-
rangannya kali ini merupakan satu jurus cengkeraman 
tangan ke arah ubun-ubun Bong Mini. Lalu disusul 
dengan pukulan tangan kiri ke arah dada Bong Mini. 
“Ihhh...!” Bong Mini berseru keras dan segera me-
narik tubuh ke belakang dengan posisi miring. Se-
dangkan tangan kanannya diputar dari samping untuk 
menangkis tonjokan tangan lawan yang mengarah ke 
dadanya. Dibarengi dengan tusukan dua jari tangan 
kirinya yang balas menyerang ke arah mata lawan. 
Diam-diam Ashiong mengagumi gerakan balasan 
Bong Mini yang indah dan berbahaya itu. Maka dia 
pun segera menangkis dengan memutar lengannya. 
Duk! Desss! 
Dua kali sepasang tangan itu bertemu, mengaki-
batkan tubuh keduanya terdorong ke belakang. 
Plok! Plok! Plok! 
Bongkap yang menyaksikan latihan seru itu segera 
memberi isyarat untuk berhenti dengan menepuk ta-
ngan liga kali. 
Bong Mini dan Ashiong segera bangun dengan nafas 
yang terengah-engah. 
“Cukup. Sudah lebih dari cukup. Kalian telah mem-
perlihatkan kepandaian yang mengagumkan!” puji 
Bongkap seraya menghampiri Ashiong dan putrinya. 
“Sudah lama aku tidak melihat kalian berlatih. Dan 
sekali melihat, kalian telah membuatku terkagum- 
kagum. Gerakan jurus-jurus kalian nampak begitu ce-
pat dan hampir mencapai kesempurnaan.” 
Bong Mini dan Ashiong saling berpandangan dan 
tersenyum senang karena mendapat pujian dari orang 
yang selama ini disegani. 
“Mari kita kembali ke tempat!” lanjut Bongkap, 
mengajak para pengawal setianya. Mereka semua me-
langkah meninggalkan ruang latihan. 
Tidak lama kemudian mereka telah berada di ruang 
tengah yaitu sebuah tempat pertemuan khusus bila 
mereka mengadakan pembicaraan penting. Di sana 
mereka duduk melingkar dengan menghadapi meja hi-
dangan yang cukup luas. 
“Ashiong, Sang Piao dan kalian semua. Malam ini 
kita akan membicarakan masalah khusus tentang la-
wan-lawan yang akan kita hadapi!” kata Bongkap 
membuka percakapan. 
Empat orang pengawal setianya tampak mengang-
guk-angguk. Sedangkan mata mereka terus tertuju ke-
pada Bongkap dengan penuh perhatian. 
“Mulai besok kita harus sudah mencari orang-orang 
tangguh yang mau berkorban untuk kesejahteraan ra-
kyat. Karena biar bagaimanapun keselamatan dan ke-
tenteraman rakyat ada di tangan kita. Apalagi kehadi-
ran kita ke sini sebagai orang asing yang telah diper-
caya oleh mereka. Dan kepercayaan itu tentu saja ha-
rus dipertanggungjawabkan sebagai balas budi!” lanjut 
Bongkap. 
Keempat pengawal dan putrinya kembali mengang-
guk-angguk. Segala hal yang menjadi pertimbangan 
dan pemikiran Bongkap sangat dihargai oleh empat 
orang pengawal dan putrinya. Oleh karena itu tidak 
terlalu banyak komentar. Melainkan tetap duduk sam
bil mendengarkan setiap ucapan Bongkap dengan  
baik. 
Setelah beberapa lama Bongkap memberikan gaga-
san dan pengarahan kepada empat orang pengawal-
nya, mereka pun segera meninggalkan ruang perte-
muan dengan membawa satu kesepakatan; berjuang 
demi rakyat! Walaupun darah dan nyawa yang menjadi 
taruhannya. 

*** 

Dari hari ke hari, negeri Selat Malaka semakin dice-
kam oleh kecemasan. Para penduduk yang tadinya hi-
dup tenteram kini diburu oleh rasa takut terus-
menerus. Apalagi jika waktu malam tiba, tak satu pun 
di antara mereka yang berani keluar rumah. 
Senja itu ketika matahari rebah sepenggalah di ufuk 
barat, seorang gadis bertubuh mungil dengan pakaian 
silat ketat warna merah tampak berjalan dengan te-
nang. Rambutnya yang dibiarkan bebas lepas tampak 
berayun-ayun, ditiup oleh semilir angin senja. 
Gadis mungil dan cantik itu tidak lain adalah Putri 
Bong Mini. Sengaja hari itu ia tidak menggunakan ku-
danya. Dia ingin lebih menyatu lagi dengan kehidupan 
alam negeri Selat Malaka, sebagaimana para penduduk 
aslinya. 
Sesekali ia pun singgah pada tempat-tempat yang 
dicurigai. Siapa tahu dia bisa berpapasan dengan 
orang-orang Topeng Hitam. Atau ia mampir ke warung-
warung dengan harapan bisa berjumpa dengan orang 
yang dicarinya, para pendekar yang mau diajak berga-
bung untuk melawan para pengacau negeri. 
Sedang asyiknya ia berjalan, tiba-tiba terdengar su-
ara orang yang tertawa terkekeh. 
“He he he..., sungguh luar biasa bila ada seorang 
gadis cantik berjalan sendirian di tempat sepi ini!” 
 
Bong Mini tersentak kaget sambil memutar badan-
nya untuk memandang. Di sana, dari jarak sepuluh 
meter, Bong Mini melihat tiga lelaki berdiri menyeri-
ngai ke arahnya. Umur ketiga lelaki itu sekitar empat 
puluh sampai lima puluh tahun. Ketiganya mengena-
kan pakaian pangsi. Yang seorang bertubuh tinggi be-
sar dengan otot-otot terlihat kokoh kuat dengan sepa-
sang mata liar. Seorang lagi berperawakan sedang 
dengan jenggot panjang dan kusam di dagunya. Se-
dangkan yang ketiganya bertubuh gendut pendek se-
perti bola. Dan semua wajah mereka kelihatan hitam 
pekat seperti suku-suku primitif yang hidup terbela-
kang. 
“Siapa kalian? Dan mengapa membuntuti perja-
lananku?” tanya Bong Mini tenang namun penuh te-
naga. Sehingga kalimat yang dilontarkannya itu ter-
dengar tegas berwibawa. 
Ketiga lelaki tadi tertawa terkekeh mendengar per-
tanyaan Bong Mini. 
“Apakah Nona ingin berkenalan dengan kami? De-
ngan senang hati kami menerimanya!” seloroh si muka 
hitam yang berjenggot kambing tak terurus. 
“Puih! Siapa yang sudi berkenalan dengan kalian. 
Jangankan perempuan,  lelaki pun akan berpikir dua 
kali untuk berkenalan denganmu!” ketus Bong Mini 
dengan sepasang matanya mendelik indah. 
Ketiga lelaki di depannya saling berpandangan. Wa-
jah mereka terlihat geram. 
“Kurang ajar sekali perempuan ini!” gumam seorang 
lelaki yang bertubuh tinggi dan berotot. 
“Tenang. Gadis muda seperti dia memang lebih ba-
nyak emosinya!” temannya yang berjenggot kambing 
menenangkan. 
Setelah ketiganya kembali bersikap tenang, orang  
pendek yang berperut buncit melangkah maju men-
dekati Bong Mini. Sesaat ia tidak mengeluarkan suara 
sepatah kata pun. Hanya sinar matanya saja yang 
mencorong mengamati wajah gadis itu. 
“Nona, apakah tidak tahu dengan siapa Nona ber-
hadapan?” kata lelaki berperut gendut itu. Suaranya 
begitu kecil seperti suara tikus yang tergencet beban. 
Sehingga kedengarannya begitu lucu di telinga Bong 
Mini. 
“Siapa pun kalian aku tidak mau peduli. Kalian te-
lah berlaku lancang karena membuntuti dan mengha-
langi perjalananku!” ketus Bong Mini. 
Lelaki berperut buncit itu tersenyum kecil. Ia masih 
mencoba bersikap sabar. 
“Nona berbicara sangat lancang!” ucap lelaki berpe-
rut gendut itu. 
“Hm.... Orang yang kuhadapi pun bukan orang-
orang sopan. Jadi untuk apa berbaik-baik dengan ka-
lian!” balas Bong Mini dengan bibir mencibir. 
Si pendek gemuk itu menahan napas geram. Tata-
pan matanya semakin tajam mencorong ke arah gadis 
yang juga tengah menatapnya tanpa berkedip. 
“Kuperingatkan sekali lagi, Nona. Mintalah maaf ke-
pada kami agar nyawa Nona bisa selamat!” geram lela-
ki gendut itu. Tapi kegeraman itu membuat Bong Mini 
tertawa dalam hati. Sebab suaranya yang kecil itu di-
paksakan untuk berteriak keras sehingga nafasnya 
tersengal-sengal. 
“Heh, Babi Gendut. Jangan bicara seenaknya. Aku 
juga bisa membeset perutmu itu agar beranak!” ejek 
Bong Mini dengan sikap tubuh siap melakukan perla-
wanan. 
Wajah hitam pekat lawannya itu bertambah kelam 
saja ketika mendengar ucapan Bong Mini yang berna- 
da mengejek. Sepasang matanya yang merah itu sema-
kin menyala seperti hendak mengeluarkan jilatan api. 
“Bocah perempuan. Berani engkau menghinaku!” 
hardik lelaki berperut gendut itu dengan wajah panas 
seperti terbakar akibat kebencian yang berbau darah 
dan maut. Setelah ia berkata, tubuh lelaki gendut itu 
menerjang ke arah lawan dengan dahsyat. Kedua ta-
ngannya membentuk cakar untuk menyerang, seperti 
hendak mencengkeram seekor kelinci. Sedangkan dari 
kerongkongannya terdengar suara menggeram seperti 
binatang buas yang bertemu mangsanya. Lalu dari ja-
ri-jari tangan yang membentuk cakar itu, menyembur 
hawa yang amat kuat dibarengi oleh uap putih dan 
bau amis darah. 
Melihat serangan aneh yang baru dilihatnya itu, 
Bong Mini segera menggerakkan kakinya dengan mu-
dah. 
Lelaki berperut gendut itu terbelalak kaget. Baru 
kali ini ia bertemu dengan seorang gadis yang mempu-
nyai kepandaian ilmu silat. Sehingga ia berpikir bahwa 
untuk menghadapi gadis yang satu ini tidak bisa den-
gan main-main. Salah-salah nanti dia sendiri yang di-
permainkan lawannya. 
Setelah serangan pertamanya gagal, lelaki berperut 
gendut itu kembali menyerang lawannya dengan ceng-
keraman. Akan tetapi cengkeraman itu bertemu de-
ngan lengan Bong Mini. Dan ketika kedua lengan yang 
mengandung tenaga itu bertumbukan, tubuh si gendut 
langsung terjengkang ke belakang. Lalu menggelinding 
di tanah seperti bola yang ditendang. Tetapi sebentar 
kemudian tubuh bulat itu sudah kembali bergerak 
bangun dengan muka merah. Disusul kemudian de-
ngan gerak tangannya yang mencabut sebilah pedang 
pendek berwarna kecoklat-coklatan. Sebagai tanda  
bahwa pedang itu sudah sering dilumuri racun. 
Dua orang bermuka hitam lainnya segera mencabut 
goloknya masing-masing ketika melihat sahabatnya 
sudah terjengkal dalam beberapa gebrakan. Kemudian 
mereka melompat ke tengah pertempuran. 
Walaupun ia sudah dikepung oleh tiga orang la-
wannya, tetapi gadis berpakaian merah ini tetap berdiri 
tegak sambil bertolak pinggang. Dia nampak tenang-
tenang saja. Tak ada sedikit pun rasa gentar yang me-
nyelimuti hati dan pikirannya. Malah bibirnya terse-
nyum-senyum seperti seorang guru yang melihat mu-
rid kecilnya yang nakal. 
Sikap Bong Mini yang melecehkan itu memang sa-
ngat beralasan. Sebab ia telah membaca kemampuan 
lawannya masing-masing. Ketiga lawannya itu mem-
punyai kepandaian yang masih jauh di bawahnya. 
Maklumlah, ia sendiri telah mendapat gemblengan dari 
papanya sejak berumur empat tahun. Dan kehadiran-
nya di tengah dunia persilatan pun sudah cukup 
punya pengalaman. 
Ketika melihat Bong Mini masih berdiri bertolak 
pinggang, lelaki berperut gendut itu segera menyerang 
dengan pedang pendeknya. Begitu pula dengan dua 
orang teman lainnya yang menerjang dengan golok me-
reka masing-masing. Tapi belum sempat senjata me-
nyentuh sasaran, tubuh Bong Mini segera mencelat ke 
atas dengan cepat. Dan dengan gerakan yang sukar di-
ikuti pandangan ketiga lawannya, Bong Mini telah ber-
diri kembali di belakang mereka sambil tertawa kecil. 
Geli melihat ketiga lawannya yang celingukan seperti 
kambing congek. 
Ketika melihat lawan telah berdiri di belakang me-
reka sambil tersenyum, lelaki gendut itu kembali me-
nyerang dengan bacokan pedang. Diikuti oleh dua  
orang temannya yang juga turut menyerang dengan go-
lok masing-masing. 
Menghadapi keroyokan tiga lawannya yang bersen-
jata itu, Bong Mini kembali menyelamatkan diri de-
ngan membuat gerakan-gerakan cepat yang dinama-
kan jurus ‘Tanpa Bayangan’. Dia melompat sambil 
berputar bagai gangsing. Lalu dengan cepat pula jari 
telunjuknya menotok pundak si gendut yang pendek 
itu. Begitu cepat gerakannya sehingga sangat sulit un-
tuk dihindari lawannya. Maka dalam sekejap lelaki 
pendek dan gendut itu terjatuh lemas tanpa tenaga. 
Sedangkan pedangnya terlepas dari tangan. 
Tanpa memberikan kesempatan kepada kedua la-
wan yang masih berdiri dengan golok di tangan, Bong 
Mini kembali menyerang bertubi-tubi. Sehingga ter-
dengarlah teriakan kesakitan ketika kedua tubuh la-
wannya roboh. Sedangkan golok mereka terlepas dari 
genggaman tangan masing-masing. Mereka terjatuh 
tepat di dekat temannya yang bertubuh gendut. 
“Belajarlah lebih baik lagi kalau kalian ingin menja-
di lelaki sejati!” ucap Bong Mini seraya tersenyum me-
lecehkan. 
Kedua lelaki yang tadi terjatuh itu tidak segera me-
nyahut. Mereka bergegas bangkit sambil menggotong 
tubuh lelaki gendut yang masih lemas. Lalu segera 
membawanya keluar dari tempat pertempuran. Diikuti 
oleh pandangan Bong Mini yang tersenyum lega. 
Setelah punggung lawannya tak terjangkau oleh 
pandangan matanya lagi, Bong Mini kembali melan-
jutkan perjalanan. 
Di langit matahari sudah semakin condong ke ba-
rat. Sinarnya yang tadi terang-benderang, kini berubah 
redup. Cahayanya pun sudah tidak begitu menyengat. 
Membuat daun-daun yang semula menadahi hujaman  
sinar matahari, kini perlahan-lahan merunduk. 
Dengan wajah tetap berseri, Bong Mini terus berja-
lan sampai akhirnya ia tiba di sebuah kota kecil yang 
bernama Kota Girik. Kemudian ia masuk ke sebuah 
rumah makan untuk mengisi perutnya  yang sudah 
melilit. 
Ketika sampai di dalam, ternyata ruangan rumah 
makan itu sudah penuh sekali. Tapi untung masih ada 
sebuah meja kosong di sudut belakang. 
“Silakan, Nona!” seorang pelayan keturunan Cina 
segera menghampiri Bong Mini dan mempersila-
kannya. 
Bong Mini mengangguk sambil tersenyum ramah. 
Lalu kakinya melangkah menuju sudut belakang. Dan 
sebelum ia sempat menarik kursi makan, pelayan tadi 
telah mendahuluinya. Kemudian dengan sikap sopan 
pula pelayan keturunan Cina itu mempersilakan Bong 
Mini duduk. Setelah Bong Mini duduk, ia segera 
memesan beberapa macam lauk dan nasi putih. Ter-
masuk air teh tentunya. 
Sambil menunggu pesanan datang, Bong Mini me-
nyebar pandangannya pada sekeliling ruangan, terma-
suk pada pengunjung yang memadati rumah makan 
itu. 
Hm..., tampaknya kebanyakan dari mereka adalah 
orang berkebangsaan Cina sepertiku, gumam Bong 
Mini ketika melihat pengunjung yang rata-rata berma-
ta sipit. Bahkan di antara mereka hampir semuanya 
menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa asal negerinya. 
Ternyata  banyak juga orang-orang sebangsa de-
nganku yang merantau ke negeri timur ini, gumam 
Bong Mini lagi. Dan bersamaan dengan itu seorang pe-
layan yang tadi menyapa Bong Mini telah datang de-
ngan membawa pesanannya. Kemudian makanan itu  
pun diletakkan di atas meja. 
Setelah pesanan tersedia semua, Bong Mini segera 
menyantap hidangannya dengan penuh kenikmatan. 
Hm..., pantas saja banyak orang yang makan di si-
ni, masakannya lezat, nilai hati Bong Mini sambil terus 
melahap makanannya. 
Tanpa disadari oleh Bong Mini, semua tingkah-
lakunya diperhatikan oleh sepasang mata dari sudut 
lain di ruangan rumah makan itu. Sepasang mata itu 
milik seorang lelaki muda yang umurnya kurang lebih 
sekitar tiga puluh tahun. Dia seorang laki-laki yang 
gagah perkasa. Tubuhnya sedang namun padat dan 
tegak. Sehingga kelihatan kuat. Pakaiannya rapi dan 
sederhana. Sedangkan wajahnya tampak begitu gagah. 
Berkulit segar dan kemerahan. Sepasang matanya ber-
sinar tajam melukiskan kecerdikannya. 
Bong Mini telah selesai makan. Ia langsung berdiri 
dan melangkah menuju pemilik warung untuk mem-
bayar. Setelah itu kakinya melangkah keluar dengan 
sikap tenang dan lega karena perutnya yang tadi ko-
song telah terisi. 
Lelaki muda yang tadi memperhatikan Bong Mini di 
rumah makan itu segera meneguk habis araknya. Lalu 
ia segera meninggalkan rumah makan itu. Dan ketika 
jaraknya sudah hampir dekat dengan Bong Mini, lelaki 
itu mempercepat langkah seperti tergesa-gesa. 
Bong Mini yang melangkah di depannya sempat 
menoleh ke arah lelaki itu. Namun lelaki tadi seperti 
tak menghiraukan pandangan Bong Mini. Ia terus me-
langkah cepat mendahului Bong Mini. 
Bong Mini menghela napas lega sambil melanjutkan 
langkahnya. Tanpa sedikit pun menaruh curiga terha-
dap lelaki yang berjalan mendahuluinya itu. Ia berpikir 
bahwa lelaki tadi seorang penduduk biasa yang hanya  
mempunyai kesibukan bekerja dan mengisi perut. 
Setelah agak jauh berjalan, tiba-tiba Bong Mini me-
rasakan langkahnya tengah diikuti oleh beberapa 
orang. Tapi ia tetap terus melangkah tanpa menengok 
ke belakang agar tidak mencurigakan para penguntit-
nya. Namun demikian, sebagai wanita jantungnya ber-
debar juga. Dia baru menyadari bahwa sekarang ini 
seorang gadis tidak bisa berjalan sendirian keluar ru-
mah. Karena negerinya telah dimasuki oleh orang-
orang jahat 
Bong Mini sebenarnya ingin sekali mengetahui 
orang-orang yang membayanginya itu. Untuk mene-
ngok, tentu saja tidak mungkin, sebab akan menim-
bulkan kecurigaan dan perkelahian. Namun tiba-tiba 
Bong Mini mendapat akal. Ia dengan sengaja menja-
tuhkan saputangan yang sejak tadi digenggamnya. 
Kemudian dengan gerakan seperti yang tidak disengaja 
ia membungkuk dan berjongkok mengambil saputa-
ngan yang dijatuhkannya tadi. Pada kesempatan itulah 
ia pergunakan untuk melirik ke belakang. Walaupun 
hanya sekilas ia melirik, tapi matanya dapat menang-
kap wajah-wajah yang membayanginya. Mereka ber-
jumlah enam orang dengan pakaian pangsi hitam-
hitam. Sedangkan satu di antara keenam orang itu 
memakai pakaian putih dengan baju berlengan pan-
jang dan rapi. Dialah lelaki yang memperhatikannya 
sejak di dalam ruangan rumah makan. 
Setelah dapat membaca dan menghitung orang-
orang yang membayanginya itu, Bong Mini segera me-
lanjutkan langkahnya kembali. Langkahnya begitu 
lembut seakan-akan tidak mengetahui keenam orang 
yang mengikutinya. 
Bagaimanapun tenangnya ia berjalan, dadanya te-
tap juga berdebar-debar. Apalagi ketika ia merasakan  
bahwa keenam lelaki itu kini sedang mengatur posisi 
dengan menyebar ke seluruh penjuru. Dan apa yang 
menjadi firasatnya itu benar. Karena dengan tiba-tiba 
dua lelaki berpakaian pangsi hitam-hitam meloncat 
dari arah kiri dan kanannya. 
Bong Mini tersentak kaget sambil mundur dua lang-
kah dengan tubuh membalik. Sehingga empat orang 
yang ada di belakang terlihat jelas. Mereka melangkah 
mendekatinya dengan tenang. Wajah mereka tampak 
angker dengan pedang di punggung masing-masing. 
Keempat lelaki itu menghentikan langkahnya dalam 
jarak tiga meter dari tempat gadis yang dihadangnya. 
Mata mereka mencorong ke arah Bong Mini dengan ta-
jam. Sedangkan wajah mereka tak sedikit pun menam-
pakkan kesan ramah. Bengis dan kusut. Hanya lelaki 
yang berpakaian putih saja yang kelihatan sedap di-
pandang. Walaupun wajahnya kelihatan asam tanpa 
senyum sedikit pun. 
“Siapa kalian?! Dan kenapa menghalangi perja-
lananku?!” tanya Bong Mini dengan suara lantang. Se-
dangkan sepasang matanya yang tajam menusuk mata 
lelaki yang berpakaian putih. 
Lelaki yang mendapat tatapan tajam dari seorang 
gadis yang berpakaian merah itu tidak menjawab. 
Hanya tatapannya saja yang tajam, membalas tatapan 
mata Bong Mini. Kemudian dia memberi isyarat kepa-
da teman-temannya dengan gerakan kepala. Lima 
orang temannya yang berpakaian hitam-hitam segera 
bergerak mendekati gadis berpakaian merah. Cara ja-
lan mereka tegang. Wajah kelimanya bengis seperti 
hendak menerkam mangsa. 
Melihat gelagat yang tidak baik, Bong Mini mundur 
perlahan. Sedangkan matanya dengan gesit mengawasi 
gerak-gerik kelima lelaki yang mengepungnya. 
 
“Tangkap saja. Jangan pakai senjata!” cetus lelaki 
yang berpakaian putih dan rapi itu ketika lima orang 
temannya menarik  golok masing-masing dari sarung-
nya. Mendapat peringatan itu, kelima temannya segera 
memasukkan kembali golok mereka. Kemudian dua 
orang dari mereka segera menerjang ke arah Bong 
Mini. Tetapi gadis mungil berwajah cantik itu bukan 
gadis sembarangan. Dia seorang gadis yang sejak kecil 
telah mendapat gemblengan ilmu bela diri dari papanya. 
Ketika kedua orang itu menyerang Bong Mini dari 
dua arah, dipergunakan tubuhnya yang mungil untuk 
menunduk sedikit. Membuat serangan kedua orang itu 
luput. Malah tubuh mereka bertabrakan cukup keras. 
Sedangkan Bong Mini dengan cepat melompat ke bela-
kang dan berdiri menatap kedua lawannya dengan ter-
senyum tipis. 
“Makanya hati-hati kalau hendak melompat!” ledek 
Bong Mini. Namun sikapnya tetap waspada, takut ka-
lau yang lainnya menyerang tiba-tiba. 
Mendapat ejekan Bong Mini, kedua lelaki itu men-
jadi marah. Dengan geram mereka kembali menyerang. 
Namun dengan gesit pula Bong Mini dapat melompat 
menghindar. Sedangkan kedua kakinya digunakan un-
tuk mendorong kedua pantat lawannya. Akibatnya me-
reka jatuh tersungkur. 
“Hi hi hi..., lagi nangkap kodok, Bang?” Bong Mini 
tertawa terkikik. Sedangkan panggilan bang kepada 
mereka karena ia merasa yakin kalau para penge-
royoknya itu penduduk pribumi, penduduk Pulau 
Bangka. 
Melihat kedua lelaki itu dipermainkan begitu rupa 
oleh gadis ingusan, ketiga temannya yang sejak tadi 
hanya menonton, kini bergerak mengepung Bong Mini  
dengan golok terhunus. 
“Hiaaat!” 
Sing! Sing! 
“Hi hi hi.... Bagus sekali tindakan kalian. Sehingga 
aku dapat berlatih silat lebih baik lagi!” ejek Bong Mini 
lagi sambil mengeluarkan pedang yang tersangkut di 
punggungnya. Kemudian dengan permainan pedang-
nya yang cukup baik, Bong Mini segera menangkis go-
lok-golok lawan yang mengarah kepadanya. 
Trang trang trang...! 
Bunga-bunga api berpijar ketika golok-golok mereka 
tertangkis oleh pedang gadis berbaju merah itu. Ke-
mudian diputar-putarnya pedang itu dengan kecepa-
tan sampai tak terlihat oleh mata. Membuat kelima 
penyerangnya merasa kesulitan. Lalu tubuh mereka 
berloncatan beberapa langkah ke belakang dan me-
ngurung gadis mungil itu. 
“Hi hi hi..., majulah kalian! Aku ingin lihat sampai 
di mana kemampuan kalian dalam berhadapan dengan 
seorang gadis kecil sepertiku!” tantang Bong Mini. 
“Kelinci sombong. Rasakan seranganku!” salah seo-
rang dari pengeroyok itu mendengus marah. Kemudian 
dengan cepat goloknya menyambar dahsyat. Tetapi 
alangkah kagetnya lelaki itu, karena dengan cepat ga-
dis berusia enam belas tahun yang ditabraknya me-
nyambut dengan pedang. Kedua senjata itu langsung 
berbenturan keras dan golok lawan terbelah dua! 
Belum sempat lelaki itu mengatur posisinya, pedang 
Bong Mini yang berujung runcing telah lebih dulu me-
nembus lambungnya. Seketika lelaki itu rubuh tak be-
da dengan seonggok kayu kering. 
Empat orang lainnya menjadi terkejut dan marah. 
Mereka memutar golok lebih gencar lagi, bahkan ta-
ngan kirinya pun turut menyerang dengan mengeluar 
kan jurus menotok jalan darah dengan tiga jari tan-
gan mereka masing-masing. 
Namun, sebagai gadis kecil yang sudah punya pe-
ngalaman dalam dunia persilatan, dengan tenang dan 
tersenyum Bong Mini menghadapi keroyokan mereka. 
Ia telah dapat membaca batas kemampuan semua la-
wannya. Sehingga setiap babatan golok dapat dihalau 
dengan mudah oleh pedangnya yang selalu berkelebat 
cepat. 
“Mampuslah kau!” teriak seorang lelaki pada saat 
goloknya tertangkis oleh pedang Bong Mini. Dengan 
cepat ia menggerakkan tiga jarinya untuk menotok da-
da Bong Mini. Tetapi dengan gesit pula Bong Mini 
menghindari totokan itu dengan melengkungkan ba-
dannya ke belakang. Lalu secepat kilat pedang yang 
tadi digunakan untuk menangkis, diarahkan ke tubuh 
lelaki yang hendak menotoknya. 
Brettt! 
Pedang Bong Mini merobek tubuh lelaki itu dari ulu 
hati sampai ke pantatnya. Kemudian disusul dengan 
serangan-serangan ke arah tiga lawannya yang masih 
berdiri kaku melihat kematian temannya. Dalam waktu 
singkat, lima orang pengeroyoknya tersungkur jatuh 
tanpa dapat bergerak lagi. 
Lelaki muda berpakaian putih dan rapi terbelalak 
kaget ketika melihat kelima temannya mati dalam se-
kejap. Dia tidak mengira sama sekali kalau teman-
temannya yang mahir memainkan golok dan gerakan 
menotok dapat dikalahkan seorang gadis mungil. Na-
mun ia sendiri tidak gentar melihat kenyataan itu. Ma-
lah dengan kemarahan yang memuncak dan kebencian 
yang meluap, ia mendekati putri Bong Mini yang sudah 
sejak tadi menunggu reaksinya. 
“Kau boleh bangga dapat mengalahkan kelima  
orang temanku. Tapi jangan mengira kau dapat me-
ngalahkanku!” usai berkata, lelaki itu langsung me-
nyerangnya dengan sebilah pedang di tangan. 
“Bagus. Keberanianmu ini yang sebenarnya ku-
tunggu-tunggu sejak tadi!” ujar Bong Mini seraya me-
nangkis serangan pedang lawan dengan pedangnya, 
sehingga menimbulkan benturan yang amat keras. 
Disusul dengan patahnya pedang lelaki muda itu. 
Lelaki muda berpakaian putih itu melemparkan pe-
dangnya yang patah. Setelah itu menyerang kembali 
dengan tangan kosong. 
Melihat lawannya tanpa senjata, Bong Mini pun me-
lemparkan pedangnya ke tanah dan menyambut se-
rangan lawannya dengan tangan kosong pula. Dengan 
tenang ia menghindari serangan lawan. Tubuh diputar 
sambil mengibaskan kedua tangannya untuk menang-
kis serangan lawan yang menyerangnya dengan jurus 
menotok. 
Menyadari betapa gadis itu mempunyai ilmu kungfu 
yang tidak bisa dianggap remeh, pemuda berbaju putih 
kembali melancarkan  serangan bertubi-tubi dengan 
sepasang tangan dan kakinya yang dapat mengirim ha-
jaran berbahaya. Serangannya susul-menyusul bagai 
gelombang samudera yang tiada henti. 
Bong Mini sangat terkejut mendapat serangan yang 
tiada putus-putus itu. Dalam hati ia mengakui bahwa 
lawannya kali ini amat tangguh. Kalau ia hanya men-
gelak dan menangkis, itu akan membuat dirinya teran-
cam. Oleh karena itu, setelah lawannya mendesak 
sampai belasan jurus, Bong Mini membalas dengan ju-
rus kungfu ‘Tanpa Bayangan’ disertai pengerahan te-
naga dalam. Membuat lawan yang mencoba menangkis 
serangannya, merasa seperti dilanda badai. Tubuhnya 
terlempar ke belakang seperti daun kering yang tertiup  
angin. Lalu tubuhnya membentur sebuah batu besar 
dengan amat keras. 
Dug! 
Pemuda itu terkulai lemah ketika punggungnya ter-
hantam batu besar. Sedangkan dari mulutnya me-
nyembur, darah segar. Lalu tubuhnya menggelepar-
gelepar seperti ayam dipotong. Sampai akhirnya diam 
tak berkutik lagi. 
Bong Mini menghela napas dalam. Lalu kakinya me-
langkah menghampiri lawannya yang sudah tidak ber-
kutik itu. Di sana ia tercenung menyesali kematiannya. 
Sebab dengan matinya pemuda itu ia tidak akan bisa 
mengetahui asal-usulnya. 
“Apa yang kau sesali, pendekar wanita?” tiba-tiba 
suara lembut terdengar berbisik di telinganya. Sedang-
kan bahunya terasa seperti ada yang menyentuh. De-
ngan cepat Bong Mini menoleh ke samping. 
“Papa!” keluh Bong Mini ketika mengetahui kalau 
orang yang menyentuh pundaknya adalah papanya. 
Bongkap tersenyum kagum menatap putrinya. 
“Papa, saya menyesal telah membunuh mereka,” li-
rih Bong Mini lagi. 
Bongkap menggeleng sambil tersenyum bijak. 
“Kematiannya akibat perbuatannya sendiri,” ucap 
Bongkap. 
“Saya menyesal karena belum sempat mengetahui 
asal-usul mereka,” Bong Mini mengungkapkan penye-
salan yang sesungguhnya. 
“Papa yakin mereka adalah orang-orang yang kita 
cari selama ini!” 
“Orang-orang bertopeng yang menyerang tempat ki-
ta, maksud Papa?” 
“Ya. Atau bisa juga orang-orang yang menculik keti-
ga dayangmu!” sahut papanya.  
Bong Mini tercenung sambil mengangguk lamat. 
“Sudahlah. Mari kita pulang untuk istirahat. Sete-
lah itu kita lanjutkan pencarian kita untuk mengetahui 
dan mencari orang-orang bertopeng yang menyerang 
rumah kita!” ajak Bongkap serta menggandeng pu-
trinya. 
Bong Mini tidak menolak. Dan dengan sikap manja, 
tubuhnya dirapatkan dalam pelukan papanya. Mereka 
berjalan beriringan menuju utara untuk melanjutkan 
pencarian orang-orang bertopeng yang telah menye-
rang rumah mereka. 
Siapa sebenarnya orang-orang bertopeng hitam 
yang melakukan serangan ke tempat Sepasang Pen-
dekar dari Selatan? Dan siapa pula keenam orang yang 
menyerang Bong Mini? Untuk mengetahuinya ikutilah 
serial Putri Bong Mini selanjutnya dalam episode: ‘Hi-
langnya Seorang Pendekar’. 
 
 
SELESAI