1. HUKUMAN
PENDAPA depan Padepokan Rahtawu sunyi senyap ki-
ni. Angin pun sampai terdengar menderu di sudut-
sudut atap. Angin dingin yang biasanya membawa alu-
Kini angin itu hanya membawa suara dari luar. Sua-
ra ratap tangis. Suara makian. Kemudian suara kaki-
kaki yang berjalan menuju pendapa.
Di pendapa sendiri sunyi.
Semua yang ada di situ bagai patung.
Suranggana, dengan kepalanya yang hitam berhias
rambut tak keruan. Dan aliran darah yang terus me-
ngucur dari bagian belakang kepalanya. Berdirinya ti-
dak mantap. Setiap saat ia pasti tumbang. Tapi mata-
nya beringas merah. Membara. Marah. Mulutnya mena-
han rasa sakit. Tangannya teracung. Telunjuknya kaku
mengarah pada Tara.
Tara juga bagai patung.
Tapak kakinya memang sudah dalam kedudukan ge-
rak Sura-caya, siap untuk menghindar dari serangan
pihak mana pun. Tetapi kaki-kaki itu nampak lemas.
Tak ada otot yang tegang yang menandakan tenaga
akan tersalur dan kaki terangkat. Pandangan matanya
pun tidak tertuju pada Suranggana yang seakan hendak
melahapnya. Ia pun tidak memandang pada Anengah
yang walaupun berada di lantai siap terbang setiap saat,
dengan kaki akan langsung menebas lehernya.
Rasanya hanya Anengah yang paling hidup. Matanya
liar. Hidungnya kembang-kempis. Jari-jemari yang me-
nahan tangannya di lantai gemetar. Dan setiap otot di
kakinya menegang, menghimpun kekuatan dahsyat un-
tuk membunuh dalam sekali pukul.
Bahkan Rangga Prawangsa yang galak itu rasanya
kalah angker dengan Anengah. Perwira Daha itu kini
berada di belakang Tara, siap untuk meringkusnya lagi
setelah tadi dengan mudah mengibaskannya. Rangga
Prawangsa bertekad untuk menjalankan tugasnya de-
ngan baik. Dan tugas itu adalah melindungi Resi Rha-
gani. Apa pun yang terjadi. Ia tahu Tara adalah murid
Resi Rhagani. Tetapi jika keadaan memerlukan, ia tak-
kan segan menghajar anak itu.
Resi Rhagani paling mirip patung. Ia memejamkan
mata. Ia menyusun jari, merapatkan tapak tangan. Ia
berdiri tegak. Tak bergerak.
Yang lain diam, namun gelisah. Tari merangkul se-
buah tiang agung. Mukanya rapat ke kayu itu. Matanya
bingung memandang Tara. Mulutnya ternganga seolah
ingin meneriakkan sesuatu. Lati dan Rati berada di
pinggir. Berangkulan. Memandang ke Tara dan Surang-
gana. Pawungsari dan Dwaralika kebingungan.
Makin banyak keluarga padepokan yang berdatang-
an ke pendapa itu. Mereka memang hanya berhenti di
tepi lantai pendapa. Kemudian diam.
“Aku mohon Panembahan...” terdengar suara serak
Suranggana kini bergema. Susah sekali ia mengelua-
rkan kata-kata. “Cabut nyawa murid durhaka ini. Dia
punya ilmu tinggi, namun tak dapat menggunakannya.
Dia perkasa, namun tak tahan melihat wajah cantik
hingga melupakan semua saudaranya. Bunuh dia, Pa-
nembahan!”
Dan Suranggana roboh. Beberapa orang akan meno-
longnya. Tetapi ia mengangkat tangan mencegah. Susah
payah ia merayap hingga mencapai kaki Resi Rhagani.
Dipegangnya kaki itu dengan tangannya erat-erat.
“Belasan tahun, puluhan tahun... aku mengabdi pa-
da Tuan, Panembahan... aku tak mau Tuan keliru...
aku tak mau Tuan memperoleh malapetaka hanya ka-
rena keliru menilai orang. Muridmu si Tara itu... tidak
punya hati. Tuan akan menyesal jika masih membiar-
kannya hidup. Suatu hari dia akan... mampu mengor-
bankan saudara-saudaranya lagi... O, Panembahan...”
Dan Suranggana roboh lemas. Tak bergerak lagi. Mati.
Seorang warga padepokan yang berada di luar pen-
dapa berlutut, sujud mencium tanah. Dan ia berseru,
“Derita kami begitu dalam, Guru... hukumlah Tara!”
Dan gerakan serta suaranya satu per satu ditiru oleh
yang lain. Tak lama orang-orang yang mengelilingi pen-
dapa itu telah bersujud sambil berseru bagaikan ber-
nyanyi, “Hukum Tara! Hukum Tara! Hukum Tara!”
Tara bagaikan tersentak dari mimpi. Matanya beri-
ngas memandang ke kiri ke kanan. Dan tiba-tiba ia pun
menubruk kaki Resi Rhagani yang masih digenggam
Suranggana.
“Guru... hukumlah aku jika aku bersalah... tapi aku
tak merasa bersalah, Guru!” teriak Tara mencoba meng-
atasi galau di luar itu.
“Suranggana telah tewas,” baru kemudian Resi Rha-
gani terdengar suaranya. “Ia merasa pasti akan sesuatu.
Dan ia mati dengan rasa pastinya itu. Kau harus berce-
rita dengan jelas. Untuk itu kautenangkan diri lebih da-
hulu. Dwaralika, Pawungsari, bawa Tara ke Ruang
Sunyi. Yang lain...” Resi Rhagani memperkeras sua-
ranya hingga menindih suara galau yang ada dan se-
mua diam untuk mendengarkannya, “Padepokan kita
telah tertimpa malapetaka dahsyat. Kita belum tahu apa
yang terjadi. Untuk itu Tara akan kita periksa nanti.
Yang jelas, ini mungkin ada hubungannya dengan peta-
ka yang menimpa guru kalian—Madraka. Uruslah me-
reka yang tewas. Dan waspada serta lipat-gandakan
penjagaan. Malam nanti kita akan melakukan upacara
untuk mengiringi mereka yang menghadap para dewata.
Kemudian kita bicarakan apa yang terjadi.”
Dengan menunduk Resi Rhagani meninggalkan tem-
pat itu. Dwaralika dan Pawungsari memberi isyarat pa-
da Tara untuk ikut mereka. Ketika Tara tak bergerak,
Anengah dengan geram berdiri dan menyeret pemuda
itu.
Di luar, sebuah batu pertama terlempar pada Tara.
Kemudian menyusul batu-batu lainnya. Hujan batu di-
iringi hujan makian. Tara dengan gugup mencoba me-
nangkis semua lemparan itu. Dwaralika dan Pa-
wungsari pun terpaksa melindunginya. Namun mereka
kewalahan. Akhirnya mereka hanya bisa menyeret Tara
untuk berlari secepatnya.
Terengah-engah mereka mencapai bangunan yang
berisi Ruang Sunyi. Ruang itu berada di bawah tanah,
tempat Sang Resi biasa menyepi untuk menekuni il-
munya.
Dwaralika dan Pawungsari berhenti sejenak mem-
perhatikan apakah orang-orang mengejarnya. Tidak.
Agaknya mereka masih berada di halaman depan. Dan
kini mereka mungkin sibuk mengurusi mayat-mayat.
“Buka pintunya, Dinda Pawungsari,” kata Dwaralika.
Diperhatikannya Tara. Pemuda itu lemas. Matanya kini
kosong tak bercahaya. Pasrah.
“Sebetulnya apa yang terjadi, Tara?” tanya Dwaralika
sementara Pawungsari membuka pintu—sebuah pintu
kayu yang besar dan berat. Tara diam saja.
“Kau perlu menjawab. Bukan untuk menyelamatkan
nyawamu, tetapi agar kita tahu apa yang terjadi. Agar
kita bisa mencegahnya.”
Tara diam saja.
Anengah muncul. Badannya penuh keringat. Dada-
nya kembang-kempis menahan marah.
“Tara! Betulkah kata Paman Suranggana tadi?” ben-
tak Anengah.
Tara diam saja.
“Bangsat cilik... jawab!” dengan geram Anengah me-
nampar Tara. Tapi Dwaralika dengan tangkas menang-
kis tamparan itu.
“Sabar, Anengah, akan kita bicarakan nanti,” kata
Pawungsari.
“Paman tadi dengar kata Paman Suranggana? Beliau
merasa pasti si kunyuk kecil ini penyebab kematian ta-
di!” sahut Anengah geram.
“Aku tahu. Tapi kita harus mempelajari dulu apa
yang terjadi.” Dwaralika mendorong Tara masuk. Pa-
wungsari langsung menuntun Tara masuk dan menu-
runi tangga. Dwaralika menutup pintu bangunan serta
berdiri menghadang di depan Anengah. “Sementara itu
kita tak bisa sembarangan menjatuhkan hukuman!”
“Ah, itu semua hanya membuang waktu!” geram
Anengah. “Paman sendiri tahu, ia suka bersikap manis
pada Bapa Guru dan Bibi Madraka, hanya agar mempe-
roleh ilmu lebih banyak! Kesetiaannya tak ada. Dan itu
berbahaya, bukan?”
“Benar, tapi yang berhak memberi hukuman hanya
Gusti Panembahan,” kata Dwaralika.
“Sekali lagi, itu hanya membuang waktu!” dengus
Anengah.
Dwaralika sesaat memperhatikan Anengah. “Ane-
ngah, kenapa kau tiba-tiba berubah? Biasanya kau wa-
laupun kaku tetapi punya perasaan adil, dan tidak begi-
tu serampangan dalam menjatuhkan putusan.”
“Aku tidak apa-apa! Hanya aku tak rela jika saudara-
saudaraku tewas tanpa pembalasan!”
“Kepada siapa? Yang jelas bukan Tara yang membu-
nuh orang-orang itu!”
“Tapi mungkin Tara sudah bisa melakukan pembala-
san itu tanpa harus menunggu segala macam urusan—
kalau saja ia memang punya maksud untuk membalas
dendam! Jadi Tara jelas bersalah!”
“Tiba-tiba rasa dendam menyelimuti hatimu. Apakah
itu yang kaupelajari di sini?”
“Paman bukan guruku, tak usah Paman menggurui-
ku.”
“Bagus jika kauingat bahwa kau patut patuh pada
gurumu. Dan gurumu menghendaki perkara ini dibica-
rakan lebih dahulu!”
“Dinginkan kepalamu, Anengah,” Pawungsari telah
keluar dari Ruang Sunyi, dan memalang pintunya dari
luar. Memang sesungguhnya Ruang Sunyi itu serbagu-
na—untuk menyepi atau mengucilkan seseorang. Ada
kalanya seorang siswa harus merenungkan kekeliruan-
nya hingga terpaksa dikucilkan di sini. Di bawah tanah,
ada tiga tingkat ruangan, bersusun ke bawah. Untuk
kekeliruan yang sangat berat, maka siswa yang ber-
sangkutan ditempatkan dalam ruangan yang hanya cu-
kup untuk duduk bersila. Ruang di atasnya agak lega.
Ruang ketiga yang tepat berada di bawah permukaan
tanah sudah cukup lega dan bahkan penghuninya bo-
leh menikmati cahaya lampu, buku-buku agama, serta
makanan atau minuman. Di sini sesungguhnya Sang
Resi biasa menyepi—bukan karena menjalani hukuman
tapi hanya untuk lebih memusatkan pikirannya pada
sesuatu. Bangunan yang berada di atas tanah berupa
ruangan untuk berdiskusi—sebuah ruang yang lega
dengan jendela berterali bambu dan dinding bambu
dengan pintu kokoh.
“Tara berada di ruang terbawah. Dia toh tak akan bi-
sa ke mana-mana. Jika kau ingin menghukumnya, ma-
sih ada saatnya nanti.”
“Aku tak mengerti Paman berdua. Sama sekali tak
mengerti. Bukan hanya rasa keadilan... tetapi toh Pa-
man berdua seharusnya mencoba membalaskan kema-
tian Paman Suranggana!” kata Anengah.
“Aku mengerti bahwa mungkin kau akan menjadi pe-
mimpin para siswa di sini,” kata Pawungsari dingin.
“Aku mengerti rasa tanggung jawabmu besar. Rasa per-
saudaraanmu tebal. Tapi selama kau belum resmi men-
jadi pemimpin di sini, kuharap kau menunggu apa yang
akan dikatakan Sang Panembahan nanti. Ayo, Dinda
Dwaralika....”
Pawungsari menggamit Dwaralika. Dwaralika mena-
tap tajam pada Anengah dan berdua melangkah pergi.
Anengah masih lama termenung di depan pintu vang
terpalang itu. Matahari telah tinggi. Dari sudut matanya
ia melihat sesosok bayang-bayang orang di balik
bayang-bayang lumbung padepokan. Ia menghela napas
panjang dan berkata seorang diri, “Hhh... betapa berat
cobaan untuk Guru. Dan saat aku ingin mencoba meri-
ngankannya, ada saja orang yang tak mengerti. Ah, ka-
lau saja aku punya kekuasaan yang lebih besar... Pasti
penyebab malapetaka ini sudah lama aku ringkus!”
Ia berbalik. Dan melangkah meninggalkan tempat
itu. Sengaja ia berjalan ke samping lumbung. Dan ia
bertemu dengan Rangga Prawangsa yang tampaknya
sedang berjalan menunduk tenggelam dalam pikiran da-
lam.
“Oh, Tuanku Rangga... tuanku belum memperoleh
tempat untuk istirahat?” tanya Anengah. “Maaf jika tak
ada yang memperhatikan Tuan. Aku harus mengatur
persiapan upacara nanti malam.”
“Tak apa. Sebagai seorang bekas prajurit tentu saja
aku tak kaget akan ketidaknyamanan tempatku berada.
Mhhh... ya. Namamu Anengah, bukan? Dari manakah
asalmu?”
“Mohon diampun, Tuan... menurut cerita Bibi Ma-
draka hamba ditemukannya dekat Hutan Lawor... ma-
sih berumur dua tahun, demikian kata pwangkulun.
Hamba tak berani menanyakan lebih lanjut tentang as-
al-usul hamba... tetapi Hutan Lawor adalah daerah Da-
ha, bahkan merupakan jalan besar ke Daha dari Kota-
raja. Bukan tidak mungkin hamba mempunyai ayah-ibu
di Daha. Dan rasanya hal itu tak terlalu sukar untuk
diselidiki.”
“Lalu Uttara?” Rangga Prawangsa bersandar ke din-
ding lumbung untuk menghindari terik matahari.
“Tara hampir mirip riwayatnya dengan hamba,” Ane-
ngah seakan mendengus. “Hanya menurut cerita Bibi
Madraka dia ditemukan di Kamal Pandak, di tepi Su-
ngai Bara. Riwayat hidupnya pun gelap....”
“Aku tadi menyaksikan kalian bertarung. Kepandai-
an kalian berimbang?” Rangga Prawangsa menyipitkan
matanya agar tak tampak bahwa matanya itu melirik
memperhatikan wajah Anengah. Anengah tampak se-
makin berwibawa dengan alis mata tebalnya berkerut.
Dadanya yang berhias bulu dada kini bersimbah peluh,
mengkilap dalam sinar matahari, memperlihatkan dada
yang lebar dan tangguh kokoh. Dengan tubuh tinggi be-
sar dan cara berdirinya yang tegak itu, Anengah lebih
cocok untuk menjadi seorang panglima perang, pikir
Rangga Prawangsa. Atau... memangkah anak ini ketu-
runan seorang ksatria Daha? Lebih-lebih lagi jika dikait-
kan dengan perhatian Bhre Daha pada murid muda di
Padepokan Rahtawu... apakah hubungannya lebih erat
dari yang bisa diduganya?
“Guru sangat adil dalam memberi pelajaran,” kata
Anengah. “Tak ada siswa yang memperoleh lebih, tak
ada yang kurang. Pada akhirnya tergantung dari para
siswa itu sendiri. Mungkin apa yang dipelajari Tara sa-
ma dengan apa yang aku pelajari. Pada akhirnya, Guru
sendiri yang menentukan siapa yang sudah cukup ma-
tang untuk memperoleh ilmu-ilmu yang tinggi. Sebagai
gambaran saja... Guru telah menurunkan Dharmacakra
padaku. Sedang pada Tara belum.”
Kembali Rangga Prawangsa memperhatikan Ane-
ngah. Terdengar nada sedikit menyombong pada anak
muda itu. Atau, memang demikianlah sifatnya?
“Oh, ya. Bagaimana dengan siswa-siswa putri?” ta-
nya Rangga Prawangsa.
“Mereka sesungguhnya hanyalah separuh siswa. Me-
reka asuhan Bibi Madraka. Tetapi Bapa Guru kami de-
ngan murah hati menganugerahi mereka dengan ilmu-
ilmu Padepokan Rahtawu. Sebulan sekali mereka diba-
wa kemari oleh Bibi Madraka. Ini sesungguhnya kebia-
saan Bapa Guru dan Bibi Guru dari dulu. Ilmu pwang-
kulun berasal dari satu sumber yang juga kakak-adik
pria dan wanita. Maka pwangkulun berdua ingin meles-
tarikan kebiasaan itu.”
“Berapa jumlah mereka?”
“Mereka sesungguhnya...” Tiba-tiba Anengah berhen-
ti berbicara. Beberapa orang wanita muncul membawa
tempat padi. Di antara mereka tampak Tari yang ma-
tanya bengkak karena menangis. Wanita-wanita lain
adalah anggota Padepokan Rahtawu sendiri. Mereka le-
wat di depan Rangga Prawangsa dan Anengah, diam-
diam membungkuk memberi hormat. Mereka kemudian
menaiki tangga ke pintu lumbung
“Katamu tadi...” Rangga Prawangsa mengingatkan
Anengah saat para wanita itu sudah masuk ke dalam
lumbung.
“Mmmh, maaf, Tuanku Rangga... tidak enak rasanya
kita berbicara di sini sementara semua orang bekerja.
Hamba akan pergi ke depan dulu...,” Anengah mengi-
syaratkan sembah dan bergegas pergi.
Rangga Prawangsa termenung-menung sejenak,
memperhatikan kepergian Anengah. Kemudian ia mem-
perhatikan pintu lumbung yang tinggi itu. Dan akhirnya
ia menggelengkan kepala, berjalan menunduk ke ba-
ngunan yang memiliki Ruang Sunyi itu.
Lama ia berdiri di depan bangunan tersebut. Sampai
kemudian terdengar langkah kaki mendatangi. Ternyata
Tari. Gadis itu terlihat terkejut melihat Rangga Pra-
wangsa ada di situ. Ia bergegas menunduk menyembah
dan akan berlalu. Tetapi Rangga Prawangsa mencegah-
nya.
“Tunggu, bukankah kau yang bernama Tari?” sapa
Rangga Prawangsa.
“Benar, Tuanku Rangga... namun mohon maaf,
hamba tak punya waktu untuk berbicara. Mohon beribu
maaf, Tuanku, hamba berlalu....” Dan Tari bergegas
pergi.
Rangga Prawangsa ternganga. Gadis itu tidak secan-
tik putri-putri Daha, memang, tetapi ada sesuatu yang
sangat menarik padanya. Pandang matanya yang tajam,
sikap wajahnya yang anggun. Bahkan pada saat mem-
bungkuk memberi hormat terasa bahwa hal itu seakan
dipaksakan. Juga jalannya... seakan tak acuh pada sia-
pa pun.
Dia akan menanyakannya pada Resi Rhagani nanti.
Malamnya, upacara untuk mendoakan para sukma
yang telah meninggalkan badan kasar mereka berjalan
khidmat. Dan mengharukan. Di antara doa yang diba-
cakan dan dinyanyikan bersama, teralun pula lengking-
an tangis dan alunan ratapan. Ditambah dengan hawa
yang terasa luar biasa dinginnya, dan cuaca yang gelap
pekat, api unggun di halaman depan padepokan itu se-
rasa tertelan cerianya. Upacara berlangsung terus hing-
ga menjelang fajar, dan kemudian satu per satu jasad
mereka yang gugur diangkat ke luar untuk disemayam-
kan di halaman candi di luar lingkungan padepokan
guna menantikan upacara selanjutnya. Di pendapa de-
pan, Resi Rhagani berdiri sunyi memperhatikan para
warga padepokan hampir tanpa suara mengalir ke luar
padepokan dengan membawa berbagai peralatan upaca-
ra. Tidak seperti biasanya pada upacara keagamaan,
maka beberapa warga padepokan telah mempersenjatai
diri dan mengikuti rombongan yang keluar itu sebagai
pengawal. Di atas pagar padepokan pun terlihat bebera-
pa orang berjaga-jaga.
Akhirnya halaman depan itu sunyi. Dan gelap. Ha-
nya beberapa obor yang masih menyala. Itu pun di tem-
pat-tempat yang berjauhan. Ini membuat orang-orang
yang berada di pendapa itu bagaikan sosok-sosok
bayangan seram.
Mereka adalah Resi Rhagani, Dwaralika, Pawungsari,
Kanigara, Sodrakara, Tari, Anengah, dan Rangga Pra-
wangsa.
“Mari ke ruang baca... ada yang ingin aku bicarakan
dengan kalian,” kata Resi Rhagani hampir berbisik. Dan
ia mendahului pergi. Langkahnya gontai, lemah. Dwa-
ralika dan Pawungsari terlihat selalu bersiap di kiri-
kanan junjungan mereka ini.
Ruang baca itu luas. Beberapa bumbung teronggok
di sudut, berisi gulungan-gulungan lontar tentang ber-
bagai hal. Ada alas lantai yang empuk di situ. Dan lam-
pu buah jarak yang tertancap di beberapa tempat di
dinding membuat tempat itu terang-benderang. Resi
Rhagani memberi isyarat agar mereka duduk melingkar.
Tak ada yang memiliki kedudukan lebih tinggi.
Beberapa saat sunyi. Dari luar sayup-sayup terde-
ngar nyanyian doa pelepas mereka yang pergi.
“Kita semua berkumpul di sini. Kuharap kita telah
mewakili semua warga padepokan. Dan seorang orang
luar,” Resi Rhagani berbicara lirih. Matanya menyapu
semua yang ada di situ. “Dwaralika dan Pawungsari me-
wakili kepercayaan warga padepokan yang bukan siswa.
Kanigara dan Anengah mewakili para siswa. Sodrakara
dan Tari mewakili siswa-siswa putri. Tuan Rangga me-
wakili kepentingan Wilwatikta. Dan aku ingin menjadi
wakil dari kehendak Hyang Agung. Tapi semuanya pu-
nya hak sama. Semua punya hak mengatakan penda-
pat. Dan apa pun keputusan yang kita ambil, akan kita
ambil berdasarkan kesepakatan kata.”
Hening lagi.
“Aku telah berbicara panjang-lebar dengan Tara. Se-
mestinya ia diwakili di sini. Tapi ia telah melimpahkan
kepercayaannya padaku,” kata Sang Resi lagi. “Kuharap
semuanya mengerti hal ini.”
Yang terdengar hanyalah gemerisik lampu di dinding
serta alunan lagu sedih dari luar.
“Singkatnya... menurut pengakuan Tara... ketika ia
dan Suranggana tiba di tempat ini, didapatinya mayat-
mayat bergelimpangan. Tak ada bekas luka ataupun se-
suatu yang aneh. Pada wajah mereka yang meninggal
hanya terlihat air muka ketakutan yang amat sangat.
Ketika aku selidiki, ini adalah akibat Upas Gemet ting-
kat tujuh. Sangat berbeda dengan Upas Gemet yang me-
ngenai Dinda Madraka....” Sang Resi berhenti sebentar.
Bibi Madraka telah tiba siang tadi dan kini dirawat di
asrama wanita. “Upas Gemet tingkat tujuh ini sanggup
membunuh dengan hanya menempel pada kulit kor-
bannya. Menurut Tara tidak ada pertanda perkelahian
sebelumnya. Jadi, kemungkinan si pembunuh dapat
mendekat tanpa dicurigai atau dapat bergerak sangat
cepat. Melihat wajah si pembunuh serta kesaktiannya
kemudian, Tara berpendapat kedua hal itulah yang ter-
jadi.”
Dalam kesunyian itu keras sekali terdengar Tari
menghela napas panjang. Ia sendiri kaget karena itu.
“Saat itu, Suranggana dan Tara kemudian memutus-
kan untuk langsung menyelidiki. Tara dari bagian bela-
kang padepokan, Suranggana dari bagian depan. Tara
menemukan pembunuh itu di puncak Menara Pemu-
jaan. Tara bertarung melawan orang itu. Orang itu sa-
ngat cantik. Dan sangat sakti. Suatu saat ia sudah
hampir bisa membunuh Tara. Tapi pada saat itu Su-
ranggana datang dari belakangnya. Dan melepaskan pe-
luru andalannya. Orang itu roboh.”
Resi Rhagani memandang ke arah langit hitam yang
tampak dari celah-celah dinding.
“Di sinilah terjadi kesalahpahaman yang berbuntut
sampai sekarang. Tara memang punya kesempatan un-
tuk membuat orang itu cedera. Paling tidak melumpuh-
kannya. Tara tidak melakukannya. Katanya ia tak me-
ngerti mengapa itu yang terjadi. Katanya, mungkin juga
ia terpengaruh oleh kecantikan orang itu. Atau, mung-
kin karena ia merasa sesungguhnya ia tadi diberi ke-
longgaran untuk bisa hidup sampai saat itu. Yang jelas,
ia juga punya pikiran untuk menangkap orang itu hi-
dup-hidup. Itu semua terjadi dalam waktu sesaat. Ke-
mudian muncul Suranggana. Ia langsung akan mem-
bunuh atau paling tidak mencederai orang itu dengan
kerisnya. Tara mengaku mencegah Suranggana. Dan ti-
ba-tiba orang itu menyerang Suranggana. Hingga Su-
ranggana cedera berat. Dan tewas. Nah, kita berkumpul
di sini untuk menentukan, apakah Tara bersalah. Dan
apa hukumannya. Coba Tuan Rangga, sebagai orang
luar, menyatakan pendapatnya.”
Semua berpaling pada Rangga Prawangsa. Rangga ini
salah tingkah juga sedikit. Ia mendeham dan memelintir
kumisnya. Namun akhirnya ia berbicara.
“Bagiku... kesalahan Tara hanya satu. Ketika ia ke-
mudian sadar, mestinya ia langsung mencari jejak
orang itu. Atau cepat lapor pada Sang Resi,” Rangga
Prawangsa berbicara pada semuanya.
“Ia mencoba menolong Suranggana. Tapi begitu sa-
dar, Suranggana menyerangnya. Dan menuduhnya ber-
komplot dengan pembunuh itu. Tara terguncang. Ka-
rena itulah tindakannya bagai orang mabuk. Dan ia ha-
rus mempertahankan diri dari serangan Suranggana,”
jawab Resi Rhagani.
“Jika begitu... kekeliruan Tara hanyalah usianya
yang masih muda. Dan pengalamannya yang masih ku-
rang. Untuk itu ia tak bisa disalahkan. Kalau aku di-
tanya, semestinya ia dibebaskan saja. Kalaupun dihu-
kum, maka ia harus mencari si pembunuh. Hanya dia
yang pernah melihat mukanya,” kata Rangga Prawang-
sa, matanya tajam melihat berkeliling. “Itu pendapatku.
Lebih dari itu, aku ingin menyatakan suatu hal. Racun
Upas Gemet itu. Siapa yang pernah memilikinya?”
“Itu yang membuatku heran dari tadi,” Resi Rhagani
berkata perlahan. “Tuan datang dari Daha membawa
berita tentang kemungkinan keturunan Wirabhumi
membalas dendam. Yang aneh adalah... keluarga Wira-
bhumi tak pernah menggunakan racun. Justru salah
seorang lawan keluarga Wirabhumi-lah yang terkenal
sebagai pemakai racun. Juru Pajarakan menggunakan-
nya. Juga semua keluarga beliau. Tetapi keluarga ini
sangat memusuhi keluarga Wirabhumi. Kedua puteri-
nya...” Resi Rhagani tak melanjutkan perkataannya.
“Kau bagaimana, Dwaralika?”
“Ampun, Panembahan. Hamba belum bisa menyerap
pelajaran yang Paduka berikan,” Dwaralika menyem-
bah. “Hamba seorang prajurit. Pemikiran hamba pemi-
kiran prajurit. Tara melakukan kesalahan yang sangat
berat, yaitu memberi kesempatan pada musuh untuk
menguasainya. Jika musuh tidak memberi ampun pa-
danya, pasti ia sudah dibunuh. Jadi... hamba kira hu-
kuman itulah yang patut untuknya.” Semua orang me-
mandang terkejut pada Dwaralika. Terutama Anengah.
Ia sama sekali tak menyangka sikap Dwaralika akan
begitu. Terutama jika mengingat pembicaraannya tadi
siang. “Itu pun... jika pertemuan ini menyetujuinya.”
“Mohon ampun, Panembahan... sebagai seorang pra-
jurit juga, hamba sangat setuju pada pertimbangan dan
keputusan Dwaralika,” sembah Pawungsari.
“Hm...” Resi Rhagani mengangguk-angguk. “Sodraka-
ra?”
“Si pembunuh sangat tak kenal ampun. Dan agak-
nya ada hubungan dengan si Buruk Muka yang telah
membuat cedera Guru junjungan hamba,” sembah So-
drakara. “Tara telah memberi kesempatan pada makh-
luk itu untuk tetap bebas merajalela. Ia harus dihukum.
Apa hukumannya, terserah,” sembah Sodrakara.
“Yang hamba takutkan adalah semua tindakannya
menunjukkan Tara tidak pantas merasuk ilmu-ilmu
tinggi yang diajarkan Guru,” sembah Anengah tidak
menunggu untuk ditanya. “Jika hatinya selemah itu,
untuk apa ia mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Dan jika
hatinya tidak lemah, kemungkinan ia dikuasai oleh ha-
srat buruk setelah melihat wajah cantik. Ini berarti ia
tidak punya pribadi yang baik. Dan ini akan sangat ber-
bahaya nanti jika ia berhasil menguasai ilmu Guru.
Pendapat hamba, binasakan dia sebelum jadi burung
garuda!”
Hening. Semua menunggu Kanigara dan Tari.
“Mohon diampun, Bapa Guru,” akhirnya Kanigara
berbicara. “Hamba sudah mengenal Tara dari kecil. Ia
punya banyak kelemahan. Yang tampak jelas ialah bah-
wa ia adil, baik hati, dan tidak tegaan. Hamba yakin
Tara tidak punya maksud apa-apa saat ia meloloskan
pembunuh itu. Mungkin ia merasa tidak adil untuk me-
nyerang orang yang tak sadar. Mungkin ia hanya ingin
membalas budi. Mungkin... ia memang tidak tega. Se-
mua itu toh sifat yang baik. Jadi kurasa... Tara jangan
dihukum berat. Berilah dia wejangan. Dan pengertian
tentang pahitnya hidup di dunia ini.”
“Hm... ya...,” Sang Resi mengangguk-angguk. Kini
beliau memandang Tari. “Dan kau, Tari?”
“Kakang... Tara... masih sangat muda... sarika(beliau) be-
lum tahu... lebih mendalam... tentang hubungan antar
manusia di dunia ini.... Dia masih... boleh dikata anak-
anak! Tak pantas ia diberi tanggung jawab.... Harap...
harap ia diampuni!” Tiba-tiba Tari menekap mukanya
dan berlari keluar dari ruang baca itu.
“Tari!” panggil Resi Rhagani. Tetapi Tari telah hilang
di kegelapan malam.
2. PENGEMBARA
TARI berdiri sendiri. Ini puncak Batu Hitam, salah satu
puncak bukit tertinggi di Rahtawu. Ia tak bisa melihat
apa-apa. Sekelilingnya gelap-pekat. Langit pun gelap.
Mungkin awan di atas sana. Atau mendung. Bintang-
bintang pun tak terlihat.
Sering Tara berada di sini. Pemuda itu memang yang
menunjukkannya tempat ini. Memang mereka tidak
berdua—tiba-tiba pipi Tari terasa panas. Para murid
Madraka tak boleh berdua saja dengan murid pria Resi
Rhagani. Tapi... walaupun mereka bertiga atau berem-
pat, sering Tari merasa bahwa Tara hanya memperhati-
kan dirinya. Memang Tara mungkin bercanda dengan
Lati. Atau dengan Gendar. Tapi Tari seakan tahu bahwa
sesungguhnya candaan Tara itu ditujukan padanya.
Sebulan lalu Tara mengajarkan tata gerak Birawa-
dana Pria. Dan itu memang ditugaskan oleh Sang Resi.
Tari merasa jika Tara yang mengajar, maka seakan ti-
dak belajar, segalanya bisa muncul sendiri. Lain dengan
jika Anengah yang mengajar. Segalanya terasa kaku, le-
bih kaku lagi karena semua seakan melihat bahwa Ane-
ngah hanya memperhatikan dirinya. Saat itu Tara juga
mengajarkan sedikit ilmu bintang. Ditunjukkannya bin-
tang Jaka Belek. Bintang Weluku. Bintang Gubuk Pen-
ceng. Dan ah... berbagai ilmu pertanian yang berkenaan
dengan bintang. Lancar sekali Tara berbicara. Begitu
enak didengar hingga Tari tak bisa menangkapnya. Ia
lebih kesengsem mendengarkan suara Tara yang bagai-
kan berdendang.
Saat itu, tiba-tiba saja Tara terdiam. Memang ada
sekilas garis terang di langit. Meluncur dari selatan ke
arah barat laut. Dan ketika ditanya kenapa ia terdiam,
maka Tara hanya berkata bahwa akan terjadi pemba-
han besar-besaran dalam kehidupan mereka.
Inikah pembahan yang dimaksudkannya itu? Bahwa
ia akhirnya... harus mati dihukum?
Angin dingin meniup pipi Tari. Beberapa lembar ram-
butnya membelai mukanya. Tari hampir terisak. Tapi,
kenapa? Ia baru kenal Tara sejak... mungkin tiga tahun
yang lalu. Itu pun hanya sebulan sekali. Mengapa ia be-
gitu sedih?
Terdengar langkah kaki di belakangnya. Tari heran.
Tapi ia langsung bersimpuh di batu hitam.
“Bibi Guru... Padukakah itu?” tanyanya. Bibi Madra-
ka memang selalu dipanggil “Bibi” oleh murid-murid-
nya, sebab secara resmi mereka adalah murid Resi Rha-
gani—walaupun sesungguhnya lebih dari sembilan per-
sepuluh pelajaran yang mereka dapat diperoleh dari Bi-
bi Madraka.
“Ya, Tari...,” suara itu lembut. Dengan getaran le-
mah. Tari terkejut. Berpaling.
Bibi Madraka bagaikan bayang-bayang putih. Bagai-
kan hanya jubah putih melambai lemah. Bagaikan bu-
kan manusia. Apalagi tangan kanannya kosong.
“Bibi Guru... mengapa... Bibi kemari....” Ketakutan
Tari mendekat bersimpuh di kaki gurunya.
“Karena kudengar kau menderita kesedihan yang
amat sangat, Tari....” Dengan tangan kirinya Bibi Ma-
draka membelai kepala Tari.
“Tapi... Bibi masih luka parah....”
“Ah, apakah kau meremehkan daya penyembuhan
Bapa Gurumu, Tari? Aku sudah kuat untuk berjalan
kemari.”
“Tapi keadaan sangat berbahaya.”
“Kalaupun aku tewas, aku rela. Kematianku mung-
kin adalah kehendak Dewata... untuk apa kuberatkan?
Yang jadi pikiranku adalah kau. Kau sesungguhnya
punya masa depan yang bisa kuandalkan. Pribadimu
baik, kecerdasanmu baik. Aku tak ingin kau merusak
dirimu, merusak masa depanmu hanya oleh persoalan
kecil ini.”
“Kakang Tara adalah sahabat baikku, Bibi... ini bu-
kan persoalan kecil....”
“Kaulihat tangan kananku, Tari?”
“Ya, Bibi....”
“Kau tabu kenapa Bapa Gurumu memotong tangan-
ku itu?”
“Ya, Guru. Agar racun tidak menguasai bagian tubuh
yang lain.”
“Apakah aku sayang pada tanganku itu?”
“Tentu, Bibi.”
“Dan Bapa Gurumu tahu hal itu?”
“Tentu, Bibi.”
“Toh ia masih memotongnya juga. Demikian juga ka-
kangmu Tara. Kurasa... semua orang menyukai anak
itu. Bapa Gurumu juga sayang padanya. Tapi ada suatu
hal yang tak bisa diperbaiki dalam sikap seseorang. Ada
kelemahan Tara yang akan berbahaya jika dibiarkan te-
rus berkembang nanti. Setidak-tidaknya, begitu yang
kaudengar dalam pembicaraan tadi. Kau tentu punya
pendapat lain. Tapi kita sudah terbiasa mengikuti apa
yang disepakati oleh pertemuan....”
“Bibi setuju Kakang Tara dihukum mati?”
Bibi Madraka menghela napas. “Sesungguhnya, ini
adalah urusan di dalam rumah Kakang Resi. Kau dan
aku, hanyalah tamu. Seperti juga orang yang dari Daha
itu. Kalau kau, Sodrakara, orang Daha itu keluar, bera-
pa orang di pertemuan itu yang membela Tara? Sesung-
guhnya mereka dapat mencapai sepakat bulat, Tari....”
“Tapi, Bibi...”
“Sudahlah, Tari, sesungguhnya aku datang kemari
untuk suatu maksud lain. Aku meninggalkan padepo-
kan bukannya tidak diketahui oleh Bapa Gurumu,
ataupun bibimu Sodrakara. Ada sesuatu yang ingin ku-
sampaikan. Tindakan Kakang Resi memang cukup te-
pat. Nyawaku akan tertolong. Tapi betapapun bagian
tubuhku yang lain akan terkena. Terutama otakku. Aku
tak bisa merasa pasti bahwa apa yang aku miliki bisa
kusampaikan padamu... jika aku harus menunggu. Ka-
renanya, bersiaplah untuk menerima wejanganku ten-
tang ilmu Coban Saleksa.”
“Ilmu Coban Saleksa?”
“Ya. Ini bukan ilmu kewiraan. Ini bukan ilmu kesak-
tian. Tetapi lebih mirip sebagai ilmu untuk menjaga diri.
Menurut cerita guruku yang begitu berbudi, Danyang
Sinom, beliau pernah terkena suatu penyakit yang amat
berat. Untuk pengobatannya beliau harus memusatkan
perhatiannya. Tetapi selalu tak berhasil. Kemudian ka-
kak beliau, Panembahan Megatruh, menciptakan suatu
ilmu guna pemusatan perhatian itu. Karena beliau
menciptakannya di antara air terjun Seribu, maka ilmu
itu dinamakannya Coban Saleksa. Ilmu itu akan mem-
buka aliran-aliran hidup dalam tubuhmu. Membuka
otakmu. Membuat kau mudah mencapai ilmu-ilmu
yang kelak kemudian kaupelajari. Di samping itu, kare-
na lancarnya peredaran kehidupan dalam tubuhmu,
kau akan punya suatu daya tolak yang luar biasa. Te-
rus terang, karena ilmu itulah aku kini masih hidup.
Kakang Resi dalam gugupnya mungkin lupa akan ilmu
itu. Dengan diputuskannya salah satu aliran kehidu-
panku, maka ilmu itu sudah pecah. Dan... aku akan
terpaksa meninggalkanmu.”
“Bibi!” Tari sangat terkejut, merangkul kedua kaki
gurunya.
“Kau bukan anak kecil lagi, Tari,” suara Bibi Ma-
draka terdengar tegas. “Mundur dan lakukan langkah
penyucian yang tujuh!”
“Bibi...” Tiba-tiba air mata membanjir di pipi Tari. Ia
tidak bergerak dari tempatnya.
“Ya, Tari....”
“Bukan hamba ingin melawan kehendak Guru... tapi
hamba merasa... begitu sedikit waktu hamba untuk
berbakti kepada Guru, untuk berterima kasih pada
Guru. Kalau itu pun tak bisa hamba lakukan, bagaima-
na jika hamba berterima kasih pada orang tua hamba?
Tapi... hamba pun tak tahu siapa dan di mana mere-
ka....”
Bibi Madraka merenung sejenak. Memang semua
murid yang diambilnya kebanyakan tak mengenal orang
tua mereka. Selalu diambilnya pada waktu mereka sa-
ngat kecil.
“Bahkan Bapa Gurumu tidak tahu siapa engkau, Ta-
ri. Jika kau memang bersikeras ingin mengetahui asal-
usulmu, pergilah ke Gunung Lawu dan temui eyang-
eyang gurumu... Panembahan Megatruh atau Danyang
Sinom. Jika kau berkata bahwa kau telah memperoleh
izin dariku, maka mereka akan memberitahukan ten-
tang ayah dan ibumu.”
Kini Tari termenung. Kemudian ia berdatang sembah
dan mundur, menggumamkan mantra penyucian diri.
Tak berapa lama guru dan murid itu sudah melupa-
kan keadaan di sekeliling mereka. Dengan sabar dan je-
las Bibi Madraka menguraikan apa saja tentang Coban
Saleksa. Bacaan ilmu itu sendiri berbentuk kidung
hingga agak mudah dihapalkan oleh Tari. Keterangan
tentang kata-kata yang ada di dalamnya memang agak
lama baru merasuk. Kemudian disusul oleh berbagai la-
tihan pernapasan dan penerapan laku.
Dan akhirnya, ketika di ufuk timur fajar mulai me-
nyingsing, terdengar Bibi Madraka berkata lemah, “Se-
mua sudah kaumiliki Tari, kau tinggal melatihnya saja.
Jika itu sudah kaukuasai, maka... tanpa petunjukku
pun kau akan bisa menguasai banyak ilmu. Sekarang,
bersemadilah untuk memulihkan kekuatanmu.”
“Baik, Bibi.” Tari menutup mata, mengatur letak ta-
ngan dan kakinya. Kemudian ia mematikan diri terha-
dap apa saja yang terjadi di sekelilingnya.
Sinar matahari mulai menyentuh punggungnya saat
Tari memutuskan untuk membuka semadinya. Dihi-
rupnya udara sejuk dalam-dalam. Seluruh tubuhnya te-
rasa segar. Penuh semangat. Dan hati murungnya sea-
kan lenyap. Dengan gembira ia langsung meloncat ber-
diri dan berkata, “Bibi... begitu besar kebaikan hati Pa-
duka...” Ia tertegun.
Di depannya bukan Bibi Madraka. Di depannya ber-
diri Anengah. Pemuda itu tampak gagah dan seram.
Badannya berkeringat walaupun hari pagi dan hawa be-
gitu dingin. Bertelanjang dada dengan sinar matahari
menonjolkan keperkasaannya. Dan dada itu kembang-
kempis menahan suatu perasaan hati. Lebih aneh, di
tangannya terpegang pedang telanjang.
“Kakang Anengah!” seru Tari kaget.
“Di mana dia?” tukas Anengah tegas.
“Dia? Jangan kurang ajar, Kakang Anengah, kenapa
begitu kasar dengan Bibi Guru?”
“Bibi Guru siapa? Oh, ya, bahkan Bibi Guru juga tak
ada. Di mana dia?”
“Lho. Dia siapa? Kau maksud pwangkulun guru ki-
ta?” Tari menjelaskan.
“Jangan bergurau. Aku mencari dia. Si Tara!” bentak
Anengah.
“Lhoh!” Tari makin terkejut. Mulutnya ternganga le-
bar. “Kaumaksud... Kakang Tara?”
“Goblok banget kau ini. Ya! Tara! Jangan pura-pura
tak mengerti!”
“Aku memang tak mengerti! Aku berada di sini se-
malaman dengan Bibi Madraka!”
“Lalu di mana pwangkulun?”
“Aku tak tahu. Aku baru saja semadi....”
“Huh. Jawaban ngawur... sudah. Sekarang, di mana
Tara?”
“Aku tak tahu!” Tari menegaskan. “Apakah... apakah
dia melarikan diri?”
“Jangan pura-pura tak tahu. Kau pasti yang meno-
longnya. Dan pasti kauajak kemari. Ada jejaknya me-
nuju tempat ini!”
“Tak mungkin. Kalau memang begitu, pasti paling ti-
dak ia akan membangunkan aku.”
“Mungkin juga sebetulnya kau tak bersemadi. Hanya
pura-pura saja. Sesungguhnya pasti kausembunyikan.
Ada dua jejak menuju kemari. Jejakmu. Dan jejak Tara.
Dengar, Tari. Jangan bersifat kekanak-kanakan. Semua
menjatuhkan hukuman mati pada Tara. Kalaupun kau
menolongnya sekarang, suatu saat hukuman itu pasti
jatuh ke kepalanya, tahu! Jadi katakan. Di mana kau-
sembunyikan dia!”
“Aku tak tahu!”
“Aku tahu kau memang murid terkasih Sang Resi.
Tapi kau telah menggagalkan kehendak beliau! Jadi,
jangan membuat beliau marah. Mana dia!”
Sikap Anengah membuat Tari meluap marah. Tak te-
rasa ia bertolak pinggang. Suaranya sedikit gemetar
saat berkata, “Kakang Anengah. Kalau kau menuduh
aku berdusta, lebih baik kita tak usah berbicara lagi.”
Dengan geram Tari berpaling dan melangkah pergi.
Sekilas saja Anengah telah berada kembali di depannya.
“Aku tidak menuduhmu berdusta. Aku hanya ber-
tanya di mana Tara!”
“Dan aku bilang tidak tahu! Aku semadi semalaman
di sini. Tanyakan pada Bibi Guru kalau tak percaya.”
“Enak saja. Bibi Guru juga tak ada.”
“Kalau begitu minggir saja, aku benar-benar tak ta-
hu.”
“Paling tidak kau harus menghadap Bapa Guru lebih
dahulu.”
“Kalau saja tidak kausuruh, sesungguhnya aku me-
mang akan menghadap pwangkulun. Sekarang... jika
aku ke sana, kaukira aku takut padamu!” Tari mencibir.
“Dasar kau masih anak-anak,” dengus Anengah. “Ini
bukan soal takut atau tidak. Ini soal tanggung jawab!”
Lama mata bulat Tari menatap Anengah. Kemudian
ia pun mendengus. “Benar kata Lati.”
“Apa?” Anengah heran.
“Sikapmu berubah sejak kedatangan Rangga Pra-
wangsa.”
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu Bhre Daha mengirim Rangga Prawangsa
kemari antara lain untuk menyelidiki keadaan siswa
termuda Bapa Guru. Tuan Rangga tak mengetahui na-
ma siswa yang dimaksud oleh Bhre Daha. Kini kau ber-
sikap penuh kematangan dan penuh tanggung jawab.
Untuk menarik perhatian sarika!”
“Gila!” desis Anengah. Marahnya meledak. Tapi bi-
birnya terlihat gemetar menahan suatu perasaan yang
bukan kemarahan. Kata-kata Tari telak mengenai sasa-
ran. Dan ketajaman pandangan serta ketajaman lidah
gadis itu betul-betul terhunjam di hatinya. Dengan ge-
ram dia berkata, “Tari! Dalam urutan, aku adalah ka-
kakmu. Aku berhak menghukummu sesuka hatiku.
Kau betul-betul bandel. Sekarang kuperintahkan pada-
mu, katakan di mana Tara atau kuseret kau ke hada-
pan Bapa Guru!”
“Kaukira aku takut?” tantang Tari nekat. Ia marah
pada sikap Anengah. Ia marah karena Anengah tidak
membela Tara. Ia marah karena ia mengira Anengah
bersikap tidak jujur dalam hubungan dengan utusan
Bhre Daha. Ia ingin melampiaskan kebuntuan hatinya
pada sesuatu. Dan sesuatu itu saat ini adalah Anengah.
Ia nekat.
“Gila!” desis Anengah. Gemetar tangannya menahan
diri. Sesaat seolah-olah akan menerjang Tari. Tapi ke-
mudian ia seakan menelan kemarahannya. “Baiklah.
Aku tak ingin bertengkar dengan anak kecil. Sesukamu-
lah. Tapi aku akan mencari Tara. Pasti kutemukan!”
Beberapa saat mata Anengah bagaikan membakar
Tari. Kemudian ia berpaling dan berlari ke arah timur.
Lama Tari termenung. Ada yang rasanya kurang pas.
Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dirinya.
Pertama, betulkah Tara hilang? Atau melarikan diri?
Atau... pokoknya lolos dari hukuman? Melarikan diri
rasanya tidak mungkin. Ruang Sunyi sulit untuk dite-
robos, apalagi kini dijaga ketat. Lagi pula, rasanya Tara
tak akan sepengecut itu... melarikan diri dari tanggung
jawab. Lalu ke mana? Kedua... di mana Bibi Madraka?
Mustahil Anengah tak menemukannya? Ketiga... bagai-
mana pribadi Anengah sesungguhnya? Ia merasa tadi
saat ia menuduh, pemuda itu tampak terpukul. Tetapi
ternyata ia dapat menguasai diri. Mungkinkah ia tidak
berhati serendah itu? Keempat... ia sesungguhnya se-
dang bergembira karena telah memiliki ilmu Coban Sa-
leksa. Memang ia masih banyak harus berlatih. Yang je-
las, ini suatu langkah yang hebat!
Angin bertiup keras. Rambutnya yang terurai agak
lengket oleh keringat. Ia berpaling ke arah barat. Agak
jauh di bawahnya, terlihat menara pemujaan. Dan Pa-
depokan Rahtawu.
Tempat itu tak akan sama lagi. Apa pun yang terjadi
nanti, semua kenangan manis tentang tempat itu akan
terhapus. Mungkin ia akan membenci tempat itu.
Apakah lebih baik jika... jika ia tidak mengunjungi
tempat itu lagi? Ia bisa memohon pada Bibi Madraka
agar mulai saat itu ia tak usah pergi ke Rahtawu lagi.
Lebih baik mengikuti Bibi Madraka mengembara saja.
Tiba-tiba ia terkejut. Ada sesuatu yang aneh pada
padepokan di bawahnya itu. Tak ada asap mengepul. Ini
aneh. Isi padepokan itu masih cukup besar. Dan me-
reka pasti menghendaki makan. Tapi dapur sama sekali
tak berasap. Mungkinkah karena sedang berkabung?
Yang aneh lagi... ya... Tari mencoba mempertajam pan-
dangan matanya. Tapi benar. Tak ada satu pun orang
tampak di halaman padepokan. Tak ada satu pun! Hei.
Cepat Tari berlari turun. Ada jalan setapak memang,
tapi jalan itu harus melewati berbagai semak-semak
dan batu-batu besar. Dengan gesit Tari berlompatan da-
ri batu ke batu atau melesat menerobos semak-semak.
Dadanya semakin berdebar sewaktu ia semakin de-
kat. Padepokan itu sangat sunyi.
Di depan gapura ia ternganga. Gapura itu pun ter-
nganga.
Di halaman hanya ada beberapa belas ekor ayam.
Dan di lapangan ada beberapa ekor kambing. Tak ada
seorang manusia pun.
“Hei...” Tari melompat masuk. Gugup ia berlari me-
nyeberangi halaman. Tak ada orang. Ia masuk ke pe-
mukiman para wanita. Tak ada orang. Dapur pun sepi.
Tak ada orang!
Tari berlari sampai ke halaman belakang. Ia masuk
ke biliknya. Bilik-bilik orang lain kosong. Barang-barang
yang ada hanyalah barang yang tak terlalu diperlukan.
Terdengar suara seseorang bergerak di luar bilik. Tari
cepat melompat ke luar lewat jendela.
Seseorang memang berdiri di halaman samping.
Anengah.
“Kau?” Tari setengah bertanya setengah memanggil.
“Mereka sudah pergi. Kalau kau tadi cepat-cepat pu-
lang mungkin kau masih bertemu dengan Bapa Guru,”
kata Anengah.
“Mereka... pergi ke mana?” Tari makin heran.
Anengah duduk di pagar dalam, mempermainkan
pedangnya.
“Tadi malam, Bapa Guru memutuskan untuk me-
ninggalkan padepokan ini...,” kata Anengah perlahan.
“Rombongan demi rombongan berangkat. Tujuannya
berbeda-beda. Hanya kepala rombongan kecil saja yang
tahu mereka akan ke mana. Rombongan Bapa Guru te-
rakhir berangkat. Pagi tadi, sesungguhnya sebelum ka-
mi berangkat, Tara harus dihukum mati. Ternyata ia hi-
lang.” Anengah terdiam sesaat. “Juga ketahuan bahwa
kau tidak ada. Juga Bibi Guru. Aku ditugaskan menca-
rimu. Yang lain langsung berangkat sambil mencari
Tara.”
“Tadi kau menyuruhku menemui Bapa Guru!” tuduh
Tari.
“Saat itu... mungkin kau masih bisa mengejar Bapa
Guru. Kau tak bertanya di mana pwangkulun. Kau lang-
sung menuduhku yang bukan-bukan. Terus terang, se-
sungguhnya ingin kau kutinggalkan saja. Hanya... aku
tak tega.”
“Ke mana Bapa Guru?”
“Tak ada yang tahu. Bapa Guru tak ingin jatuh kor-
ban lebih banyak lagi.”
“Lati? Rati?”
“Aku tak tahu. Tak akan ada yang tahu. Kecuali rom-
bongan itu sendiri. Dan mungkin Bapa Guru.”
“Kakang sendiri... mau ke mana?” Tari bingung.
Anengah lama tak menjawab. Ia turun dari pagar.
Berjalan menunduk di antara bangunan-bangunan
yang kosong. Sebuah batu ditendangnya. Batu itu ter-
lontar dan pecah berkeping-keping. Ia berpaling. Berja-
lan mendekati Tari.
“Aku tak tahu. Perintah Bapa Guru agak membi-
ngungkan. Aku harus mengikutimu. Sungguh. Tak pe-
duli ke mana pun kau pergi. Tugas utamaku mencari
Tara. Dan menghukumnya. Tugas kedua, mengikuti.
Hanya itu.”
“Aneh!”
“Memang.”
Keduanya termenung.
“Aku akan pulang ke...” Tari ragu-ragu.
“Itu adalah salah satu tempat yang dilarang dikun-
jungi oleh Bapa Guru. Pusat perguruanmu mungkin
adalah sasaran penyebar maut itu...,” tukas Anengah.
“Mungkin Bibi Madraka pulang ke sana.”
“Bibi Madraka entah pergi ke mana. Mungkin telah
diberi tahu Bapa Guru terlebih dahulu.”
“Aku akan pulang. Aku tak peduli. Mungkin Bibi Ma-
draka juga pulang ke Walirang. Dan mungkin sarika*
memerlukan bantuanku,” Tari mengambil keputusan.
“Bapa Guru berkata tempat itu harus dihindari,” ka-
ta Anengah.
“Aku lebih khawatir akan keadaan Bibi Madraka.”
“Kau berani menyalahi kata-kata Bapa Guru?”
Tari menunduk. Kemudian mengangguk. “Tak apa.
Aku tak punya maksud durhaka. Aku hanya ingin me-
nemui Bibi Madraka. Bapa Guru akan mengerti.”
Tari bergegas ke asrama tempat ia tinggal. Diambil-
nya beberapa lembar kainnya, beberapa peralatan un-
tuk bepergian jauh yang biasanya dibawa oleh teman-
temannya serombongan, sebuah topi pandan lebar, alas
kaki, karung beras, air... dan ia merenungi tongkat yang
biasa dibawa oleh Bibi Madraka. Tongkat dari jantung
kayu asam. Hitam mengkilap. Lurus dan keras. Ia me-
mutuskan untuk membawa tongkat yang oleh kawan-
kawannya diberi julukan “si Galih” itu. Si Galih dahulu
sering dipakai untuk menghukumnya jika ia salah ge-
rak. Dan akhir-akhir ini dipakai untuk membantu Bibi
Madraka berjalan. Bukan karena sang guru itu harus
bertongkat, tetapi sekadar penopang serba guna saja.
Kadang-kadang bahkan bisa dipergunakan untuk senja-
ta.
Agak lama Tari memperhatikan tongkat itu. Hitam.
Halus. Mengkilap. Entah sudah berapa tahun umurnya.
Seingat Tari, sewaktu ia baru mulai diberi pelajaran tata
gerak, tongkat itu sudah ada. Pada umur lima tahun,
saat ia menerima pelajaran melompat, tongkat itu men-
jadi palang penghalang untuk loncatannya. Dan saat ia
mulai belajar memainkan senjata pada umur delapan
tahun, gurunya sering mengumpamakan tongkat itu
pedang. Atau tombak. Atau sekadar tinju lawan.
Kapankah tongkat ini akan kembali ke tangan pe-
miliknya?
Tari tersentak dari lamunannya. Sayup-sayup dide-
ngarnya suara seruling.
Anengah tak dapat bermain suling. Atau, paling tidak
tidak semerdu itu. Tara... ya, dia pandai bermain suling.
Tapi tak mungkin dia. Orang lain yang pandai bermain
suling adalah... ah, itu pun tak mungkin. Si Gita, putra
Paman Kanigara. Tapi Gita masih kecil. Sedang lagu
ini... rasanya terlalu sulit bagi seorang anak gembala se-
perti Gita.
Tari bergegas keluar. Ke halaman yang begitu sepi.
Suara itu datang dari arah depan. Dengan membawa
buntalan barang-barang serta tongkatnya, Tari berlari
ke depan.
Anengah berdiri di tengah pintu gerbang. Menghadap
ke luar. Dan di tengah padang rumput di depan pintu
gerbang itu, seseorang tampak duduk bersila di tanah.
Meniup seruling.
3. TANTRI
“SIAPA DIA?” bisik Tari yang tak bersuara berdiri di be-
lakang Anengah.
“Aku tak tahu. Dia belum mau berbicara. Entah ka-
wan, entah lawan.”
“Kurasa ia tak bermaksud jahat pada kita,” bisik Tari
lagi. “Kalau tidak, kenapa ia menampakkan diri begitu
saja? Dan lagu yang dimainkannya adalah Kidung Sri
Gandra. Kidung itu berisi pesan persahabatan. Agaknya
ia ingin bersahabat.”
“Dasar kau tak punya pengalaman. Bisa saja ia me-
nipu.”
“Kedengarannya ia orang yang terpelajar. Dan jujur.
Pasti ia bukan orang tidak baik.”
“Biar kutanyai dia....”
“Jangan. Biar diselesaikannya dulu lagu itu.” Baru
saja Tari selesai berkata begitu, irama seruling berubah.
Seakan gembira. Seakan tertawa. “Hei, ini bukan Ki-
dung Sri Gandra ,” bisik Tari pada Anengah. “Sri Gandra
tak bisa dimainkan selincah itu. Aku tahu. Bibi Madra-
ka sering menyanyikannya untukku waktu aku masih
kecil.”
Irama yang dilagukan masih lincah dan riang. Ber-
lompat-lompat. Menggerakkan hati.
“Ah. Aku tahu. Ini lagu para nelayan di daerah Hu-
jung Galuh. Aku ingat betul. Beberapa tahun yang lalu
aku diajak Bibi Madraka menyusuri Sungai Suwarna.
Dan di Hujung Galuh ada pesta besaaar sekali. Sebuah
kapal besar baru merapat. Para nelayannya berpesta-
pora, dan lagu itu dimainkan. Lucu. Para wanitanya
menari dengan gaya yang aneh. Hanya maju-mundur
dan melenggang-lenggang. Bahasa mereka agak lain
dengan kita. Apakah orang ini dari sana.”
Terdengar lagu berubah lagi. Kini mengalun-alun.
Seakan tiupan angin. Di sela sekali-sekali oleh lengking-
an tinggi bagaikan pekikan burung camar. “Ah, seperti
di laut, ya,” bisik Tari.
“Huh. Kau pernah ke laut?” tanya Anengah, sedikit
terlihat rasa irinya.
“Pernah saja! Waktu itu aku berangkat dari Hujung
Galuh,” Tari tak menyembunyikan rasa bangganya.
“Kau saja yang seperti katak di bawah tempurung. Kami
murid-murid Bibi Madraka sudah berkunjung ke mana
saja!”
“Makanya ilmu kalian tak maju-maju,” dengus Ane-
ngah.
“Daripada maju tapi tak tahu utara-selatan,” tukas
Tari asal membantah saja, kekanak-kanakannya mun-
cul. “Kau pernah ke Kembang Putih, ke Kamal Pandak?
Tak mungkiiin!”
“Tapi kau ke tempat-tempat itu paling juga hanya
meminta-minta belas kasihan orang. Apa enaknya! Ja-
lan jauh, capek, makanan tak keruan!” Anengah juga
lupa akan ke “angkeran” dirinya. Ia meladeni gaya ke-
kanak-kanakan Tari. Sesaat Tari tercengang juga meli-
hat gaya berbicara Anengah. Belum pernah Anengah
begitu bebas berbicara. Bebas dalam arti tidak terlalu
terkungkung oleh kepura-puraan dan basa-basi. Ya.
Mungkin itu yang terjadi. Mungkin Anengah bersikap
angkuh dan sok berwibawa untuk membedakan dirinya
dari siswa lain. Terutama Kang Tara yang selalu ber-
canda dan ceria. Mungkin... karena sekarang merasa
tak ada saingan, Anengah bisa kembali pada pribadi
yang menyenangkan. Tapi... rasanya tak akan ada yang
bisa menggantikan kedudukan Kang Tara.
“Anak tolol, apa yang sedang kaurenungkan?” tiba-
tiba Anengah bertanya. Dan Tari tersentak dari lamu-
nannya. Dirasakannya betapa janggalnya mereka. En-
tah bagaimana ia dan Anengah telah duduk seenaknya
di telundakan pintu gerbang, berhadapan, seolah-olah
tak ada hal lain yang harus mereka perhatikan.
“Jika kau memang maju, coba bagaimana kau bisa
melakukan langkah ke-26 dari Sura-caya tanpa tangan-
mu harus terangkat, hayo!” Tari melanjutkan suasana
yang mereka buat itu. Ia bersandar ke gapura, duduk
seenaknya dan tak menghiraukan suara seruling yang
mendayu-dayu itu.
“Mudah saja. Kautekuk kaki kananmu, kauputar
bahumu ke kiri, dan dengan menggelengkan kepala ke
kanan maka tubuhmu akan maju ke depan tanpa ta-
nganmu terangkat. Itu pun kalau kau sudah melaku-
kan langkah sebelumnya dengan benar. Jangan tanya-
kan langkah sebelumnya, sebab kemungkinan kau ti-
dak mengujiku, tetapi memang bertanya!”
“Gila apa! Untuk apa bertanya padamu,” Tari menci-
bir.
“Hei, tanya saja padaku!” tiba-tiba sebuah suara me-
lengking terdengar. Keduanya menoleh. Ternyata orang
yang meniup seruling itu telah mendatangi. Dan kini ti-
dak meniup seruling lagi. Dan kini tampak bahwa orang
itu bukannya orang dewasa, tetapi seorang anak lelaki
yang kemungkinan baru berumur sekitar dua belas
atau empat belas tahun. Wajahnya tampan sekali, ma-
lah mendekati cantik. Kulitnya kuning bersih. Matanya
bersinar-sinar. Ia memakai kain yang tampaknya sudah
berpuluh tahun tidak dicuci. Selembar kain kasar me-
nutupi dadanya yang terbuka. Kainnya hanya diikat
dengan tali. Dan di tali itu terselip seruling putih dan
sebuah kantungan bekal. “Tanya saja padaku, pasti aku
jawab!”
“Apakah kami mengajak bicara kanyu(kamu)?’ sela Ane-
ngah. Kini sudah berubah lagi. Kini seperti biasa: tajam,
mantap, bersungguh-sungguh.
“Tentu saja tidak, tetapi kalau tidak dimulai seka-
rang, kapan lagi. Sejak tadi aku menunggu ditegur.
Wah, di sini kok sepi. Kabar yang kuterima mengatakan
di sini ramai!” anak itu menjawab seenaknya.
“Ramai karena apa?” Anengah tampak curiga. Dan
Tari bisa melihat bahwa tekanan yang beberapa saat ini
dirasakannya mulai muncul di wajahnya: marah, kesal,
putus asa, dan ketegangan. Pedang telanjangnya telah
diselipkan tanpa disarungkan ke ikat pinggangnya. Tapi
tangan kirinya seolah tak sengaja mendorong hulu pe-
dang itu hingga maju dan mudah dicabut kapan saja.
Dalam hati Tari merasa bahwa ketegangan Anengah
pastilah sudah pada puncaknya. Anengah yang biasa
angkuh itu... masakan kalau perlu menghadapi anak ini
harus menggunakan pedang?
“Ya karena ada orang. Benar bukan, Kak...?” anak
itu meringis pada Tari. Giginya putih bersih, rata, dan
bibirnya bahkan sedikit memerah. “Lha kalau di hutan
kadang-kadang memang ramai... tapi ramainya hutan
lho, kan tidak cocok bagi kita manusia! Masa aku harus
berbicara dengan harimau, kijang... masih untung. Lha
kalau bicara dengan ular pakai bahasa apa, hayo!”
“Siapa dan dari mana kanyu?” Anengah sama sekali
tidak tergoda untuk tersenyum, walaupun Tari hampir
terkikik oleh lagu bicara anak itu yang begitu aneh.
“Namaku Tantri. Boleh dikata aku ini anak angin,
tak pernah punya tempat tinggal. Jadi kalau ditanya da-
ri mana, yah... bagaimana, ya... pertanyaannya jangan
sulit-sulit ah. Kita sendiri siapa?” ia balas bertanya. Ta-
pi pada waktu bertanya siapa lawan bicaranya itu, anak
tadi tidak menghadap Anengah, malah menoleh pada
Tari.
“Hei, kanyu bertanya padaku atau padaku?” Tari
mencoba melepaskan beban di hatinya dengan menga-
jak berbicara ringan dengan anak ini.
“Benar, pada kita dan pada kita,” anak itu tertawa
mendengar permainan kata Tari. Kita memang berarti
kau ataupun aku. “Suaranta bagus. Aku senang men-
dengarnya. Pikiranta indah, aku suka melihatnya. Pe-
ngalamanta luas, aku suka berkelana di dalamnya....”
Mau tak mau Tari tertawa mendengar gaya bicara
anak itu. “Namamu Tantri? Namaku Tari. Dan ini...”
Kata-kata Tari terputus. Anengah melompat ke anta-
ra Tari dan Tantri, kakinya melecut ke arah tangan Tan-
tri. Tantri menjerit keras. Tubuhnya yang kecil terlem-
par terpental dan jatuh terkangkang di tanah.
“Kakang Anengah!” Tari berteriak langsung melompat
mencegah tendangan kedua Anengah.
“Kau lupa peristiwa yang baru terjadi. Dan kau begi-
tu saja mempercayai orang,” dengus Anengah dengan
sikap masih akan melancarkan serangan. “Yang mem-
bunuh begitu banyak saudara-saudara kita adalah seo-
rang wanita cantik yang katanya mirip bidadari. Apa
susahnya bagi seorang anak untuk mencabut nyawa ju-
ga?”
Tari menelan kembali kata-kata marah yang akan
disemburkannya. Betapapun Anengah benar. Ia tak
kenal anak ini. Dan kemungkinan bahwa anak ini juga
diperalat oleh siapa pun yang memusuhi padepokan ini
masih ada. Tari melangkah mundur. Diliriknya anak
yang mengaku bernama Tantri itu berguling-guling di
tanah sambil memegang tangan kanannya yang tadi
terkena tendangan Anengah. Dan anak itu menangis!
“Hu hu huuuu... kalian sungguh galak..., sungguh
tidak sesuai dengan... dengan... sebagai murid-murid
padepokan yang mestinya... mestinya belajar mengasihi
sesamanya, hu hu huuuu. Makanya tempat kalian sepi
begini... paling semua orang lari, habis... habis kalian
galak sih. Huhu huuuu... walaupun kalian jaga kaki
gunung ini dengan pagar betis pun... pasti orang akan
lari semua. Hu hu hu... tapi, eh, isi padepokan ini kan
tinggal kalian berdua toh? Lalu... untuk apa kaki gu-
nung kalian jaga?” dari menangis Tantri mengubah si-
kap jadi bertanya. Dia kini sudah berdiri sambil terus
mijit-mijit tangan kanannya. Tari melihat tangan itu
mulai memerah bagai terbakar. Itulah akibat tendangan
Birawadana Anengah tadi.
“Apa katamu?” tangan Anengah secepat kilat melun-
cur dan menyambar kain pembungkus badan Tantri.
“Eh, eh, apa aku salah bicara ya?” Tantri sangat ke-
takutan.
“Kaubilang kaki gunung ini dijaga?” Anengah meng-
guncang-guncang tubuh anak itu.
“Be... benar! Apanya yang aneh? Kita pasti tahu itu,
kan?”
Baru kini Tari sadar mengapa Anengah tampak begi-
tu gusar.
“Siapa yang menjaga? Di mana?” tanya Anengah.
“Eh, eh, jadi bukan kita? Orangnya galak-galak... di
hutan yang ada jalan setapaknya ke Kojajar?”
“Apa yang mereka lakukan?”
“Tadinya mereka melarang aku naik. Aku bilang aku
cari kambingku yang lepas. He he he he... aku pandai
bermain sandiwara lho! Dulu di...”
“Apakah mereka memakai seragam? Mereka mema-
kai tanda-tanda?” tukas Anengah. Tari ikut tegang
mengikuti pembicaraan ini.
“Seragam? Tidak... tidak kok. Mereka malah lebih
mirip perampok. Mukanya menyeramkan, pakaiannya
tak keruan... cuma, pemimpinnya naik kuda. Dan di pe-
lana kuda itu aku lihat cap bergambar.... Ya, ada gam-
bar mirip Candrakapala ..Dan Tantri menirukan Can-
drakapala itu, yaitu tengkorak yang bertaring.
“Candrakapala? Lambang Kadiri dulu?” Tari ikut
berbicara. “Lambang itu sudah lama hilang.”
“He he he... aku juga bilang mirip. Rasanya sih bu-
kan lambang Kadiri kok. Kalau Kadiri lambangnya begi-
ni,” Tantri membelalakkan matanya lebar-lebar.
“Apa kata mereka?” Anengah masih mencengkeram
kain pembalut badan Tantri.
“Wuah. Mereka galak. Lebih galak dari kita,” kata
Tantri. “Mula-mula aku tak boleh masuk. Kemudian
mereka memperbolehkan aku masuk. Tapi pemimpin-
nya bilang, barang siapa yang sudah naik gunung ini,
tak boleh keluar lagi. Harus dibunuh. Serem, ya? Me-
ngapa kita buat peraturan aneh itu?”
Anengah mengempaskan Tantri ke tanah. Gemas ia
berbalik menghadap pintu gerbang padepokan. Ta-
ngannya mengepal keras. Tubuhnya tampak tegang.
Mau tak mau Tari harus berpendapat bahwa saudara
seperguruannya ini terlihat sangat memikirkan pergu-
ruannya.
Kemudian Anengah berpaling lagi. Wajahnya begitu
muram.
“Bapa Guru memerintahkan aku untuk selalu men-
jagamu, mengikutimu. Kau kularang pulang ke Wali-
rang, karena itu larangan Bapa Guru. Kau tampaknya
kurang percaya padaku. Baiklah,” Anengah menghela
napas panjang, “aku akan melanggar perintah Bapa
Guru. Harapanku hanyalah, suatu saat pwangkulun
akan memberiku ampun. Tugas utamaku mencari Tara,
itu akan kulaksanakan. Tugas keduaku menjaga eng-
kau, tapi karena kau tak peduli, biar kulanggar tugas
itu. Aku rasa ada tugas lain yang lebih penting. Yaitu...
mencari siapa sebenarnya yang begitu membenci Rah-
tawu hingga ingin membasmi kami sedemikian rupa.
Nah, sekarang terserah kau, Tari. Jika kau pergi sendiri,
dan suatu saat menemui kesulitan, hubungi aku de-
ngan getaran batinmu. Jika kau tewas di tangan seseo-
rang, aku akan membalaskan dendammu. Terserah kau
mau ke mana.”
“Tunggu, Kakang Anengah,” Tari cepat mencegah
saat Anengah akan berpaling pergi. “Maafkan aku tadi...
begitu kasar padamu. Aku tahu... kau tertekan oleh pe-
ristiwa ini. Aku pun demikian. Kita bersaudara, tak ada
yang bisa memutuskan persaudaraan kita. Apalagi
hanya dengan pertengkaran kecil itu.”
“Lalu?” hidung Anengah mengembang karena mena-
han haru.
“Kau lebih tua dari aku. Aku akan ikut kau. Asal kita
segera berangkat.”
“Aku ikut,” kata Tantri. “Aku bisa mati kalau harus
melewati orang-orang di kaki gunung itu.”
“Dengar. Aku masih mencurigaimu,” dengus Ane-
ngah.
“Aku... aku betul-betul orang baik-baik kok. Aku ke-
mari hanya... ingin minta makan dan minum serta tem-
pat istirahat beberapa hari. Itu saja. Benar. Kudengar
Padepokan Rahtawu sangat murah memberi dana....”
“Sudahlah, kalau kau mau ikut, ikutlah... tapi ja-
ngan bikin gara-gara, ya!” Tari menggamit tangan Tantri
agar mendekat untuk menghindari sambaran tangan
Anengah.
“Hm, Tari, kau tak boleh begitu saja mempercayai
orang. Kauperhatikan dia terus. Jika dia berbuat sesua-
tu yang mencurigakan, bunuh. Tunggu, aku akan men-
gambil perbekalan.”
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah da-
lam perjalanan turun gunung. Anengah kini mengena-
kan pakaian petani, dengan caping lebar, kain kasar,
dan buntalan perbekalan di punggungnya. Pedangnya
dibungkus kain dan dijadikan pemikul buntalan tadi.
Tari juga berpakaian serupa. Tongkat si Galih dijadikan
kayu pemikulnya. Tantri tentu saja tak berubah penam-
pilannya. “Untuk apa menyamar. Walaupun kita me-
nyamar pun orang takkan percaya kita petani. Aku sen-
diri... tanpa menyamar orang pasti mengira aku orang
gila. Ya toh?” katanya.
Menjelang sore hutan yang mereka tempuh mulai
menipis.
“Hei, bukankah ini jurusan ke Kojajar?” tanya Tantri
tiba-tiba. “Di ujung jalan ini dijaga manusia galak!”
Anengah tak menjawab.
“Kakang Anengah ingin menyelidiki mereka,” bisik
Tari. “Dan kurasa s arika ingin melampiaskan kemara-
hannya pada seseorang. Aku juga begitu.”
“Kita labrak mereka?” Mata Tantri bersinar.
“Ya. Kau takut?”
“Takut sih tidak. Tapi aku tak bisa berkelahi. Aku
nonton saja, ya? Kalau kita berdua kalah, aku pura-
pura tidak kenal, jadi tak ikut ditangkap, ya?”
“Kalau memang terjadi pertempuran, kau lari saja.
Ingat, ya?”
“Boleh!” Tantri mengeluarkan serulingnya, dan sam-
bil berlari-lari kecil ia meniupkan lagu gembira pada se-
rulingnya.
Anengah yang tak sabar telah menggunakan ilmu ja-
lan cepatnya. Tari harus mengikutinya, maka ia pun
menggunakan ilmu yang sama. Tantri sendiri agaknya
tak memiliki ilmu apa pun, jadi ia harus berlari-lari ke-
cil.
Waktu Tantri meniup seruling sambil berlari-lari ke-
cil, Anengah melirik tajam pada anak itu. Dan pandan-
gan matanya bertemu dengan pandang mata Tari. Jika
memang Tantri tak punya ilmu, paling tidak ia harus te-
rengah-engah. Kini dengan enak ia malah meniup serul-
ing.
Tiba-tiba Anengah berhenti dan menjulurkan kaki-
nya. Tari dengan mudah melewatinya. Tetapi Tantri
langsung jatuh terbanting tunggang-langgang memben-
tur kaki Anengah.
“Hei, kalau berhenti jangan terlalu tiba-tiba. Wah,
benjol kepalaku ini....” Tantri mengusap-usap dahinya
yang terbentur pohon. Tari memperhatikannya. Ane-
ngah mengangkat bahu. Ia merasakan dari benturan
tadi bahwa Tantri tak punya tenaga apa pun. Aneh juga.
Mereka melanjutkan perjalanan. Jalan kini kian me-
lebar. Pepohonan pun kian menipis.
“Itu mereka,” tiba-tiba Tantri berkata. Mereka ber-
henti. Di depan sana hutan berakhir. Jalan yang me-
reka lalui melebar di sebuah padang rumput kecil. Di
sisi padang rumput itu ada serumpun pohon bambu.
Rindang sekali. Dan beberapa lelaki duduk-duduk di
sana. Tak jauh dari mereka berkumpul beberapa ekor
kuda. Kemunculan Anengah, Tari, dan Tantri dari da-
lam hutan langsung membuat orang-orang itu berdiri.
Dengan sikap garang mereka mengambil kedudukan di
ujung jalan itu, hingga ke mana pun ketiga orang itu
pergi maka dengan mudah dapat mereka tangkap.
Tapi Anengah dan Tari bukanlah orang yang mudah
ditakut-takuti. Mereka tidak lari. Dengan tenang berja-
lan mendekat.
“Hei, kamu!” seorang bertubuh tinggi besar dengan
rambut tumbuh hampir di seluruh tubuh membentak.
“Dari mana, hei?”
“Siapa kalian?” bentak Anengah tak kurang galak-
nya.
“Monyet! Aku bertanya padamu, hei!”
“Terserah. Kalau kau tak mau menjawab, aku juga
tak mau menjawab!” sahut Anengah. Kedua orang itu
langsung berbicara dengan bahasa kasar, tidak seperti
biasanya jika seseorang jumpa di jalan dengan orang
lain.
“Monyet! Namaku Kala Modot, kau pasti sudah de-
ngar nama itu bukan? Aku raja perampok di daerah ini.
Nah, jawab pertanyaanku tadi!”
“Jika kau raja, mengapa kau merampok? Jika kau
raja perampok, jelas kami bukan rakyatmu, kami bukan
perampok kok!” Tantri ikut berbicara. “Lagi pula, jadi
raja perampok saja kok bangga sih?”
“Pokoknya, serahkan semua hartamu. Cepat!” geram
perampok yang bernama Kala Modot itu. “Lebih bagus
lagi, serahkan kepala kalian!”
“Kau terlalu serakah,” dengus Anengah. “Ketahuilah,
ini masih daerah pengaruh Padepokan Rahtawu. Dan
sebagai murid Rahtawu, aku tak rela daerah ini dikotori
oleh orang-orang macam kau!”
“Weeee lhah! Kau murid Rahtawu! Wah, wah, wah,
untung besar ini kita, kawan-kawan....” Kala Modot ter-
tawa dan berpaling pada kawan-kawannya. “Dapat ma-
kanan besar kita kali ini. Ha ha ha... Anak bagus, se-
rahkan dirimu baik-baik saja ya, sayang kulitmu jika
pecah....” ia tertawa pula pada Anengah.
“Hari ini aku melanggar pantangan membunuh,” ka-
ta Anengah dingin. “Akan kubasmi kalian semua. Tapi
jika kalian mau berterus terang tentang siapa yang me-
nyuruh kalian berada di sini, mungkin nyawa kalian
masih bisa kuampuni.”
“Weeee lhah! Lha ini lucu... kamu itu aku yang ngan-
cam, Nak! Kamu tidak pantas mengancam orang! Sini...
mana lehermu biar kupotong sendiri sini....” Kala Modot
tertawa mengulurkan tangannya. Akibatnya hebat. Ta-
hu-tahu saja orang bertubuh tinggi besar itu terbanting
begitu keras hingga suaranya membuat kuda-kuda
menjerit.
“Bangsaat. Monyet! Celeng!” Kala Modot memaki-
maki bangkit. “Kamu tak bisa disayang, yah! Kawan-
kawan... gempur!”
Serentak sekitar sembilan orang maju menerjang
Anengah. Dengan tenang Anengah menggeser kaki. Dan
ketika ia memutar tubuh maka dua-tiga penyerang
tunggang-langgang kena sambaran tinju dan kakinya.
Tari segera meletakkan buntalannya dan dengan tong-
kat si Galihnya ia menghantam roboh tiga orang pe-
nyerang. “Tantri, minggir kau!” teriak Tari sambil me-
robohkan lawannya yang keempat.
“Uupps!” Kala Modot terkejut. Enam orang kawannya
telah roboh dalam gebrakan pertama! Mereka langsung
bangkit dan mengepung Anengah, Tari, dan Tantri.
“Cincang mereka!” teriak Kala Modot. Ia pun meng-
hunus sebilah pedang panjang. Udara pun langsung te-
risi oleh kilatan berbagai senjata lainnya. Parang. Pe-
dang. Tombak. Gada besi. Keris. Dan mereka langsung
menyerbu Anengah.
“Minggir, Tantri.” Dengan lembut Tari menendang
Tantri hingga anak itu terlempar ke pinggir, sementara
ia langsung melompat menghadang. Gerak kaki Sura-
caya yang dipakainya begitu lembut. Ia bagaikan me-
nari. Ke kiri. Ke kanan. Maju. Mundur. Dan setiap gera-
kan berarti satu serangan lawan digagalkan. Anengah
menggunakan tata gerak yang sama. Tetapi gerakannya
begitu mantap dan gagah. Dan tak segan-segan ia me-
lontarkan tendangan yang pasti disusul oleh jeritan se-
ram. Juga derakan patah berbagai senjata tadi. Bahkan
gada besi yang pemiliknya sudah gembira karena gada
tersebut berhasil menyentuh babu Anengah, tiba-tiba
meledak patah oleh gerakan bahu itu.
Orang-orang itu kemudian bergelimpangan di tanah.
Masing-masing paling sedikit meringis kesakitan. Ada
yang pingsan. Ada yang berputar-putar dengan kaki pa-
tah. Kala Modot tak bisa berbuat apa-apa. Perutnya di-
injak oleh Anengah.
“Jika aku tekan sedikit lagi, perutmu akan meletus,
kau tahu itu?” kata Anengah geram. Wajahnya sangat
seram karena terkena percikan darah dan mengkilap
oleh keringat, matanya memancarkan amarah. “Siapa
yang menyuruh kalian berada di sini?”
“Aku... akhhhh... jangan! Jangan!” agaknya Kala
Modot akan berdusta tetapi Anengah memperkeras te-
kanannya.
“Hi hi hi hi... banyak mainan nih....” Tantri berlom-
patan ke sana kemari mengambil berbagai potongan
senjata yang berserakan di tanah. “Lumayan... lain kali
cari yang banyak tombaknya, ya, bisa buat lempar-
lemparan lho,” katanya pada Tari.
Tari tak memperhatikan dia. Baru kali ini ia berta-
rung melawan orang yang tak dikenalnya, dan dengan
semangat untuk betul-betul membela diri atau terbu-
nuh. Dadanya berdebar keras. Matanya jalang melirik
ke mana-mana. Beberapa orang masih tergeletak. Bebe-
rapa orang mencoba bangkit. Seseorang sedang ter-
huyung-huyung berdiri dan jatuh menimpa temannya.
Mereka saling memaki.
Heran. Kuda-kuda itu begitu tenang.
Dan Tari melihat seorang lelaki gemuk pendek di an-
tara kuda-kuda tersebut. Menenangkan mereka. Lelaki
itu tak keruan mukanya, badannya, dan pakaiannya.
Serba kumal dan dekil.
“Kau masih belum mau berbicara?” bentak Anengah
lagi.
“Aku... aku... aku disuruh oleh...”
Dari sudut matanya Tari melihat sesuatu melesat ce-
pat ke arah Anengah. “Awas!” ia berteriak dan melompat
tinggi. Benda itu datang dari si Gendut yang berada di
antara kuda-kuda tadi. Di udara Tari berputar dan ka-
kinya menendang benda tadi. Ia menjerit. Kakinya tera-
sa panas. Tetapi benda itu berhasil ditendangnya jatuh.
Menancap di tanah. Sebilah keris pendek! Tari menda-
rat di tanah dan terpaksa langsung berkelit karena ter-
nyata orang gendut itu telah melayang ke arahnya! Tin-
ju Tari beradu dengan tubuh si Gendut. Kembali ia
menjerit. Serasa meninju batu! Tari berputar. Melang-
kah mundur untuk mengambil kuda-kuda berikutnya.
Si Gendut menginjak tanah langsung mengirimkan ten-
dangan terbang ke arah Anengah. Anengah membentak
keras. Menginjak Kala Modot dan menerima tendangan
si Gendut di udara. Terdengar Anengah menjerit. Dia
terbanting ke samping namun cepat melompat berdiri.
Mereka berdiri bagaikan patung-patung kaku. Si
Gendut tegar diam, tak memandang pada siapa pun.
Anengah dengan kuda-kuda menyerangnya, meman-
dang Si Gendut heran. Tari masih dalam kedudukan se-
tengah menarinya, melirik pada Anengah. Ada yang
aneh. Kenapa orang itu tidak maju lebih dahulu, dan
malah menjaga kuda. Lemparannya tadi membuat kaki
Tari kesakitan. Apalagi benturannya. Jelas orang ini le-
bih berilmu dari Kala Modot.
Dan kini Kala Modot juga mengguling minggir.
“Siapa kau?” tanya Anengah.
“Tak ada gunanya kujawab. Toh kau akan mampus!”
si Gendut langsung menerjang.
Anengah sudah bersiaga. Ia memutar tubuh ke kiri.
Mestinya serangan si Gendut, betapapun cepatnya,
akan membentur angin dan Anengah akan punya ke-
sempatan menabas pinggangnya. Tetapi si Gendut sea-
kan tahu gelagat. Ia memberatkan tubuh hingga dirinya
menyentuh tanah sebelum waktunya dan sambil berte-
riak nyaring tangannya menusuk ke depan. Anengah
dalam keadaan genting. Namun ia sempat membuang
diri, berguling menjauh. Si Gendut seakan terpental
sendiri... ke arah Tari. Gugup Tari melompat mundur,
namun terlambat. Sebuah tamparan keras mengenai
pipinya. Tari menjerit. Pipi itu serasa terbakar. Tubuh-
nya berputar bagai gasing dan roboh. Ia terpaksa bergu-
lingan tiga-empat kali. Dadanya begitu sesak. Dan cepat
ia bersila untuk mengatur kembali napasnya—sesuatu
yang biasa dilakukannya dalam latihan. Tetapi ini bu-
kan latihan. Kala Modot yang sudah bangkit sambil me-
nyeringai mendekatinya dengan pedang terhunus—Kala
Modot pun tak sadar bahwa pedangnya itu sudah pa-
tah.
“Tari!” jerit Anengah memperingatkan. Ia melesatkan
tubuhnya untuk menghadang. Tapi si Gendut lebih da-
hulu menghadangnya, memasang kaki hingga perut
Anengah terancam jebol. Putus asa Anengah memaksa-
kan kakinya menyambut kaki si Gendut sementara ta-
ngannya gesit melemparkan keris pendek ke arah Kala
Modot.
Tiga jeritan terdengar sekaligus. Anengah yang me-
nyalurkan tenaga Birawadana pada kakinya menjerit
karena dirasakannya kaki itu bagaikan masuk ke dalam
kobaran api—padahal, mestinya tendangannyalah yang
memancarkan wibawa panas. Kala Modot menjerit ka-
rena punggungnya terhajar keris terbang Anengah. Dan
Tantri menjerit karena pedang buntung Kala Modot
menghajar kepalanya—agaknya Tantri ingin menolong
Tari, ia lari ke antara Tari dan Kala Modot, dan saat pe-
dang Kala Modot terlepas karena pemiliknya terhajar
keris terbang Anengah, maka kepala Tantri terlempar
pedang buntung itu.
Anengah jatuh terguling-guling. Si Gendut tertawa
terbahak-bahak. “Hua ha ha ha ha... hanya sedemikian
saja kesaktian anak Rahtawu, hah? Hua ha ha ha ha...”
Tari sudah terlanjur menjalankan ilmu pernapasan-
nya. Ia hanya bisa semakin memusatkan perhatian agar
pemusatan pikirannya tak terpecah.
Kala Modot berguling-guling di tanah, memegang ba-
hunya yang bersimbah darah.
Tantri terlihat kebingungan membawa kumpulan po-
tongan senjata yang tadi dipungutinya.
Si Gendut sesaat memperhatikan Anengah. Anengah
rasanya tak akan berbahaya baginya. Saat itu juga ter-
lihat kaki Anengah melepuh bengkak. Sambil tertawa si
Gendut berpaling pada Tari. Terus tertawa terpingkal-
pingkal ia mendekati gadis itu. “Hua ha ha ha... kalau
gadis seperti engkau dikumpulkan... hua ha ha ha... ra-
sanya masih cukup indah buat pajangan, hua ha ha...”
Melihat si Gendut mendekat, Tantri mengkeret keta-
kutan. “Hei, jangan ribut saja!” serunya gugup, tangan-
nya memeluk berbagai potongan senjata. “Kalau sudah
menang ya sudah. Tidak ada acara untuk tertawa kena-
pa sih!? Diam! Saudaraku ini sedang tidur!”
Si Gendut seolah tak acuh menendang Tantri. Tantri
terpental tinggi. Potongan senjata yang dipegangnya
terhambur berantakan, meluncur ke arah si Gendut.
Potongan-potongan senjata itu memang tak terarah. Ge-
rakannya pun pelan tak bertenaga. Jadi si Gendut tak
menghiraukannya, tetap melangkah ke arah Tari.
Tiba-tiba si Gendut tertegun. Sebilah potongan tom-
bak menimpa tengkuknya. Tidak keras. Tapi terasa sa-
kit sekali. Dan ini aneh, sebab si Gendut merasa dirinya
sudah kebal. Belum selesai terkejut, sekeping potongan
pedang mental ke arah kakinya, sekitar tiga jari di ba-
wah tempurung lutut. Disusul oleh pegangan pedang
yang menimpa dada sebelah kirinya. Hanya menyerem-
pet memang. Tapi hampir saja ia menjerit. Dan ia roboh.
Kakinya serasa tak bertulang.
Sementara itu, Tantri yang terlempar ke atas, jatuh
tepat menimpa Tari. Entah bagaimana Tari terguncang
tersadar dari semadinya. Terkejut dilihatnya dirinya di-
peluk rapat oleh Tantri.
“Kurang ajar!” desisnya. Gemas ia melemparkan Tan-
tri ke samping. Dan sadarlah ia bahwa Tantri sesung-
guhnya sudah tak sadarkan diri! Dirabanya nadi di leh-
er Tantri. Masih hidup, walaupun terlihat anak itu seo-
lah-olah sudah tak bernapas lagi. Cepat berpaling, Tari
melihat si Gendut sedang bangkit dengan heran. Sesaat
ia memandang potongan-potongan senjata yang berte-
baran di tanah sekelilingnya, sesaat ia memandang Tan-
tri yang tertelungkup di tanah tak sadarkan diri. Dan di
sana, Anengah terengah-engah mencoba mencegah ha-
wa panas yang merambat naik dari kakinya yang mele-
puh.
Si Gendut menggeleng. Pasti tadi tempat-tempat ter-
peka di tubuhnya itu kena secara tak sengaja. Sekarang
yang penting si gadis itu harus diringkus. Sial. Kala
Modot ternyata tak berguna sama sekali. Bajingan itu
beserta anak buahnya masih terguling-guling menahan
kesakitan di tanah.
Tari juga mengguncangkan kepalanya. Pusing sekali.
Tetapi lebih dari itu ia mendengar sebuah suara lembut
di telinganya, “Awas, si Gendut itu memiliki ilmu Sasra-
dahana yang sangat mirip dengan Birawadana- mu. Ke-
lemahannya ada di bawah ketiak kirinya. Saat dia akan
melontarkan ajiannya, tempat itu tak terjaga. Kau-
gunakan langkah ke-39 Sura-caya untuk memancing
dia berpaling ke arah kananmu. Kemudian kau serang
ubun-ubunnya dengan pukulan Bantala Liwung. Dia
akan merasa mendapat lowongan. Dan dia akan meng-
angkat tangan kirinya. Saat itu gunakan tendangan
Bantala Liwung ke-12.”
Siapa yang berbisik? Atau... betulkah itu bisikan?
Heran Tari melihat ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang
yang mungkin bisa dicurigai. Tantri pingsan. Anengah
jauh di sana. Lalu siapa? Tak mungkin si Gendut itu.
Tapi... betulkah itu tadi suara? Bukan hanya khayalan-
nya belaka?
Ia tak sempat berpikir. Sekilas dilihatnya si Gendut
telah meloncat menerjangnya. Tari berguling ke kiri. Me-
lompat berdiri dan berputar ke kanan. Sebuah pukulan
dilancarkannya sambil menjerit keras. Si Gendut mene-
rimanya dengan tersenyum mengejek. Tari cepat me-
narik tangannya. Ia pernah mendengar tentang ilmu Sa-
sradahana. Sungguh berbahaya kalau memang itu yang
dihadapinya. Ia berputar mundur. Cepat kedudukan
kakinya berubah. Kaki kirinya melecut ke udara dan
tubuhnya berputar. Itulah langkah ke-39. Dan benar
juga. Si Gendut terpaksa berpaling ke kanan, karena se-
rangan berikutnya mungkin adalah tendangan lurus ke
lambungnya. Tapi Tari tidak melanjutkan gerakan ka-
kinya. Tangannya tertekuk. Jari-jarinya berkumpul ra-
pat mengancam kepala si Gendut. Si Gendut berteriak
menggelegar mengangkat tangan kiri untuk menghan-
tam kepala Tari.
Tapi tendangan kilat Bantala Liwung ke-12 telah
mendahuluinya.
4. CANDIKA
TERIAKAN si Gendut begitu keras. Hingga daun-daun
kering di hutan itu serasa rontok. Dan ia melompat
tinggi, badannya melengkung menahan sakit. Ia jatuh
bergedebum di tanah, masih menjerit panjang, kemu-
dian berguling-guling cepat sekali.
Tari sendiri ternganga melihat hasil serangannya.
Rasanya mudah sekali. Dan ia juga merasa bahwa ten-
dangannya telak mengena. Tapi kenapa begitu mudah?
Apakah itu karena bisikan lembut tadi? Tapi... bisikan-
kah itu? Atau mungkin hanya hubungan batin? Jika bi-
sikan mestinya ia mengenal suaranya. Lagi pula... siapa
yang berbisik?
“Tolol! Cepat habisi dia!” ia serasa mendengar. Sekali
lagi ia celingukan. Siapa yang berbicara? “Cepat, habisi
dia!” seru suara itu lagi. Tak terasa Tari mencabut ke-
risnya. Tapi ia tertegun. Tidak. Ia tak akan membunuh
orang! Walaupun si Gendut itu musuh... ah. Membu-
nuh?
“Tolol, mengapa ragu-ragu?”
Sial! Siapa sih yang berbicara? Tari berpaling.
“Sudah. Kesempatanmu sudah lewat!” terdengar su-
ara itu lagi.
Tari berpaling. Dan terkejut. Si Gendut telah lenyap!
“Tari... tangkap pemimpinnya!” keluh Anengah me-
maksa diri. Tangannya sibuk mencoba menghentikan
rambatan panas. “Cepat!”
Ini perintah jelas. Jelas pula siapa yang bersuara.
Cepat Tari melompat pada Kala Modot. Diinjaknya leher
orang itu.
“Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!” geram
Tari.
Sebutir batu melesat cepat dari dalam hutan menuju
Tari. Tari terkesiap. Belum sempat ia memutuskan akan
berbuat apa, terlihat sebuah titik hitam lagi meluncur.
Anengah pun melihat ini. “Awas, Tari!”
Pada saat kritis itu Tari tiba-tiba teringat gerakannya
tadi sewaktu ia “mengalahkan” si Gendut. Cepat tubuh-
nya berputar, melesat ke atas hingga terhindar dari se-
rangan batu yang tertuju ke arahnya. Dan dalam gera-
kan hampir tak terlihat tangannya tertekuk turun.
Ujung kerisnya tepat menerima batu yang tertuju pada
Kala Modot. Tari berteriak terkejut. Getaran pada keris-
nya begitu kuat hingga sewaktu jatuh ia limbung. Agak
gugup ia berdiri menghadap ke hutan, berseru. “Hai,
orang gagah! Keluarlah!” Saat itu juga, walaupun se-
dang terancam maut, Tari malu sendiri. Ucapan seperti
itu belum pernah diucapkannya, dan hanya didengar-
nya dari dongeng-dongeng kepahlawanan yang dicerita-
kan oleh Bibi Madraka.
Bibi Madraka! Hei, mungkinkah gurunya itu yang
memberinya petunjuk tadi? Dari mana? Apakah dengan
hubungan batin?
“Tari, aku jaga dia....” Anengah berhasil merayap dan
kini telah mencengkeram leher Kala Modot. “Kauawasi
hutan itu... agaknya itu tadi si Gendut. Ia sudah lum-
puh, takkan berani ia memunculkan diri di sini. Hh.
Baru tahu rasa dia, dikiranya murid Rahtawu mudah
ditakuti begitu saja?” Anengah berbicara gagah. Tetapi
Tari tahu bahwa sebetulnya itu hanya untuk menutupi
kelemahannya.
Tari mengangguk. “Ya, kukira ia takkan berani ke-
luar lagi,” katanya keras-keras. “Apa unggulnya Sasra-
dahana sih kalau dibandingkan Birawadana? Tak ada
seujung kuku hitam!”
Dengan gaya gagah Tari menghampiri Anengah. Di-
am-diam diulurkannya dua butir obat penawar luka pa-
da saudara seperguruannya itu. Beberapa anak buah
Kala Modot mulai bangun. Tapi dengan sekilas pandang
saja Tari melihat bahwa mereka takkan berani maju la-
gi. Anengah mencengkeram buah jakun di leher Kala
Modot.
“Jika kau kubunuh, maka itu terlalu enak bagimu,”
bisik Anengah. “Aku yakin majikanmu akan lebih se-
nang jika kau mampus. Sebaliknya, aku ingin kau tetap
hidup dan menderita. Kau tahu, murid Rahtawu diajari
seribu dua ratus empat puluh dua cara untuk menyiksa
orang. Masing-masing cara sanggup membuat rambut-
mu rontok ketakutan. Sebelum itu kulakukan, cepat
kaukatakan siapa yang menyuruhmu!”
Tari sedikit ternganga. Betulkah Bapa Gurunya me-
ngajar cara menyiksa orang? Ia tak percaya. Tetapi Ane-
ngah tampak bersungguh-sungguh.
“Aku... aku...” Kala Modot megap-megap. Tapi kem-
bali Tari terkejut. Tiga butir batu kini meluncur cepat ke
arahnya. “Awas, Kakang!” teriak Tari. Ia sudah tahu
bahwa batu-batu itu dilempar dengan kekuatan tinggi
maka kini ia memasang kuda-kuda kokoh serta meng-
gunakan kerisnya hanya untuk membuat batu-batu ta-
di terserempet dan berganti arah, tidak untuk meng-
hancurkannya.
Usaha pertamanya berhasil, walaupun tangannya te-
rasa ngilu.
“Kakang Anengah, apakah kukejar saja dia?” bisik
Tari. Kedudukannya sulit. Anengah jelas tak bisa ba-
nyak bergerak dengan kaki yang melepuh bengkak itu.
Tari sendiri jika harus melayani serangan jarak jauh itu
pasti akan kecipuhan.
“Hei, kok sepi sekali... yang berkelahi sudah selesai
ya?” tiba-tiba Tantri menggeliat bangun, meraba-raba
seluruh tubuhnya. “Sialan si Gendut tadi. Dikiranya
aku ini bola Cayitra apa, enak saja ditendangi. Mana
dia, biar aku hajar nanti... hayo... mana dia...?” Tantri
memunguti lagi potongan-potongan senjata yang tadi
berantakan. “Habis mainanku... mana dia, Kak Tari?”
“Awas, Tantri!” Tari berseru. Beberapa butir batu kini
melesat dari hutan. Arahnya tak keruan. Ada yang ke
Tari, ada yang ke Anengah, ada yang ke Kala Modot, ada
yang ke Tantri. Dan ke beberapa anak buah Kala Modot
yang kebetulan sudah berdiri.
Anengah berguling ke tanah sambil menyeret Kala
Modot. Tari tidak berani lagi berbenturan dengan keku-
atan dahsyat itu. Ia pun bergeser menghindar. Anak
buah Kala Modot ada yang sempat melihat luncuran ba-
tu-batu tadi. Tapi mereka tak terlalu gesit dalam meng-
hindar. Seorang menjerit dengan lengan patah. Tiga
orang tak sempat lagi menjerit. Langsung roboh tak ber-
gerak. Tewas.
Adalah Tantri yang paling ribut. Batu yang tertuju
padanya agaknya tidak bertenaga. Sekilas Tari melihat
batu itu hanya membentur punggungnya. Dan jatuh.
Tapi Tantri menjerit-jerit seolah-olah tubuhnya terluka
parah. Ia berteriak-teriak kalang-kabut, “Kurang ajar!
Kura-kura! Kadal! Kutu kepala! Siapa yang melempar-
lempar, ya! Tak punya adat! Kurang tata susila! Melem-
par tanpa bilang-bilang lebih dahulu! Pengin tahu rasa-
nya dilempar tak diberi tahu dulu, ya? Nggak enak, lho
rasanya, nggak enak! Pengin tahu, ya? Pengin tahu, ya!”
Dan dengan gemas ia serabutan melemparkan apa saja
yang dibawanya ke arah hutan. Lemparannya memang
lemparan ngawur, sama sekali tidak memakai ilmu me-
lempar. Berbagai potongan senjata itu meluncur se-
enaknya, sesuai sifat masing-masing. Potongan pedang
terlempar miring dan bagaikan melayang melengkung
menyisir udara. Ujung tombak bukannya meluncur te-
tapi berputar-putar bagaikan sepotong ranting tua saja.
Gagang pedang melambung tinggi sekali. Bahkan ada
potongan tangkai tombak yang hanya melesat ke atas
dan kembali menimpa punggung Tantri sendiri yang
tentunya makin kalang-kabut memaki-maki. Ia makin
beringas melemparkan apa saja yang bisa dipegangnya
ke hutan.
Sesuatu membuat Tari tertegun. Lemparan-lemparan
Tantri jelas tanpa aturan. Dan tak bertenaga. Apakah
memang kebetulan bahwa semua benda yang dilempar-
nya ternyata bisa meluncur jauh hingga masuk ke hu-
tan? Seperti bilah pedang tadi. Karena pipih dan ber-
permukaan lebar, mungkin secara wajar bisa melayang
hingga mencapai jarak jauh melebihi tenaga lempa-
rannya. Kemudian potongan tombak. Karena berputar-
putar berhasil mencapai jarak jauh juga. Ah, ya. Pasti
hanya kebetulan saja.
“Hayo, lempar lagi kalau berani!” tantang Tantri.
Tak ada jawaban tentunya. Dan mereka pun me-
nunggu. Yang terdengar hanyalah teriakan anak buah
Kala Modot yang kesakitan. Sementara beberapa yang
mulai sadarkan diri lagi agaknya tak berani bangkit.
“Hei, gandarwa jelek! Hayo lempar aku!” teriak Tantri
lagi. Suaranya sampai bergema. Tak ada jawaban. Tan-
tri mengangkat bahu, tertawa berpaling pada Tari, “Hah,
siapa pun si jahat itu, Kak, dia sudah ketakutan. Jadi
tak usah khawatir lagi. Orang ini mau diapakan? Di-
sembelih? Wah, sayang, pedangku habis. Barangkali
orang ini masih enak ya disate, he he he... atau dima-
kan mentah-mentah, kulitnya diiris kecil-kecil terus di-
beri jeruk nipis... ihhh, sedap! Kita coba, yuk!” Ia betul-
betul menunduk mencengkeram kumis Kala Modot
yang memang sangat tebal dan merenggutnya keras-
keras. Dan Kala Modot yang punya tampang kebal sega-
la siksaan itu ternyata menjerit-jerit bagaikan anak ke-
cil!
“Wadauuuuu! Wadauuuuu! Ampuuun! Ampuuun...,
hu hu...”
“He he he... ini baru kutarik kumisnya, lho! Kadang-
kadang agar orang mengaku harus ditarik lidahnya, te-
rus diulur dan dibelitkan di pohon klampis yang penuh
duri. Wuuuuih! Pasti langsung mengaku!” kata Tantri
bangga. “Kak Tari, kita mau tanya apa?”
Tari masih memperhatikan hutan dari mana tadi se-
rangan datang beruntun. Ia tak mau lengah. “Kakang
Anengah, bagaimana?” bisiknya.
Anengah memasang telinga beberapa saat. Perlahan
ia mengangguk. “Agaknya musuh yang tak kelihatan itu
memang sudah tidak ada, Tari. Tapi jangan lepas ke-
waspadaan. Sementara aku...” Anengah lemah meman-
dang kedua kakinya. Sulit untuk digunakan.
“Setengah hari perjalanan dari sini ada sebuah desa
—Mirejo. Aku kenal buyut-nya. Bibi Madraka...” agak
tersedak Tari mengucapkan nama itu, “sering bermalam
di rumahnya dalam perjalanan ke Rahtawu. Kami biasa
disambut dengan baik. Barangkali lebih baik bila kita
melanjutkan perjalanan. Orang ini kita bawa. Dan bisa
kita tanyai di sana. Bagaimana?”
“Bagus, bagus!” sahut Tantri. “Lebih bagus lagi jika
kita naik kuda. Kan bisa lebih cepat!” Matanya cemer-
lang bangga memberi usulan yang dianggapnya cemer-
lang.
“Ya, benar,” kata Anengah mengangguk. Kepada Kala
Modot ia berkata, “Cepat perintahkan anak buahmu
membawa semua kuda itu kemari. Kau ikut kami. Yang
lain bisa kami ampuni.”
“Tentunya yang belum mati lho, he he he he...” kata
Tantri.
Tak berapa lama, mereka telah melanjutkan perja-
lanan. Tari, Tantri, dan Anengah. Ketiganya di pung-
gung kuda. Anengah memang agak sulit, tetapi dapat
dipaksakannya. Kala Modot diikat di pelana kuda. Di-
dampingi oleh Tari yang selalu siap dengan si Galih-nya.
Ada tiga ekor kuda lagi yang mereka bawa. Menurut pi-
kiran Tari ini untuk oleh-oleh si buyut, atau kepala de-
sa, Mirejo itu.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Tantri me-
ngoceh. Sedikit terhibur rasanya perasaan hati Tari.
Pengetahuan Tantri sangat luas. Berbicara tentang apa
pun bisa. Sayang bahwa berbicara apa pun ia selalu
menyelipkan hal-hal yang dianggapnya lucu.
Menjelang sore daerah semak belukar telah mereka
tinggalkan. Ladang-ladang luas terhampar. Dan di ba-
wah mereka tampak sebuah desa.
“Itu Mirejo,” kata Tari. Jelas terdengar nada lega di
suaranya. Sepanjang perjalanan tadi ia merasa begitu
tegang.
“Belum tentu kita aman,” bisik Anengah. “Yang pen-
ting, kakiku harus segera sembuh. Setelah itu barulah
aku merasa lega.”
“Tentu saja, siapa bisa merasa lega kalau kakinya
sakit!” sela Tantri, tertawa.
Ketika rombongan itu mulai memasuki desa, maka
orang pun geger. Anak-anak kecil berhamburan datang
menonton. Orang-orang dewasa tadinya berhamburan
datang, namun melihat si Kala Modot mereka tertegun
dan cepat bubar. Sebagian berlari mendahului pergi ke
rumah buyut.
Rumah buyut halamannya luas. Dipagari dinding ta-
nah yang tinggi. Dan tampak dikawal oleh beberapa
orang penduduk desa bersenjatakan tombak. Mereka
langsung mengelilingi Tari dan kawan-kawan.
“Paman Wirot, Paman masih ingat aku?” Tari me-
lompat turun dari kudanya, berbicara pada salah seo-
rang pengawal itu. “Aku ingin bertemu dengan Sang Wi-
rak.”
Lama Wirot tak menjawab. Ia memperhatikan Kala
Modot yang melotot padanya.
“Hei, rambut api, kau ditanya dengar tidak?” teriak
Tantri kurang ajar. Rambut Wirot memang kemerah-
merahan.
“Tantri!” cegah Tari.
Tapi Wirot juga tak memperhatikan Tantri.
“Buyut Wirak tak bisa menemui siapa pun,” katanya
kemudian. “Sarika sedang bersiap untuk menghadap
Akuwu.”
Tari tertegun. Belum pernah sambutan terhadapnya
begitu dingin. Tapi Tantri telah menyabut, “Kebetulan
kalau buyut itu pergi. Kita hanya mau pinjam tempat-
nya kok, untuk menyiksa orang ini!”
“Kalau begitu, silakan melanjutkan perjalanan,” kata
Wirot.
“Kurang ajar!” bentak Tantri. “Kau tak kenal para
orang besar dari Rahtawu ya? Tadi si gandarwa Kala
Modot ini menghadang kami dengan empat puluh dela-
pan orang pengikut. Toh sarika berdua ini sanggup
menghancurkan mereka, dan bahkan menawan pemim-
pinnya! Hayo. Apa kalian bisa menirukan kemampuan
itu? Tak mungkin, kan? Nah, kalau kau melarang, apa
sulitnya sih merobohkan rumah ini!”
Wajah Wirot makin muram. Ia merenungi kaki Ane-
ngah yang terjuntai dari kuda. Hampir menggumam ia
berkata, “Para murid Rahtawu memang sangat kami
hormati, tetapi janganlah menyulitkan kami yang kecil
ini. Kami silakan melanjutkan perjalanan.”
“Gila! Itukah keputusan buyut -mu yang tak keruan
rupanya itu?” teriak Tantri. “Wah ini keterlaluan.
BUYUT WIRAAAAK!” tiba-tiba Tantri berteriak keras se-
kali. “BUYUT WIRAAAK! KELUAR KAUUU!”
“Tantri!” Tari berseru terkejut, bahkan langsung me-
narik anak itu turun dari kudanya. “Kau gila! Jangan
begitu tidak sopan!”
Tetapi Tantri tak peduli. Ia masih berteriak, “BUYUT
WIRAAAK! DESAMU INI BUKAN KUDADU, TAK SULIT
BAGI KAMI UNTUK MERATAKANNYA DENGAN TANAH!”
“Oh, maafkan kami, Paman Wirot,” gugup Tari me-
nyusun tangan menghadap Wirot. “Ampuni kesalahan
saudara kecil ini, Paman....”
“Tidak, dia benar, ini bukan Kudadu, tapi kami wajib
memberi perlindungan bagi siapa pun yang memerlu-
kannya,” tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah.
Dan di pintu berdiri Buyut Wirak, seorang tua yang ma-
sih gagah dan tegap.
“Mereka betul-betul membawa Kala Modot, Buyut,”
kata Wirot.
“Yang sudah terjadi, terjadilah. Suruh anak buahmu
memperkuat penjagaan desa, Wirot. Suruh semua orang
berada di dalam desa sebelum matahari terbenam. Ke-
mudian kau masuk ke dalam untuk berbicara dengan
tuan-tuan ini....”
Bagian dalam rumah buyut itu luas. Dingin. Tinggi
langit-langitnya. Mereka duduk di lantai, masing-
masing menghadapi semangkuk minuman panas. Ane-
ngah masih harus bersandar ke tiang agung. Kala Mod-
ot diikat pada sebuah tiang dijaga oleh Tantri yang suka
menggodanya dengan, misalnya saja, mencabuti bulu di
bawah ketiaknya.
“Maafkan kami, murid-murid Rahtawu,” kata Buyut
Wirak. “Jika kami tidak terlalu bersahabat, maka itu ka-
rena kami mencoba melindungi penduduk desa ini.”
“Dalam hal apa, Buyut?” tanya Tari.
“Yang Tuan-tuan bawa ini adalah kepala perampok
yang terkenal di daerah ini. Terkenal jahatnya. Terkenal
kejamnya. Terkenal saktinya. Terkenal sangat banyak
anak buahnya. Aku tidak takut, tetapi penduduk sangat
ngeri memikirkan pembalasan yang akan dilakukan
anak buahnya pada desa ini. Kita tentunya maklum,
bukan?”
“Kami... tidak tahu siapa Kala Modot ini,” kata Ane-
ngah sambil meringis menahan sakit. “Kami ingin tahu.
Dia telah menutup pintu masuk ke Rahtawu. Bahkan
kami pun ingin dihalanginya. Kami... tentu saja... ingin
tahu kenapa....” Ia memandang pada Kala Modot.
“Jika Buyut takut pembalasan anak buah monyet
rambut berantakan ini, tenang sajalah.” Tantri mengilik-
ilik hidung Kala Modot dengan sebatang lidi. “Dedeng-
kotnya saja berhasil kami tawan kok... apalagi para ce-
cunguknya! Hei, Kala Modot. Kau mau mengaku kan
kini? Kau mungkin kebal, tapi kalau lidi ini kudorong
terus, teruus, teruuus ke dalam hidungmu... apa tidak
muncul di telinga?”
“Yang kupikirkan... Kala Modot memang perampok
besar. Tapi sampai dia berani menentang Rahtawu, ma-
ka mestinya ia punya tulang punggung sangat kuat,”
kata Buyut Wirak perlahan. Mata tuanya kemudian te-
rangkat. Dari bawah alisnya yang putih dan lebat hing-
ga hampir menutup mata ia memperhatikan Kala Mod-
ot. “Aku sudah tua. Apa pun balasanmu, Kala Modot,
aku tidak peduli. Aku hanya tak ingin desaku ini men-
dapat kesulitan. Kuharap kau bisa mengaku tanpa ha-
rus disiksa. Agar dendammu tak terlalu tertuju pada
desa ini. Agar sukmamu memperoleh jalan lurus dan
lapang.”
“Sudah! Jangan banyak bicara lagi. Biar aku yang
menanggung dosa jika si Kala Modot ini mendendam!”
Tantri mencengkeram leher Kala Modot dan bersiap un-
tuk menghunjamkan lidinya ke lubang hidung orang
itu.
“Tantri! Jangan!” cegah Tari.
Tapi Kala Modot telah menjerit keras, “Ampun! Ja-
ngan! Ampun!” Dan ia menangis tersedu-sedu ketika
Tantri melepaskan cengkeramannya. Betul-betul mena-
ngis dengan air mata bercucuran!
“Hi hi hi... kau cengeng juga ya?” ejek Tantri. “Hayo,
sekarang ngaku!” Main-main Tantri melecutkan lidinya
pada leher Kala Modot. Sekali lagi Kala Modot menjerit
keras. “Jangan... jangaaan...” Ia sampai terengah-engah
ketakutan. Tantri berdiri. Berkacak pinggang. Terse-
nyum.
Saat itu hari telah gelap. Beberapa pembantu rumah
tangga telah menyalakan lampu-lampu biji-bijian. Lidah
api lampu itu bergoyang-goyang. Sinarnya kemerahan.
Dan itu membuat Tantri yang kini bertelanjang dada ba-
gaikan patung tembaga. Wajahnya tampak manis. Ma-
tanya bersinar nakal. Tari yang memperhatikan anak
itu mau tak mau merasa sedikit kagum. Ulah api lampu
membuat Tantri bagaikan patung Sri Kameswara waktu
muda. Matanya pun bagai memancarkan api. Berwiba-
wa. Kejam.
Agaknya Kala Modot juga merasakan hal itu. Ia tun-
duk. Wajahnya yang seram kini luruh dan kuyu.
“Aku akan bercerita,” katanya lemah.
“Terserah,” goda Tantri. “Asal jangan cerita tentang
Binatang Yang Lima saja.” Ia tertawa membicarakan se-
buah dongeng yang sering diceritakan para ibu kepada
anak-anak menjelang tidur. “Dan ingat, kalau kau ber-
dusta sedikiiiit saja, lidiku ini akan tahu.”
Kala Modot menghela napas panjang. Kemudian ia
mulai bercerita.
Beberapa bulan yang lalu, hidupnya begitu tenang.
Tenang dalam dunianya, tentu. Penuh hiruk-pikuk pe-
rampokan, penuh hura-hura kenikmatan merasakan
hasil rampokan, gegap-gempita dengan pertarungan-
pertarungan yang baginya begitu memuaskan.
Kemudian ia mendengar sahabat karibnya, Begal
Singandaka dari Gunung Lejar mendapat musibah. Sa-
rang Singandaka telah diobrak-abrik oleh sepasukan
bhayangkara dari Daha. Bahkan istrinya, Ken Lum-
bang, ditawan oleh pasukan tersebut untuk dibawa ke
kotaraja. Kala Modot langsung mengerahkan anak
buahnya mengejar. Dalam gerebekan di tepi Bengawan,
Kala Modot berhasil merebut kembali Ken Lumbang.
“Huh, apa susahnya sih mengalahkan pasukan
bhayangkara dari Daha? Jangan kau begitu bangga!”
tukas Tantri menendang paha Kala Modot. Kembali Kala
Modot menjerit kesakitan. “Aku yakin dengan satu tan-
gan terikat pun Kak Tari sanggup menghancurkan se-
puluh pasukan. Jangan kata hanya satu! Jadi tidak
usah bangga ya!” bentaknya.
“Ba... baik... baik...,” kata Kala Modot setengah me-
ngeluh.
Ken Lumbang dan dua orang pengikutnya segera di-
larikannya ke Selagung. Salah seorang pengikut Ken
Lumbang itu selalu berkerudung penutup muka. Dan
baru kemudian Kala Modot tahu bahwa sesungguhnya
Ken Lumbang juga tak kenal wanita yang tak tampak
mukanya itu. Menurut Ken Lumbang, suaminyalah
yang membawa wanita tersebut. Dianggapnya sebagai
rampasan saja. Hanya... sering kali wanita itu tak mau
melakukan tugasnya sebagai budak.
Tapi saat itu keanehan tersebut tak terpikirkan oleh
Kala Modot. Ia begitu gembira bisa selalu dekat dengan
Ken Lumbang. Dan agaknya Ken Lumbang pun memba-
las perasaan hatinya.
“Dasar binatang terendah martabatmu!” dengus Tan-
tri.
Istri Kala Modot sendiri, Ken Hangi, tentu saja me-
rasa tak senang. Tapi Kala Modot tak peduli. Ken Lum-
bang begitu cantik dan begitu pandai memuaskan ha-
tinya. Sampai suatu malam...
Ken Hangi memergoki Kala Modot sedang berme-
sraan dengan Ken Lumbang. Ken Hangi meluap dan
menyerang Ken Lumbang. Kala Modot tak tahan dan
menghajar Ken Hangi habis-habisan.
Ken Hangi malam itu lari dari Selagung. Dengan an-
caman akan membalas dendam. Kala Modot tak peduli.
Ia tahu siapa Ken Hangi. Dan keluarganya. Ia juga ya-
kin akan ketenarannya sebagai tokoh berandal di Sela-
tan. Kepada siapa pun Ken Hangi minta bantuan, rasa-
nya Kala Modot akan bisa menyambutnya dengan ter-
tawa. Tapi akhirnya ia tidak tertawa. Ken Hangi tak be-
rapa lama datang lagi. Bersama wanita yang selalu me-
nutup muka itu. Diikuti seseorang yang bertubuh gen-
dut. Mula-mula Kala Modot juga masih tertawa. Kemu-
dian wanita asing itu membuka tutup mukanya. Kala
Modot terpesona. Wanita itu begitu cantik.
“Seperti bidadari?” sela Tari tak sengaja. Ia teringat
akan cerita Tara. Tapi tadi tempat itu begitu sunyi oleh
cerita Kala Modot hingga Tari sendiri terkejut oleh sua-
ranya. Kemalu-maluan ia memandang Anengah. Ter-
nyata Anengah juga sedang memandang padanya.
Agaknya Anengah pun berpikir serupa. Pastilah wanita
itu adalah wanita yang telah membawa pralaya di Rah-
tawu.
“Seperti bidadari,” kata Kala Modot lemah.
“Enak saja!” dengus Tantri. Dan sekali lagi leher Kala
Modot menjadi korban cambukan lidi anak itu. Tari
kembali heran. Orang segalak Kala Modot toh terpaksa
menjerit-jerit hanya karena cambukan sebatang lidi di
tangan seorang anak kecil! “Tak ada yang secantik bida-
dari kecuali Kak Tari! Ya toh? Ayo, jawab, iya nggak?”
Tantri mengacungkan lidinya.
“Iya! Iya!” jerit Kala Modot ketakutan. Tantri tertawa
terkekeh-kekeh. Kini Buyut Wirak juga memperhatikan
Tantri dari balik alis matanya yang putih dan gondrong
itu. Dan orang tua itu pun memandang Anengah. Tari
bisa melihat pertanyaan di mata tua itu. Betulkah Tan-
tri juga murid Rahtawu? Tampaknya kok terlalu... ku-
rang ajar.
Tari mencoba menghindari pandangan mata orang
tua itu. “Lalu?” akhirnya ia bertanya.
Kala Modot kemudian semakin tercengang. Si Gen-
dut yang tadinya dikiranya takkan lebih gesit dari see-
kor kerbau tambun itu ternyata sanggup membuat se-
mua anak buah Kala Modot tunggang-langgang. Bah-
kan Kala Modot pun ternyata tak sanggup berbuat apa
pun.
“Puih! Begitu kau berani melawan Kak Tari! Dengar,
Kek Buyut, dengan mata tertutup saja si Gendut itu
menggelinding ditangani Kak Tari! Apalagi dia ini!” kata
Tantri.
“Tantri!” desis Tari.
“Kenapa? Kan memang begitu tadi. Tanya saja si Ka-
la Modot ini. Iya kan, Dot?” Tantri tertawa pada Kala
Modot.
“Iya! Iya!” Kala Modot cepat-cepat mengangguk. Tan-
tri tersenyum puas.
Kala Modot melanjutkan ceritanya.
Para berandal Selagung mencoba mengeroyok kedua
orang itu. Dua puluh tiga orang. Mereka adalah para
dedengkot rampok yang bahkan ditakuti oleh pasukan
bhayangkara. Tapi mereka dipermainkan dengan mu-
dah oleh si Gendut dan wanita itu. Terutama wanita itu.
Senyumnya saja sudah sanggup untuk membuat orang
tertegun. Harum badannya membuat orang pusing. Dan
sambaran selendangnya bahkan dapat membuat pohon
roboh!
“Sudah! Jangan terlalu memuji! Bisa kupuntir kepa-
lamu agar kau hanya bisa memandang Kak Tari saja
seumur hidup!” tukas Tantri.
“Siapa namanya?” tanya Anengah lemah.
“Dia... dia tak menyebutkan namanya, tapi... tapi
wanita itu tanpa berkedip telah membunuh sembilan
belas orang anak buahku, dan sepak terjangnya kemu-
dian... Jika kau salah menoleh saja, jika ada sedikit saja
gerakanmu yang tak disukainya, maka ia akan lang-
sung mencabut nyawamu....” Kala Modot termenung.
“Ken Lumbang dipukul pecah kepalanya hanya karena
berani minum sebelum wanita itu minum! Padahal me-
reka berada di tempat yang sangat berjauhan!”
“He, kau menyesali kematian wanita itu?” tanya Tan-
tri.
“Tidak. Sekadar gambaran mengapa kemudian diam-
diam ia diberi julukan... Candika... Dewi Pencabut Nya-
wa!” Kala Modot menundukkan kepala.
Beberapa saat tempat itu sunyi. Tari yang tak tegaan
mengambil tempurung tempat air dan memberi minum
Kala Modot. Kala Modot melirik Tantri.
“Untuk apa lihat-lihat segala?” dengus Tantri. “Mau
menolak pemberian Kak Tari? Bisa kulubangi lehermu,
tahu?”
Tergopoh-gopoh Kala Modot minum air yang diso-
dorkan Tari ke mulutnya.
Kala Modot melanjutkan ceritanya.
Dewi Candika—nama itu kemudian menjadi sema-
cam nama rahasia yang dipakai oleh kalangan hitam —
ternyata tidak hanya menghukum Kala Modot untuk
perbuatannya pada Ken Hangi. Bahkan Ken Hangi pun
akhirnya tewas di tangannya. Maksud utamanya ter-
nyata adalah mengumpulkan semua jago-jago kalangan
hitam. Dan hanya yang betul-betul jago saja yang di-
kumpulkannya. Mereka yang dianggap lemah langsung
dihabisi.
“Si Gendut... siapa namanya?” tanya Tari. Ia teringat
pada peristiwa di Telaga Biru dulu. Mungkinkah si Gen-
dut ini sama orangnya dengan si Buruk Muka yang di-
temuinya di sana itu? Tari memalingkan muka. Me-
mandang ke luar. Dari Jendela terlihat di luar gelap.
Hanya agak jauh di sana, beberapa orang tampak mon-
dar-mandir dengan membawa obor. Dari sini pun terli-
hat bahwa orang-orang itu bersenjata. Sesuatu yang tak
biasa terjadi di desa Mirejo ini.
“Kami tak pernah tahu namanya,” kata Kala Modot.
“Mereka tak pernah berbicara. Hanya saling pandang
dan masing-masing tahu apa yang harus dilakukan.
Dan yang mereka lakukan biasanya sungguh mengeri-
kan,” Kala Modot berhenti sesaat. Dipandangnya Tari
yang kini semakin tertarik melihat ke luar jendela. “Aku
pun biasa membunuh tanpa berkedip. Tapi aku masih
pilih-pilih. Sarika tidak. Seakan-akan tak ada maksud
sama sekali. Asal ia ingin membunuh, dibunuhlah.”
“Lalu... apa hubungannya dengan Rahtawu?” tanya
Tari yang kini telah berdiri di depan jendela, membela-
kangi yang lain.
“Itulah. Semua gerombolan yang dikumpulkannya
diberi tugas satu. Kepung Gunung Rahtawu. Jangan
sampai ada yang berhasil lolos turun gunung dalam
keadaan hidup,” kata Kala Modot lemah.
“Dan kau mau saja menerima perintah gila seperti
itu?” tanya Tari dari jendela. “Kau toh tahu orang-orang
bagaimana yang tinggal di Rahtawu. Harta kami tak pu-
nya. Dendam rasanya tiada. Dan kau memusuhi kami?”
“Aku... kami terpaksa. Semua yang berada di bawah
kekuasaannya memiliki sesuatu kelemahan. Dan justru
kelemahan-kelemahan kami itulah yang dikuasainya.
Dan kami tak bisa berbuat apa-apa kecuali melakukan
apa perintahnya,” kata Kala Modot menunduk.
“Dan kelemahanmu apa, Kala Modot, hingga kau be-
rani memusuhi Rahtawu?” tanya Anengah.
“Awas!” tiba-tiba Tari berseru. Semua terkejut, tetapi
terlalu terkejut untuk bergerak. Tari sendiri menjatuh-
kan diri ke belakang dan berguling ke kiri.
Tari merasakan sambaran panas. Dan sebilah tom-
bak menancap di dada Kala Modot. Melesat menderu
lewat tempat tadi Tari berdiri.
5. PERJALANAN
TIBA-TIBA saja di situ telah berdiri seseorang. Seorang
wanita yang berpakaian pria dengan memakai jubah
berwarna biru laut yang mengkilap serta menutupi se-
luruh tubuhnya. Ikat kepalanya berkilauan terkena si-
nar kemerahan lampu yang ada. Wajahnya tak jelas. Te-
tapi dalam pandangan sekilas Tari melihat bahwa tak
mungkin orang ini yang dijuluki “bidadari” baik oleh
Tara ataupun Kala Modot. Wajahnya memang tidak bu-
ruk, tetapi jelas sudah tua.
“Kelemahannya adalah... ia terlalu sayang pada nya-
wanya,” kata orang itu serak. “Kalau nyawanya teran-
cam, maka ia akan lebih suka melakukan apa saja. Asal
ia selamat. Sekarang, ia terpaksa melepaskan apa yang
paling disayanginya itu. Seperti semua yang ada di sini.”
Matanya menyapu orang-orang yang ada. “Kalian semua
jelas harus mati. Kalian anak-anak Rahtawu, memang
sudah digariskan untuk hanya bernapas sampai saat
ini. Buyut Wirak, kau orang tua tak tahu diri. Berani
menerima orang yang jelas tidak kami sukai. Kau dan
semua penduduk desa ini, harus menanggung huku-
mannya.”
“He, aku bagaimana?” Tantri tertawa mendekat,
mengayun-ngayunkan lidinya. “Aku bukan orang Rah-
tawu. Juga bukan orang Mirejo. Nah, lalu apa salahku,
apa hukumanku, siapa pembelaku, siapa yang berani
menghukumku, dan bagaimana kalau aku lalu...” se-
mentara bicara dan tertawa serta mendekat tadi Tantri
seolah tak acuh mengeluarkan seruling yang selama ini
diselipkannya di pinggangnya, “...melarikan diri?” Dan
tiba-tiba saja Tantri mematahkan seruling itu menjadi
dua. Dari patahan seruling tadi terlontar dua butir bula-
tan putih, yang melesat cepat—sebutir terbanting mem-
bentur lantai, sebutir lagi melesat ke arah wanita tua
itu.
Tari yang saat itu masih terbaring di lantai tak sem-
pat menjerit. Terdengar ledakan keras saat butiran per-
tama membentur lantai. Asap tebal pun langsung meng-
gumpal. Tebal. Besar. Berkembang cepat. Butir yang
sebuah lagi telah ditampar oleh si wanita tua. Menyusul
ledakan kedua yang terjadi karenanya. Menggelegar.
Dan menyemburkan api.
Suatu bau yang menusuk hidung menyesakkan da-
da. Pandangan pun terhalang oleh asap yang tebal pe-
kat. Kegelapan yang ditingkah semburan api. Me-
nyambar dan mengobar.
Tari mencoba melompat berdiri. Seseorang tiba-tiba
memegang tangannya. Serta-merta Tari memutar tu-
buhnya untuk melancarkan tendangan Bantala Liwung-
nya. Tetapi orang itu agaknya mengenal sekali gerakan
tersebut, walaupun sama sekali tak terlihat.
“Ayo lari!” didengarnya seseorang berbisik tergesa-
gesa. Suara Tantri. Dan tangannya pun ditarik. Hampir
saja Tari memutar tangan serta membanting tangan
yang memegangnya. Tapi entah kenapa puntirannya
punah dengan sendirinya. Dan serasa tak bertenaga ia
melompat bersama Tantri. Keadaan begitu gelap, hingga
batang hidung sendiri pun tak terlihat. Dan bau asap
itu begitu tajam hingga Tari tak berani bernapas. Tapi
dengan mudah Tantri menemukan jendela itu. Sesaat
Tari ingin meronta melepaskan diri. Namun pegangan
tangan kecil Tantri begitu aneh. Tidak keras, tetapi juga
tidak mudah dilepas.
“Cepat,” bisik Tantri lagi, hanya terdengar suaranya
dan terasa pegangan tangannya. Sementara itu di bela-
kang terdengar jeritan dan makian. Hiruk-pikuk yang
semakin ramai karena beberapa belas orang berlompa-
tan. Agaknya mereka ingin masuk ke dalam, tapi karena
begitu gelap tak urung dinding dan tiang terhajar oleh
mereka. Dan barang-barang pun berantakan. Disusul
oleh api yang tiba-tiba berkobar merajalela. Tari sudah
melompati pagar rumah Buyut Wirak saat rumah besar
itu roboh.
“Kakang Anengah!” seru Tari sesaat waktu mereka
berdua bertengger di atas pagar yang dibuat dari tanah
kering.
“Jangan dipikirkan,” desis Tantri sambil terus me-
nyeret Tari. “Bahaya jika kita menunggu. Kakakmu kan
sudah cukup besar. Pasti ia bisa menolong dirinya sen-
diri. Kita yang kecil-kecil ini harus saling tolong. Dan
kalau merasa tak kuat, harus lari. Ayo!”
Tantri menariknya. Mau tak mau Tari pun terpaksa
ikut meloncat turun. Dan dirinya terus diseret berlari.
Desa itu kalang-kabut. Orang-orang berlarian. Besar-
kecil berhamburan. Semuanya saling teriak. Semuanya
menjerit-jerit. Di belakang mereka rumah Buyut Wirak
tampak berkobar. Api menggunung membesar. Suara
tong-tong pun membuat suasana makin mencekam.
Beberapa lelaki bersenjata meneriakkan perintah-pe-
rintah untuk mengatur orang-orang lain. Tapi terdengar
juga hardikan-hardikan keras. Dari sudut matanya Tari
melihat ada serombongan orang lagi muncul. Yang ini
membuat kacau suasana. Mereka bukan saja mengha-
langi orang-orang yang mencoba memadamkan api, te-
tapi juga malah secara membabi-buta menerjang orang-
orang Mirejo. Mereka pun tidak pilih-pilih. Asal ada
makhluk yang bisa bergerak, mereka labrak. Dan me-
mang bukan manusia saja yang kini berada di jalan-
jalan desa Mirejo. Ternak peliharaan juga ikut-ikut
membuat ramai. Ternak-ternak ini pun menyumbang-
kan suara-suara mereka yang hiruk-pikuk.
Tari ditarik Tantri berlari menjauhi jalan utama. Me-
reka memasuki lorong-lorong kecil dan gelap di antara
rumah-rumah. Beberapa kali Tantri harus mengguna-
kan si Galih untuk menyelamatkan diri dari benturan
melawan orang-orang yang datang dari depan. Tari sen-
diri sudah lupa akan tongkat itu. Rupanya Tantri sem-
pat menyambarnya dan kini menghantam siapa saja
yang mencoba mendekati mereka.
Ini tidak benar, pikir Tari sambil berlari. Mengapa ia
melabrak orang-orang desa ini? Mengapa ia lari tanpa
tahu mengapa? Lebih buruk lagi: mengapa ia lari me-
ninggalkan saudara seperguruannya dalam keadaan
bahaya?
Tari menghentikan langkah. Tantri yang beberapa
saat yang lalu telah melepaskan pegangannya untuk le-
bih leluasa membuka jalan di depan terpaksa berhenti
tiba-tiba di ujung sebuah gang.
“Ayo!” teriak Tantri, melompat ke kiri dan mera-
patkan diri ke sudut sebuah rumah untuk menghindar
dari sebuah keluarga yang menghambur masuk ke gang
itu.
“Tidak, aku harus menolong Kakang Anengah!” jerit
Tari dan berbalik serta mencoba berlari ke ujung gang.
“Tunggu!” teriak Tantri. Kakinya terulur. Dan Tari ja-
tuh tersungkur. Keras. Mukanya terbanting ke dalam
sebuah kubangan kecil berlumpur. “Maaf,” Tantri cepat
membangunkannya. “Jika kita kembali ke sana, kita tak
akan bisa kembali lagi ke mana pun!”
“Tapi aku harus menolongnya!” Tari mengibaskan
tangan Tantri, sambil mencoba mengusap lumpur yang
ada di mukanya.
“Itu tindakan sia-sia,” kata Tantri menghadang di
depan Tari. “Dan melakukan tindakan yang kau tahu
hasilnya sia-sia adalah... sia-sia!” kata Tantri lagi.
“Tapi aku harus tahu apa yang terjadi padanya,” ti-
ba-tiba ada suatu perasaan yang begitu mencekam. Ka-
lau terjadi sesuatu dengan Anengah, sesuatu yang...
yang... Tari tak berani memikirkan lebih lanjut. Mung-
kin ia dan Anengah saja yang selamat turun dari Rah-
tawu. Dan jika Anengah tiada...
“Aku harus melihatnya!” teriak Tari, langsung lari.
“Tunggu,” Tantri mencoba menghadang lagi. Tapi de-
ngan gerakan Sura-caya Tari berhasil menghindar ke ki-
ri. Tantri tidak gugup. Cepat ia menyodorkan si Galih ke
kanan, sementara tubuhnya melesat ke depan dan tan-
gannya terentang lebar. Tari tak menghentikan lang-
kahnya. Akibatnya Tantri harus menjerit keras. Lang-
kah kaki Tari secara tak sengaja telah membentur dada
Tantri. Tari melompat lagi ke depan, sementara Tantri
berputar untuk melenyapkan dampak benturan kaki
Tari tadi. Ia pun menjatuhkan diri dan tangannya ter-
ulur menyambar ujung kain Tari.
Tari terpaksa berhenti. Jika ia meneruskan langkah-
nya, akibatnya jelas. Tantri tak akan melepaskan ujung
kainnya. Dan pasti kain itu akan terenggut lepas dari
tubuh Tari. Dalam sesaat itu pertimbangan rasa malu
muncul secara wajar. Dan Tari berhenti. Yang membuat
ia heran adalah... bagaimana Tantri bisa mengulurkan
tangan pada saat yang tepat hingga sanggup menyam-
bar kain Tari? Pada galibnya gerakan Sura-caya tak ter-
duga dan tak bisa dihadang. Kecuali oleh seseorang de-
ngan kemampuan tinggi. Kini baru Tari sadar. Kemung-
kinan Tantri ini orang yang berkemampuan tinggi!
“Hei, jangan memandangku seperti itu!” kata Tantri,
dan memang, beberapa saat tadi Tari memandangnya
bagaikan baru kali itu ia melihat Tantri. Ia mengulurkan
tangan, menarik Tari ke pinggir agar terhindar dari tu-
brukan dengan orang-orang yang bagaikan mengalir di
gang itu.
“Aku... aku ingin tahu nasib Kakang Anengah,” kata
Tari lemah.
Sesaat Tantri tampak berpikir. Kira-kira begitulah.
Sebab tempat itu begitu gelap. “Baiklah,” akhirnya Tan-
tri berkata. “Ayo ikut aku.” Tantri berlari ke ujung gang.
Kini tanpa ditarik pun Tari mengikuti anak itu. Mereka
merambat di dinding-dinding rumah, menghindari o-
rang-orang yang berlarian lintang-pukang. Di jalan
utama terlihat suatu pertempuran kecil. Beberapa pria
desa bertarung melawan orang-orang yang tampaknya
memang ahli bertarung. Senjata mereka sekali-sekali
tampak berkilau di sinar api yang kini telah melahap
dua buah rumah di samping rumah Buyut Wirak. Se-
saat Tari berhenti.
“Kita tak bisa membantu mereka,” kata Tantri. “Ayo!”
Tantri melompat ke beranda sebuah rumah. Berdiri
di pagar beranda itu. Dan melompat ke atap. Tari me-
nyusulnya. Mereka berlompatan dari atap ke atap. Atap-
atap ijuk itu sering membuat Tari hampir terjerumus.
Tetapi ia lebih memperhatikan gerakan-gerakan Tantri.
Dengan mengingat cerita Bibi Madraka, mungkin ia bisa
mengira-ngira apakah Tantri memang orang yang ber-
kemampuan tinggi.
Tetapi ia tak melihat hal yang luar biasa dari gerakan
Tantri. Gerakannya bahkan mirip gerakan orang yang
tidak menguasai tata gerak kewiraan. Beberapa kali
tampak ia terpeleset. Beberapa kali hampir terjerumus.
Beberapa kali lompatannya ke atap rumah yang lain
hampir tidak sampai.
Tantri mendekam di puncak atap rumah di seberang
rumah Buyut Wirak. Tari pun berjongkok di sebelahnya.
Ia harus berusaha keras menindih perasaannya.
Halaman rumah Buyut Wirak terang-benderang. Be-
lasan orang mencoba memadamkan api. Beberapa
orang lagi mencoba menghalangi mereka yang ingin
memadamkan api. Dan orang-orang ini, walaupun pen-
duduk desa, agaknya tahu apa yang mereka lakukan.
Kelompok pendatang agak kesulitan menghadapi me-
reka.
“Mereka takkan bertahan lama,” bisik Tantri. “Tapi
lumayan juga anak buah Wirot itu. Yang mereka hadapi
adalah gerombolan perampok-perampok dari Hutan
Kumbina.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Tari, matanya nyalang
mencari-cari kalau-kalau terlihat Anengah. Ada suatu
rasa sakit dalam perutnya. Memikirkan apa yang terja-
di, apa yang mungkin terjadi dengan Anengah.
“Itu Ula Bandotan,” kata Tantri, menunjuk pada seo-
rang lelaki bertubuh pendek yang dengan gesit menahas
siapa saja yang berada di dekatnya. Dia pimpinan para
perampok di hutan itu.
“Dan orang berbaju biru itu? Siapa dia?”
“Wuah! Dia berita buruk! Aku kenal dia... lebih baik
lari saja kalau kau seorang lelaki. Dewasa ataupun
anak kecil baginya sama saja. Asal lelaki dan dia suka...
hhh... Dia tak akan mau melepaskanmu!” Tantri tak te-
rasa memperendah suaranya.
“Kau takut padanya?”
“Tentu! Kaukira aku ini apa, huh? Mana aku berani
menghadapi orang sesakti dia... aku toh bukan murid
Rahtawu!”
Tari melirik Tantri. Apakah anak ini mengejek?
“Aku harus turun. Aku harus tahu nasib Kakang
Anengah,” kata Tari.
“Celaka!” tiba-tiba Tantri mengeluh. “Ilmu pendenga-
rannya sungguh tajam!”
“Apa?” bisik Tari.
Tantri tidak menjawab. Tari pun lupa menunggu ja-
waban. Di bawah sana terjadi sesuatu.
Dari balik kepulan asap, Tari melihat tiba-tiba saja
muncul cahaya kebiru-biruan di beranda rumah Buyut
Wirak yang seluruhnya sudah diliputi api itu. Si Jubah
Biru muncul!
Berdiri tegak. Tak peduli. Si Jubah Biru seolah me-
mandang ke arah mereka yang bersembunyi di atas
atap. Jubah birunya melambai-lambai mengikuti koba-
ran api di sekelilingnya. Bagaikan kena angin. Birunya
kemilau bermain di cahaya kobaran api yang merah-
kuning. Dan baik si jubah maupun pemiliknya sama
sekali tak terganggu oleh api. Ada hal lain yang lebih
menarik perhatian Tari. Orang itu menyeret seseorang—
Anengah!
Ya. Anengah. Dari kejauhan memang tampak kain
Anengah terbakar di sana-sini. Juga terlihat luka bakar
di tubuhnya. Tapi jelas pemuda itu masih hidup. Dan
masih bersemangat. Sekilas terlihat betapa Anengah
mencoba melancarkan salah satu pukulan melengkung
Bantala Liwung ke arah pinggang si Jubah Biru. Tapi je-
las Anengah tak memiliki kuda-kuda yang kuat sebagai
landasan. Dan dalam keadaan seperti itu tak mungkin
ia bisa mengerahkan tenaga. Si Jubah Biru menoleh
pun tidak.
“Kakang Anengah!” tak terasa Tari berdesis.
“Jangan!” Tantri tergesa mencegah. Tapi terlambat.
Bahkan dari jarak sejauh itu, dari balik kepulan asap
dan di tengah hiruk-pikuk memekakkan telinga itu si
Jubah Biru kini seakan tahu lebih persis lagi dari mana
asal bisikan tadi. Dan ia tertawa. Suaranya serasa pe-
cah. Serak. Tidak keras namun terdengar jelas.
“He he he... agaknya kau masih di situ, anak manis?”
katanya serak, melemparkan Anengah kepada salah
seorang anak buahnya dan turun ke halaman. Berjalan
perlahan ke arah rumah tempat Tari dan Tantri ber-
sembunyi di atapnya. “Jangan-jangan kau memang
sayang padaku, anak manis, walaupun kau berulang
kali lari dariku. Kau tadi sudah kuberi kesempatan un-
tuk lari... eh, masih juga kau kembali. Sekarang... yah,
apa boleh buat... tak bisa aku berbuat pura-pura tak
kenal padamu, anak manis!”
Tantri menepuk punggung Tari, dan mendahului me-
loncat turun ke bagian belakang rumah. Tari heran, tapi
ia segera menyusul.
Tantri begitu bersungguh-sungguh. Dan ketakutan.
Ia menggamit Tari untuk bersembunyi di balik tumpu-
kan kayu kering di kandang. “Dengar baik-baik. Kita
harus berpisah,” bisik Tantri. “Aku yakin aku akan ber-
hasil ditangkapnya. Aku tak ingin kau ikut tertangkap
bersamaku. Tapi aku pasti lolos. Kau pergilah ke arah
barat. Mungkin sebelum mencapai Kotaraja, aku akan
berhasil menyusulmu. Kalau tidak, teruslah ke Kapan-
jian. Dekat Desa Pakisaji ada sebatang pohon beringin
putih. Tunggu aku di sana. Jangan khawatir tentang
Kakang Anengah. Aku akan menolongnya. Pergilah ce-
pat!”
Tiba-tiba Tantri mengulurkan tangan. Ujung jarinya
seolah tak sengaja menyinggung sebuah titik di ping-
gang kiri Tari. Terasa suatu getaran yang tajam dan me-
nyengat. Mau tak mau Tari terpaksa meloncat. Meloncat
dengan sepenuh tenaga!
Bahkan sebelum Tari menyentuh tanah kembali, ter-
dengar suara gedubrakan hebat. Rumah yang tadi me-
reka naiki terguncang hebat. Bagian depan rumah itu
roboh berantakan! Dan di antara ributnya suara gemu-
ruh rumah rubuh itu suara serak tadi terdengar jelas,
“Hei, anak manis, kau masih ingin main sembunyi-
sembunyian?”
“Aku di sini, Betari!” Tantri berteriak meloncat me-
ninggalkan kandang dan menghantam sudut belakang
rumah itu. Dengan suara gemuruh robohlah rumah ter-
sebut. Tari tak sempat berpikir lagi. Ia jatuh di luar pa-
gar, dekat sebuah lumbung. Belum kokoh berdirinya,
tiga orang lelaki bersenjata berloncatan menerjang. Ge-
lap memang, tapi Tari bisa melihat bahwa salah seorang
di antaranya adalah orang yang tadi ditunjukkan Tantri
sebagai si Ula Bandotan. Dalam gelap senjata rantai be-
si hitamnya tak terlihat. Tetapi Tari mendengar desir
senjata itu lebih dahulu dari desir pedang dan tombak
yang tertuju juga padanya. Tari menekuk kaki kiri. Ba-
dannya melengkung dan berputar. Tangan kanan cepat
menabas sementara tangan kiri turun untuk bersiap-
siap menjadi tumpuan. Jurus ke-11 Bantala Liwung ini
memang ampuh untuk kepungan dari tiga penjuru. Ula
Bandotan cekatan menggulingkan diri ke kiri dan ke be-
lakang. Tak urung kaki kanan Tari berhasil mengganjal
lompatan mundur Ula Bandotan hingga benggolan pe-
rampok itu sesaat agak terhuyung berdirinya. Saat yang
hanya sekejapan mata itu digunakan Tari untuk memu-
tar dirinya bagaikan baling-baling. Kini dada Ula Bando-
tan terkena dengan telak. Kedua temannya lebih dahulu
telah tersungkur dan terpental menubruk tiang kan-
dang. Tangan kiri Tari yang menyangga tubuhnya kini
telah melancarkan sambaran langsung. Tinju kecilnya
berhasil membuat tombak lawan yang diangkat untuk
menangkis patah menjadi dua. Tangan kanannya me-
nyambar ujung tombak yang langsung digunakannya
untuk menyerang Ula Bandotan. Ula Bandotan gesit se-
kali berputar-putar dekat tanah. Namun gerakan dara
Rahtawu ini lebih cepat. Sekali tombak yang sangat
pendek di tangan Tari berhasil mengikat rantai Ula
Bandotan. Sesaat Ula Bandotan menyeringai riang di
kegelapan. Anak tak tahu diuntung ini ingin mengadu
tenaga dengannya? Boleh coba!
Namun Ula Bandotan terkejut. Ternyata Tari tidak
mengadu kekuatan, tetapi malah meminjam tenaga Ula
Bandotan! Tubuh kecil Tari bagaikan terbang melewati
kepala Ula Bandotan dan melesat ke atas kandang. De-
ngan kegemasan luar biasa dari atas kandang Tari
membantingkan tombak buntungnya pada Ula Bando-
tan yang masih bergulingan di tanah.
“Ampun!” terkesiap Ula Bandotan. Rasanya takkan
mungkin ia menghindari serangan itu. Tapi ia biasa
berpikir cepat. Kakinya menendang. Temannya yang se-
dang mendekat untuk mengejar Tari terbanting. Tepat
menerima ujung tombak yang dilemparkan Tari.
***
Hari pasaran di Angkusa. Tari duduk di bawah sebatang
pohon di pinggir pasar. Ramai sekali pasar itu. Para pe-
tani dari daerah sekitar kota kecil tersebut seakan tum-
pah ke sana. Membawa apa saja yang mereka anggap
bisa dijual. Hasil pertanian. Hasil peternakan. Hasil ke-
rajinan. Ah, alangkah senangnya kalau ia masih berada
bersama saudara-saudara seperguruannya.
Tari sangat rindu pada mereka. Tari sangat rindu
pada gurunya, Bibi Madraka. Bibi Madraka selalu keras
dalam mengajar. Tetapi dalam perjalanan maka ia sa-
ngat berubah. Ia bagaikan seorang ibu yang sangat
memanjakan anak-anaknya. Tari dan lainnya selalu di-
biarkan berbuat apa saja. Dengan batasan: mereka ha-
rus bisa bertanggung jawab akan apa yang terjadi. Di-
am-diam Tari tersenyum. Ia ingat dulu, tepat di hari pa-
saran seperti ini, Lati yang bertubuh tinggi besar terta-
wa lucu melihat tingkah laku seekor anak kambing.
Seorang pemuda tani salah mengartikan tawa ini. Pe-
muda itu mengira Lati tertawa padanya. Dan ia tak mau
melepaskan Lati lagi. Mengikuti terus ke mana rom-
bongan Bibi Madraka itu pergi. Dengan tekun ia terus
mencoba menjalin hubungan dengan Lati, mengajaknya
bicara. Membelikannya makanan. Memberinya pakaian.
Mula-mula Lati memang senang juga mendapat perha-
tian begitu besar. Tapi kemudian ia menjadi sebal. Apa-
lagi saudara-saudara seperguruannya tak habis-
habisnya menggodanya. Apalagi karena Lati memang
tak menaruh perhatian pada pemuda itu. Apalagi si
pemuda makin lama makin mendesak. Mula-mula Lati
menolak secara halus. Kemudian menghardiknya. Bah-
kan akhirnya terpaksa memukulnya. Si pemuda tak pe-
duli. Terus mengikutinya hingga sampai ke Kambang
Putih. Lati saat itu sudah sangat putus asa. Semua sau-
dara seperguruannya tak mau membantu. Bibi Madraka
tak mau membantu. Bibi Sodrakara juga tak mau mem-
bantu. Akhirnya terpaksa Lati menegakan hatinya un-
tuk menipunya. Ia naik ke sebuah kapal layar di Kam-
bang Putih. Kapal itu akan berlayar ke Melayu. Dan di
tengah laut Lati terjun ke laut. Berenang semalaman
hingga mencapai daratan kembali. Untuk berenang se-
jauh itu memang Lati sanggup. Dan ia tahu si pemuda
tak bisa berenang.
Lati memang keji, tak terasa Tari tersenyum. Tapi
senyum itu langsung lenyap. Dan ia mengerutkan ke-
ning. Lati begitu berkepribadian. Sementara dia sendiri?
Tari menghela napas panjang. Apa yang telah dila-
kukannya beberapa hari terakhir ini? Perguruannya ter-
timpa bencana. Dan ia tak berbuat apa pun. Bahkan ia
tak tahu ke mana yang lain pergi. Bahkan ia merasa
menyayangkan seseorang yang sudah berat disangka
sebagai berkhianat pada perguruannya. Dalam hal ini
mungkin ia bisa dianggap benar, sebab Tara belum ter-
bukti bersalah. Tetapi kemudian... ia telah begitu saja
meninggalkan saudara seperguruannya dalam keadaan
menderita di tangan pihak yang bermusuhan... dia telah
percaya saja pada seseorang yang baru saja dikenal-
nya... ya bahkan orang itu adalah seorang anak. Ya.
Mengapa ia bahkan mengikuti permintaan Tantri sepe-
nuhnya? Tiga hari ini ia telah berjalan ke arah barat. Ti-
ga hari ini ia sesungguhnya melarikan diri. Tanpa ke-
luar pikiran untuk, misalnya, mencari berita tentang
Anengah. Atau mendengar-dengarkan kabar tentang
adanya orang-orang Rahtawu. Aneh juga. Sepanjang
perjalanan ia tak mendengar berita apa pun tentang
Rahtawu. Juga tidak tentang Candika. Hanya... ya. Ada
berita tentang kematian-kematian aneh di sana-sini.
Serta berita kejahatan yang meningkat. Bahkan selalu
kehadirannya di sebuah desa disambut dengan kecuri-
gaan. Untung juga bekal yang dibawanya cukup. Ia be-
lum perlu meminta derma seperti yang dilakukannya bi-
la mengadakan perjalanan dengan Bibi Madraka.
“Hai, anak manis, kanyu tentunya sedang memimpi-
kan betapa senangnya jika semua ternakm/u terjual ha-
bis, ya?” tiba-tiba sebuah suara menembus lamunan
Tari.
Tari tergagap sadar. Dan terkejut. Di depannya ber-
diri tiga orang lelaki. Seorang pemuda berwajah tampan,
berkulit kekuningan, dengan badan penuh perhiasan.
Dialah yang tadi bicara. Senyumnya masih terpaku di
bibir yang berkumis tipis itu. Dan matanya cemerlang
bersenyum nakal.
Agak di belakang si pemuda, berdiri dua orang yang
bertampang lucu. Seorang bertubuh bulat bundar. Mu-
kanya juga bundar. Matanya bundar terbuka lebar. Mu-
lutnya terbuka membentuk suatu kebundaran. Melongo
terus. Yang satu kurus tinggi. Segalanya kurus. Muka-
nya kurus, giginya menongol ke depan, bibirnya seakan
terus tersenyum.
“Ah, Raden, memang cukup manis, tetapi anak ini
tampaknya begini tolol. Apakah Raden masih ingin ber-
cengkerama dengannya?” si Bulat tertawa terkekeh-
kekeh sambil terus memperhatikan wajah Tari.
“Bagi junjungan kita, yang penting kan bukan tolol-
nya, Yoni,” sahut si Kurus. “Malah semakin tolol, sema-
kin gembira, bukan, Raden? Hi hi hi hi....”
“Wuah, tapi kalau terlalu tolol ya kita juga yang jadi
korban, Lingga,” si Gendut makin membundarkan mu-
lutnya. “Harus jadi percobaan! Lagi pula ini pasti anak
petani bawang dari Ara Plasa. Waduh. Baunya sungguh
menusuk hidung!”
Ketiga orang itu tertawa. Tari terkesiap mendengar
nama panggilan kedua orang itu. Dan sikap si pemuda
juga terlalu... genit! Kalau ada Lati, mungkin pemuda
itu akan langsung kena tendang. Tapi Tari tak mau
mencari gara-gara. Diangkatnya buntalan bekalnya dan
ia berdiri. Tapi begitu ia berpaling, si pemuda melompat
ke depannya. Menghadang.
“Hei, mau ke mana, anak manis? Ikut aku saja ke
Tumenggungan. Ayo. Bawalah ternakmu. Kubeli semua-
nya!” kata si pemuda. “Ayolah!”
“Wah, ikut saja,” kata orang yang dipanggil Lingga.
“Tak sembarang orang bisa memperoleh anugerah ke-
nikmatan dari Tumenggungan lho!”
Tari tertegun. Lingga dan Yoni nampaknya ingin
menghalanginya melangkah dari situ. Ke mana pun.
Bersambung ke jilid 3.
Emoticon